Komunitas Entourage akhirnya buka suara setelah menuai sorotan terkait dugaan diskriminasi terhadap warga Indonesia dalam sejumlah aktivitas lari yang mereka selenggarakan di Bali.
Melalui pernyataan resminya, Entourage menyampaikan permintaan maaf kepada siapa pun yang merasa tersinggung atau dirugikan.
"Kami ingin menyampaikan permintaan maaf yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang merasa tersinggung atau terluka. Kami tidak pernah bermaksud bersikap tidak hormat ataupun melakukan diskriminasi terhadap siapa pun," kata Komunitas Entourage dalam pernyataan resminya, Jumat (24/7).
Entourage menjelaskan bahwa komunitas tersebut awalnya dibentuk sebagai wadah bagi para digital nomad di Bali agar dapat saling terhubung dan mengikuti berbagai kegiatan bersama selama berada di Pulau Dewata.
Menurut mereka, status sebagai digital nomad tidak ditentukan oleh kewarganegaraan.
"Komunitas kami beranggotakan orang-orang dari berbagai negara, termasuk Indonesia," ucapnya.
Mereka mengakui bahwa beberapa kegiatan memang terbuka dan gratis untuk umum, sementara kegiatan lainnya memiliki persyaratan peserta yang disesuaikan dengan tujuan acara. Sebagai contoh, ada kegiatan yang diperuntukkan khusus bagi digital nomad, sementara kegiatan lain seperti jalan santai perempuan dan lokakarya hanya ditujukan bagi peserta perempuan.
Entourage juga menyebut bahwa seluruh kegiatan lari mereka selama ini terbuka untuk semua orang tanpa memerlukan pendaftaran. Hanya saja, acara *Silent Disco Run* yang digelar pekan lalu menerapkan sistem tiket karena keterbatasan jumlah. Mereka mengeklaim peserta asal Indonesia menjadi kelompok terbesar dalam kegiatan tersebut.
"Dalam acara tersebut, peserta asal Indonesia merupakan kelompok terbesar, dengan hampir 25 persen dari total tiket yang terjual," katanya.
Kesalahan SistemMeski demikian, Entourage mengakui telah melakukan kesalahan dalam sistem persetujuan otomatis untuk grup WhatsApp dan sejumlah kegiatan non-lari.
"Saat berupaya menciptakan ruang bagi para digital nomad untuk saling bertemu, sistem tersebut justru menimbulkan bias sehingga sebagian, meski tidak semua, pengguna nomor telepon Indonesia (+62) ditolak secara keliru," jelasnya.
Entourage menegaskan tujuan mereka sejak awal adalah membangun komunitas yang inklusif dan memberikan kontribusi positif bagi Bali, termasuk melalui kerja sama rutin dengan pelaku usaha lokal dan kegiatan amal.
Sebagai bentuk tanggung jawab atas insiden tersebut, Entourage mengumumkan penghentian sementara seluruh kegiatan dan aktivitas komunitas.
"Kami memutuskan menghentikan sementara seluruh kegiatan dan aktivitas komunitas. Kami bertanggung jawab penuh atas apa yang telah terjadi dan berkomitmen melakukan perubahan nyata agar hal serupa tidak terulang di masa mendatang," ujarnya.
Sebelumnya, event lari di Bali yang melarang WNI untuk ikut berpartisipasi tengah disorot publik. Event tersebut digelar oleh Entourage Bali yang digawangi dua orang WNA asal Belanda.
Dalam keterangan Direktur Jenderal Imigrasi, Hendarsam Marantoko, termuat bahwa WNA itu teridentifikasi berinisial JAS (35), pemegang Izin Tinggal Terbatas (ITAS) untuk bekerja, dan berinisial HQV (37), pemegang ITAS Investor.
Dua WNA tersebut saat ini sudah tidak berada di Bali. Keduanya telah ke luar negeri pada Kamis (23/7) malam.
"Kedua WNA tersebut diketahui telah meninggalkan wilayah Indonesia pada Rabu, 23 Juli 2026 malam menggunakan maskapai KLM tujuan Singapura melalui Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai," kata Hendarsam, Jumat (24/7).
Karena dua WNA tersebut sudah pergi ke luar negeri, maka penindakan yang dilakukan oleh Imigrasi yakni penangkalan untuk masuk ke Indonesia.





