- Keterampilan apa saja yang harus dimiliki barista kelas dunia?
- Bagaimana cara mencetak barista kelas dunia?
- Mengapa kompetisi penting untuk membentuk barista juara?
- Bagaimana peluang Indonesia mencetak barista kelas dunia?
- Bagaimana tantangan barista Indonesia menuju panggung global?
Barista kelas dunia adalah barista yang memiliki kompetensi berstandar internasional atau mampu bersaing di kompetisi barista tingkat dunia. Barista tidak hanya harus menguasai teknik pembuatan kopi, seperti brewing (cara menyeduh kopi) dan latte art (seni menghias kopi), tetapi juga memiliki analisis cita rasa atau sensory.
Barista tingkat dunia bahkan dituntut memiliki pengetahuan tentang kopi dari hulu ke hilir, mampu berkomunikasi dengan pelanggan, hingga mahir bercerita atau storytelling tentang kopi. Berbagai keterampilan tersebut bakal diuji dalam kompetisi barista.
Dalam Starbucks Barista Championships (SBC) 2026 yang digelar di Jakarta pada Jumat-Minggu (17-19/7/2026), misalnya, para peserta diminta menyajikan racikan kopi terbaiknya melalui manual brew, latte art, dan signature beverages dalam waktu 20 menit. Tidak hanya itu, peserta juga harus bercerita tentang teknis hingga filosofis tentang kopi racikannya.
Pemenang dari SBC 2026 akan maju ke Regional Starbucks Championship, yakni kompetisi barista Starbucks tingkat Asia Pasifik di Manila, Filipina. Pemenang dari ajang ini selanjutnya akan bertanding di tingkat dunia. Format pengujiannya pun mencakup cara membuat kopi, termasuk minuman kreasi sendiri hingga cara bercerita.
Keterampilan barista dalam membuat kopi juga dapat dibuktikan dengan sertifikasi barista berstandar internasional. Salah satu lembaga yang menerbitkan sertifikat barista berskala global adalah Specialty Coffee Association (SCA) atau Asosiasi Kopi Spesial. Sertifikasi barista pun terbagi dalam beberapa tahap dan jenis.
Barista kelas dunia tidak lahir dalam semalam, tetapi melalui proses yang panjang. Barista kelas dunia dibentuk melalui pelatihan dan pendidikan berjenjang, pendampingan mentor, pengalaman melayani pelanggan, hingga terlibat dalam berbagai kompetisi barista tingkat nasional dan internasional.
Salah satu perusahaan yang fokus mengembangkan kompetensi barista adalah Starbucks. CEO Starbucks Indonesia Anthony McEvoy mengungkapkan, ketika seseorang bergabung dengan Starbucks, mereka diistilahkan sebagai green bean. Artinya, potensinya sudah ada, tetapi belum sepenuhnya berkembang.
Pelatihan untuk mengasah keterampilan dilakukan di ruang-ruang kelas hingga gerai simulasi. Biasanya, diperlukan waktu berkisar sembilan bulan hingga satu tahun sampai kemampuan mereka berkembang ke titik di mana mereka tidak lagi dinilai sebagai green bean.
Pada tahap itu, potensi mereka sebagai barista mulai benar-benar terlihat. Setelah itu, barista berkesempatan untuk menjadi coffee master. Untuk mencapai tingkat tersebut, mereka tidak hanya harus mahir membuat minuman, tetapi juga memahami teori di balik kopi. Setelah itu, barista dapat berkembang menjadi district coffee master atau coffee ambassador, dan selanjutnya menjadi specialist.
Pada level ini, mereka mendalami aspek teknis dan ilmiah mengenai kopi, seperti cara menciptakan minuman baru, memahami pengaruh tekanan mesin, suhu air, profil rasa, hingga detail lain yang memengaruhi hasil akhir secangkir kopi.
Kedai kopi Common Grounds juga turut berinvestasi untuk pengembangan keterampilan barista. Daryanto Witarsa, salah seorang pendiri Common Grounds, mengatakan, pihaknya mendatangkan sejumlah barista juara dunia untuk mendidik barista-barista di kedainya. Tahun 2024, salah satu baristanya, Mikael Jasin, meraih juara dunia World Barista Championship di ajang World of Coffee 2024 di Busan, Korea Selatan.
Kompetisi barista menjadi ajang untuk menguji keterampilan para barista. Dalam wadah inilah, para barista terpilih akan bertemu dan bertarung menyiapkan racikan terbaiknya. ”Bagaimana caranya agar barista bisa ke panggung dunia? Ya, salah satu jalurnya adalah dengan kompetisi,” ucap Ryan Wibawa, peraih peringkat ketiga penyeduh kopi terbaik dunia (World Brewers Cup 2024).
Chairman Specialty Coffee Association Indonesia (SCAI) Daryanto mengatakan, kompetisi barista merupakan ajang pembentukan karakter dan wadah untuk mengetahui potensi mereka sebagai pemimpin pada masa depan. Karakter barista yang sesungguhnya akan terlihat ketika mereka mempersiapkan diri untuk latihan kompetisi.
Sejumlah kedai kopi ternama rutin menggelar kompetisi bagi pra barista. Beberapa di antaranya, seperti Starbucks, bahkan memiliki kompetisi berjenjang dari tingkat toko, distrik, nasional, kawasan Asia Pasifik, hingga global. Di luar dari itu, asosiasi kopi, seperti SCAI juga mengadakan kompetisi untuk barista.
Sebagai produsen kopi terbesar keempat di dunia, Indonesia berpeluang menghasilkan barista kelas dunia. Fellicia Andrean, Head Judge SBC 2026 sekaligus Senior Manager Coffee dan Partner Engagement Starbucks Indonesia, mengatakan, kekayaan kopi Nusantara akan menambah pengetahuan dan pengalaman barista tentang perjalanan kopi dari hulu ke hilir.
”Kopi itu seperti kehidupan kita sehari-hari. Kita hidup di negara produsen kopi sehingga punya banyak cerita tentang kopi,” ucapnya.
Peluang lainnya adalah semakin menjamurnya kedai kopi dan tingginya minat konsumen pada kopi yang bercita rasa. Kondisi ini mendorong para barista meningkatkan keterampilannya. Isman Ramadhan, pengajar ABCD School of Coffee, mengatakan, sejak membuka sekolah kopi pada 2011, kelas tentang kopi yang ia buka selalu ramai meski berbayar. Umumnya, pemilik kedai (owner) yang ikut sekolah.
Kondisi ini berbeda dengan beberapa tahun sebelumnya. ”Dulu, sekitar tahun 2007, kalau ada kompetisi barista, penyelenggaranya yang keliling jemput bola. Sekarang, kalau ada kompetisi manual brew, enggak sampai 10 menit pendaftaran sudah penuh,” ujarnya.
Di sisi lain, semakin banyak barista asal Indonesia yang meraih prestasi di tingkat global. Selain Ryan Wibawa dan Mikael Jasin, ada juga nama-nama seperti George Wenno yang menjadi satu-satunya perwakilan Indonesia serta Asia dan Pasifik dalam Starbucks Global Barista Championship di Amerika Serikat 2025.
Meski memiliki sejumlah potensi, barista Indonesia juga menghadapi aneka tantangan untuk menuju panggung dunia. Salah satunya adalah masalah sertifikasi barista. Daryanto memperkirakan, saat ini hanya 1-2 persen barista di Indonesia yang mengantongi sertifikasi internasional. Namun, ia tidak menyebutkan jumlah total barista. Padahal, sertifikasi sangat penting dalam jenjang karier dan kompetensi barista.
SCAI terus mendorong program sertifikasi internasional, serta mendapatkan bantuan dari pemerintah agar sertifikasi bisa diberikan secara lebih massal dan mudah. “Sertifikasi menjadi dasar untuk menekuni profesi barista ataupun bekal menjadi wirausahawan,” katanya.
Menurut Isman, salah satu kendala barista untuk memiliki sertifikasi dan mengikuti pelatihan adalah tidak adanya sponsor sehingga mereka harus mengeluarkan biaya jutaan rupiah. Tantangan lainnya dalam mencetak barista kelas dunia, menurut dia, adalah mahalnya harga kopi dan terbatasnya stok kopi yang dibutuhkan.
Fellicia menilai, tantangan lainnya adalah kemampuan berbahasa Inggris para barista. Padahal, dalam kompetisi internasional, peserta wajib bercerita tentang kopi racikannya dalam bahasa Inggris. Namun, lanjutnya, kendala itu bisa diatasi dengan latihan.
Tantangan paling berat justru terletak pada bagaimana barista membagi waktu antara bekerja dan latihan. Kondisi ini cukup melelahkan bagi barista. Oleh karena itu, mereka perlu mendapat dukungan dari lingkungan kerjanya, misalnya, dengan memberikan izin untuk latihan hingga menyediakan mentor dan fasilitas latihan.





