Perimenopause, Gejolak di Usia Paruh Baya

kompas.id
2 jam lalu
Cover Berita

Bagi banyak perempuan, memasuki usia 40 tahun adalah masa yang penuh gejolak. Bukan soal debar-debar asmara seperti yang mereka rasakan saat memasuki usia remaja, melainkan menghadapi perubahan fisik, mental, dan pikiran yang sering kali sulit dipahami. Inilah masa perimenopause, fase transisi menuju menopause dan babak baru menuju kehidupan yang lebih matang.

Memasuki usia paruh baya, tubuh pun ikut berubah. Untuk perempuan, ini bukan hanya soal munculnya tanda-tanda penuaan, seperti makin banyaknya kerutan di wajah, perut yang membuncit, atau rambut yang kian menipis. Di fase usia ini, perempuan umumnya akan mengalami perimenopause dengan banyak gejala yang kerap mengejutkan sekaligus membingungkan.

Tanda utama masa perimenopause adalah siklus bulanan menjadi tidak teratur. Jika dulu menstruasi rutin terjadi tiap bulan di waktu yang konstan, kini datangnya haid bisa maju atau mundur dari kebiasaan. Durasi menstruasi pun berubah, bisa lebih lama atau malah lebih singkat. Jumlah darah haid yang diproduksi pun bisa berubah, bertambah banyak atau justru berkurang.

Baca JugaKarena Perimenopause Ingin Dimengerti...

Sering kali, setelah periode menstruasi normal selesai, muncul flek atau bercak darah yang menimbulkan keraguan apakah darah itu masih termasuk dalam siklus menstruasi atau ada masalah kesehatan lain. Ketidakjelasan kapan waktu akhir menstruasi itu juga menimbulkan kerepotan dalam penggunaan pembalut serta mengurangi kenyamanan bagi muslimah untuk beribadah.

Selain perubahan siklus haid, orang yang mengalami perimenopause biasanya juga mengalami pegal-pegal yang sering kali tidak hilang dengan pijit atau spa. Mereka juga merasakan hot flashes, yaitu sensasi panas pada tubuh bagian atas mulai dari dada hingga kepala. Sebagian perempuan merasa serba salah dengan suhu, kegerahan walau ada di ruang berpendingan udara atau kedinginan meski sudah menggunakan baju hangat dan selimut.

Tak hanya itu, emosi pun ikut berubah. Mereka menjadi lebih sensitif terhadap segala sesuatu dan suasana hati pun menjadi lebih cepat berganti. Bahkan, sebagian orang rela menonton drama Korea atau drama China hingga berseri-seri demi bisa mengeluarkan air matanya meski mereka sering kali tidak tahu apa yang membuat mereka ingin menangis.

Tanda utama masa perimenopause adalah siklus bulanan menjadi tidak teratur.

”Orang-orang mengira kita menjadi lebih suka marah-marah, padahal kita merasa tidak sedang marah,” kata Direktur dan Pimpinan Eksekutif Tertinggi (CEO) Primaya Hospital Leona A Karnali saat membuka diskusi tentang perimenopause di Primaya Hospital Kelapa Gading, Jakarta, Sabtu (18/7/2026) lalu.

Lebih repot lagi, saat masa perimenopause tiba, sebagian perempuan akan mulai kehilangan kontrol terhadap kandung kemih sehingga lebih mudah mengalami kebocoran urine (bladder leakage) atau disebut juga inkontinensia urine alias beser. Bahkan, beberapa perempuan juga mengalami inkontinensia tinja alias cepirit.

Kebocoran urine itu sangat merepotkan bagi Susanna Anggraini, CEO dan Mitra Pendiri (Co-Founder) Yoona Women, perusahaan bidang kesehatan perempuan. ”Setiap suami mengeluarkan candaannya, saya sering merasa waswas karena khawatir akan mengalami bladder leakage. Padahal, candaan suami adalah sumber endorfin (hormon kebahagiaan) yang saya butuhkan,” katanya.

Baca JugaMenopause, Siapa Takut!

Inkontinensia urine itu juga sering terjadi saat berolahraga. Padahal, dia adalah penggemar berbagai jenis olahraga, mulai lari, besepeda, tenis, padel hingga olahraga kalistenik. Di masa perimenopause, hobi olahraganya itu juga memunculkan masalah baru karena tubuh menjadi mudah capek dan cedera.

Tak hanya itu, sejak memasuki usia 40 tahun, Susanna mengaku kulitnya menjadi lebih sensitif. Berbagai jenis alergi baru muncul, bukan jenis-jenis alergi yang sudah umum seperti alergi keringat atau debu. Selain itu, saat menstruasi datang, area vulva atau bagian luar organ intimnya menjadi lebih gatal walau masalah itu tidak pernah terjadi sebelumnya.

Hormon

Berbagai gejala yang muncul saat perimenopause itu membuat banyak perempuan hidup dengan stigma baru, yaitu lebay. Padahal, banyak perempuan berjuang dalam kebingungan menghadapai perubahan tubuhnya yang tiba-tiba terjadi.

Orang yang mengalami perimenopause biasanya juga mengalami pegal-pegal yang sering kali tidak hilang dengan pijit atau spa.

Dibanding isu kesehatan reproduksi lain, masa perimenopause sangat jarang dibicarakan, termasuk oleh sesama perempuan. Tidak hanya karena ditabukan, tetapi urusan perimenopause kerap dianggap kurang penting karena seolah-olah masalah kesehatan reproduksi perempuan terhenti saat hamil dan melahirkan. Perhatian utama perempuan paruh baya umumnya tertuju pada keluarga dan karier sehingga tubuh sendiri pun sering diabaikan.

”Perempuan harus mulai peduli dengan kesehatannya sendiri, termasuk saat memasuki masa perimenopause maupun menopause,” kata dokter spesialis obstetri dan ginekologi Primaya Hospital Kelapa Gading Martina Hutabarat.

Rendahnya kesadaran perempuan terhadap isu kesehatan reproduksi di usia paruh baya itu terlihat dari rendahnya kunjungan perempuan ke dokter. Apalagi jika tidak ada gejala yang mengganggu selama perimenopause dan menopause.

Perimenopause adalah masa transisi menuju menopause. Umumnya, masa perimenopause terjadi di usia 40-50 tahun. Namun pada beberapa orang, berbagai gejala perimenopause itu sudah bisa muncul di usia 35-40 tahun. Saat ini di Asia, usia rata-rata terjadinya perimenopause adalah 47,5 tahun dan menopause berlangsung di umur 51,3 tahun.

Baca JugaMenyiapkan Menopause Tanpa Panik

Jika perimenopause ditandai oleh haid yang tidak teratur, menopause ditunjukkan dengan tidak terjadinya menstruasi atau tidak ada sama sekali darah haid yang keluar selama 12 siklus alias 12 bulan berturut-turut. Terhentinya menstruasi secara permanen atau amenore itu terjadi akibat folikel ovarium sudah tidak berfungsi lagi.

Selama masa perimenopause itu, hormon estrogen akan turun drastis. Padahal, hormon ini terlibat dalam banyak pengaturan di sistem tubuh, bukan hanya sistem reproduksi. Pada perempuan, hormon estrogen turut menentukan kesehatan jantung, tulang, zat kimia otak, siklus tidur, hingga suasana hati. Akibatnya, ketidakseimbangan hormon itu memicu banyak masalah pada fisik, mental, dan kognitif perempuan.

”Perjalanan menuju menopause itu bagaikan rocky road (jalan berliku),” ujar Martina.

Perimenopause adalah transisi biologis yang super alami dan akan dialami semua perempuan.

Di sisi lain, gejala perimenopause bukan hanya munculnya hot flashes dan perubahan suasana hati karena tanda yang muncul ditentukan oleh banyak faktor eksternal maupun sistemik dari tubuh. Gejala perimenopause antara satu perempuan dan perempuan yang lain pun bisa tidak sama. Bahkan dari empat perempuan yang perimenopause, sebanyak satu orang tidak mengalami gejala apa pun, dua orang bergejala ringan, dan seorang lainnya menghadapi gejala berat.

”Dalam kasus berat, perimenopause bisa memicu terjadinya bunuh diri,” tambah Martina. Repotnya lagi, saking terabaikannya, sebagian gejala perimenopause yang muncul sering disalahartikan sebagai gejala stres biasa atau proses penuaan alamiah tubuh.

Karena itu, penting bagi setiap perempuan untuk melakukan pemeriksaan ke dokter obstetri dan ginekologi guna membantu menegakkan diagnosis klinis secara tepat. Dalam kondisi tertentu, dokter juga bisa meminta pemeriksaan laboratorium guna menunjang diagnosis, seperti pemeriksaan follicle-stimulating hormone (FSH) mengingat saat ovarium mulai melambat, otak akan menghasilkan lebih banyak FSH.  

Baca JugaAdakah ”Menopause” pada Laki-laki?
Inkontinensia

Penurunan hormon estrogen juga turut memicu terjadinya inkontinensia urine. Dokter spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi Primaya Hospital Kelapa Gading Gustiawaty Army mengatakan, rendahnya estrogen akan membuat otot dasar panggul melemah. Padahal, otot dasar panggul ini bekerja seperti ayunan yang menyangga tiga organ dalam panggul, yaitu kandung kemih, rahim, dan rektum alias bagian akhir usus besar yang menyimpan kotoran sebelum dibuang lewat anus.

Konsekuensinya, ketiga organ panggul pun turun atau mengalami prolaps organ panggul (POP). Masyarakat awam lebih mengenalnya sebagai turun peranakan. Namun, kondisi itu tidak hanya dipicu oleh kendurnya otot dasar panggul, tetapi juga disebabkan oleh tarikan gaya gravitasi. ”Sekitar 72,9 persen perempuan akan mengalami POP,” katanya.

Turunnya peranakan di masa perimenopause itu akan membuat sebagian perempuan mengalami inkontinensia urine, yaitu keluarnya urine tanpa disadari saat tertawa kencang atau batuk. Kondisi POP itu juga bisa memicu gangguan buang air besar berupa inkontinensia tinja dan memicu terjadinya vaginal flatus alias kentut dari lubang vagina akibat angin yang masuk dan terjebak di dalam vagina dan terdorong ke luar lagi.

Turunnya peranakan di masa perimenopause itu akan membuat sebagian perempuan mengalami inkontinensia urine, yaitu keluarnya urine tanpa disadari saat tertawa kencang atau batuk.

Selain itu, tambah Martina, perempuan yang mengalami perimenopause tetap bisa hamil. Selama darah haid masih keluar meski tidak teratur dan jumlahnya berkurang dibandingkan masa menstruasi normal, pelepasan sel telur masih akan terjadi. Kondisi itulah yang membuat beberapa perempuan berumur lebih dari 45 tahun masih hamil dan menempatkan mereka dalam kehamilan berisiko tinggi.

Perimenopause juga bisa berdampak pada kehidupan sosial perempuan, mulai dari pekerjaan, keluarga, hingga hubungan dengan pasangan atau suami. Perubahan suasana hati yang terjadi bisa turut mengubah cara pandang perempuan terhadap diri mereka maupun pasangannya. Karena itu, perceraian pada perempuan saat mengalami perimenopause cukup sering terjadi meski perkawinan mereka sudah berlangsung lama.

Sementara itu, hormon estrogen turut mengatur kadar serotonin dalam otak yang berfungsi untuk menumbuhkan perasaan tenang dan kesiapan untuk tidur. Rendahnya estrogen membuat banyak perempuan perimenopause mengalami gangguan tidur malam. Akibatnya, saat siang hari, suasana hati menjadi berantakan. Kondisi itu memperparah dampak dari gangguan suasana hati yang ditimbulkan langsung oleh turunnya estrogen.

Baca JugaMenstruasi di Luar Angkasa

Meski banyak perubahan yang terjadi pada tubuh perempuan dengan perimenopause, Gustiawaty mengatakan bahwa perimenopause adalah transisi biologis yang superalami dan akan dialami oleh semua perempuan. Perimenopause bukan penyakit dan banyak cara bisa dilakukan untuk mengatasi berbagai gejala dan gangguan yang muncul.

Karena itu, tidak perlu khawatir jika tubuh mengalami banyak perubahan saat usia perimenopause datang. Menerima dan berdamai dengan apa yang terjadi bisa mengurangi tekanan mental dan rasa sakit atas segala perubahan yang terjadi. Jika butuh bantuan, jangan ragu untuk memeriksakan diri ke profesional kesehatan. Jangan pula malu membangun percakapan dengan perempuan lain untuk berbagi pengetahuan, kisah, dan semangat dalam menghadapi perimenopause.

Cintai tubuhmu dan tentukan bahagiamu mulai dari sekarang.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pesan Pertama Wakil Jaksa Agung Usai Dilantik
• 6 jam laluliputan6.com
thumb
4 Drama Korea Terbaru ‘No Romance’ dengan Rating Tinggi di Netflix
• 2 jam lalubeautynesia.id
thumb
Iran Mencak-mencak ke AS Perkara Jual Minyak
• 12 jam laludetik.com
thumb
Kini Dikabarkan Merapat ke Klub Turki Besiktas, Apakah Mo Salah Tak Jadi Direkrut Al Nassr untuk Musim 2026/2027?
• 4 jam lalutvonenews.com
thumb
Sumur Mengering, 11 Kecamatan di Tasikmalaya Dilanda Krisis Air Bersih
• 20 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.