Tiongkok dan Rusia Diam-Diam Bantu Iran! Menteri Perang AS Pete Hegseth Ungkap Informasi Mengejutkan dalam Sidang Dengar Pendapat Pentagon

erabaru.net
9 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia.com Menteri Perang Amerika Serikat, Pete Hegseth, pada Selasa (21/7/2026) menyatakan dalam sidang dengar pendapat di Senat bahwa Partai Komunis Tiongkok (PKT) dan Rusia, dalam tingkat yang berbeda, telah memberikan dukungan kepada Iran selama perang antara Amerika Serikat dan Iran. Sidang tersebut terutama membahas permintaan pemerintahan Presiden Donald Trump untuk menyetujui tambahan anggaran perang.

Di sisi lain, Menteri Pertanian AS Brooke Rollins juga mengungkapkan fakta mengejutkan bahwa perusahaan daging babi terbesar di Amerika Serikat ternyata dikendalikan oleh sebuah perusahaan asal Tiongkok.

“Saya berharap sebagian orang di ruangan ini benar-benar menyadari betapa besarnya arti sejarah dari tindakan yang sedang dilakukan Presiden Trump saat ini! Apakah kalian ingin kaum  radikal memiliki senjata nuklir dan mengancam seluruh dunia?” katanya. 

Hegseth menjelaskan bahwa Amerika Serikat memiliki berbagai cara untuk menghalangi musuh, namun rincian mengenai skala dan cakupan operasi tersebut merupakan informasi rahasia sehingga tidak dapat dipublikasikan.

Ia menambahkan : “Kami telah memindahkan hampir 500 juta barel minyak tepat di bawah pengawasan Iran, lalu menyimpannya di fasilitas bawah tanah.”

“Kami menjalankan operasi secara rahasia karena bertindak tanpa banyak publikasi jauh lebih efektif daripada mengumumkannya secara terbuka. Faktanya, kami telah mengendalikan situasi selama cukup lama.”

Dalam sidang tersebut, Hegseth menyatakan bahwa PKT dan Rusia sama-sama memberikan bantuan kepada Iran dengan berbagai cara selama konflik antara Amerika Serikat dan Iran.

Sebelumnya, sejumlah media mengutip informasi intelijen Amerika Serikat yang menyebutkan bahwa PKT sedang bersiap mengirim sistem pertahanan udara baru kepada Iran. Sementara itu, laporan intelijen lain menyebutkan bahwa Rusia pernah memberikan informasi mengenai lokasi dan pergerakan pasukan, kapal perang, serta pesawat militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah kepada Iran.

Ketua Kepala Staf Gabungan Angkatan Bersenjata Amerika Serikat, Jenderal Dan Caine, yang juga hadir dalam sidang tersebut, mengatakan bahwa Amerika Serikat saat ini menghadapi berbagai ancaman secara bersamaan di Timur Tengah, Eropa, dan kawasan Pasifik, mulai dari ancaman senjata nuklir, kekuatan militer konvensional hingga terorisme.

Caine menegaskan bahwa para lawan Amerika kini semakin memperkuat kerja sama berdasarkan kepentingan masing-masing, saling berbagi intelijen dan teknologi, serta memberikan tekanan kepada Amerika Serikat di berbagai bidang secara bersamaan.

Ia juga menekankan bahwa bentuk peperangan berkembang sangat cepat. Medan perang saat ini telah meluas dari bawah laut hingga ke luar angkasa dan dunia siber. Karena itu, militer AS harus siap bertempur di seluruh domain tersebut.

Sementara itu, Hegseth mengatakan bahwa meskipun Iran masih memiliki kemampuan militer tertentu, setelah serangan Amerika Serikat, kekuatan militer Iran telah turun ke tingkat terendah setidaknya dalam sepuluh tahun terakhir, bahkan mungkin sejak 47 tahun terakhir.

Menurutnya, keberhasilan serangan militer Amerika terhadap Iran juga menunjukkan pentingnya Kongres segera menyetujui tambahan anggaran pertahanan guna mendukung operasi militer selanjutnya.

Mengenai biaya perang, Hegseth menyebut konflik Amerika Serikat-Iran sejauh ini telah menghabiskan sekitar 37,5 miliar dolar AS, lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya.

Namun, ia menegaskan bahwa permintaan pemerintahan Trump untuk tambahan anggaran hampir 80 miliar dolar AS merupakan kebutuhan yang mendesak dan sangat penting. Tanpa dana tersebut, militer AS berisiko mengalami kekurangan persenjataan, amunisi, serta dukungan logistik.

“Saya duduk di hadapan komite ini. Kalian ingin membahas bagaimana memenangkan perang yang sudah berlangsung selama empat tahun, tetapi justru menyebut konflik yang hanya berlangsung empat bulan—yang bertujuan mencegah Iran memperoleh senjata nuklir—sebagai ‘kegagalan strategis’,” ujarnya. 

Saat ini, anggota Partai Republik mengajukan rancangan anggaran baru senilai sekitar 95 miliar dolar AS, yang mencakup:

Dalam sidang yang sama, Menteri Pertanian AS Brooke Rollins juga memperingatkan bahwa perusahaan daging babi terbesar di Amerika Serikat dimiliki oleh perusahaan asal Tiongkok. Selain itu, industri pengolahan daging, pupuk, dan benih semakin dikuasai oleh segelintir perusahaan besar, yang menurutnya menimbulkan risiko serius terhadap keamanan nasional.

“Saat ini, hampir 85% kapasitas pengolahan daging di Amerika Serikat hanya dikuasai oleh empat perusahaan, termasuk dua perusahaan asing. Selain itu, perusahaan daging babi terbesar di Amerika dimiliki oleh perusahaan asal Tiongkok,” ujarnya. 

“Empat perusahaan pupuk kini menguasai 78% produksi nasional, padahal beberapa dekade lalu masih ada puluhan perusahaan yang berproduksi,” katanya. 

“Sementara itu, dua perusahaan benih memproduksi lebih dari 50% benih yang digunakan di seluruh Amerika Serikat,” jelasnya. 

“Semua kondisi ini berkaitan langsung dengan isu keamanan nasional,” pungkasnya. 

Dilaporkan oleh Liu Jiajia, New Tang Dynasty Television, Amerika Serikat.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kontroversi Austria Ubah Rumah Kelahiran Hitler Jadi Kantor Polisi
• 12 jam laludetik.com
thumb
Membandingkan Rekam Jejak Pelatih Timnas Indonesia Vs Kamboja Jelang Bentrok di Piala AFF 2026: Momen Pembuktian John Herdman
• 9 jam lalubola.com
thumb
Garnacho Blak-blakan! Pilih Aston Villa demi Bangkitkan Kariernya
• 22 jam lalumedcom.id
thumb
BPDLH Perluas Target Proyek, Berpotensi Jadi Pengelola Dana EPR untuk Sampah
• 3 jam lalukatadata.co.id
thumb
Dude Harlino Serahkan Honor Rp5,25 Miliar kepada Bareskrim untuk Bantu Pemulihan Kerugian Korban PT DSI
• 14 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.