jpnn.com, DENPASAR - Pemerintah resmi mengubah paradigma program transmigrasi dari sekadar perpindahan penduduk menjadi instrumen pembangunan kawasan untuk menciptakan pusat pertumbuhan ekonomi baru dan membuka lapangan kerja luas.
Transformasi besar ini ditegaskan oleh Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara saat memimpin Apel Pegawai di Balai Pelatihan dan Pemberdayaan Masyarakat Transmigrasi Denpasar, Bali, pada Selasa (21/7/2026).
BACA JUGA: Dukung Kesejahteraan Warga, Kementrans Perkuat Pengembangan Kawasan Transmigrasi Barelang
Dalam arahannya, Menteri Iftitah meminta jajarannya membuktikan bahwa transmigrasi mampu menghasilkan karya nyata yang produktif.
Ia mendorong pengembangan potensi komoditas unggulan lokal, mulai dari sektor pertanian seperti kopi, kelapa, dan durian, hingga potensi di sektor pertambangan.
BACA JUGA: Hari Transmigrasi 2025: Morotai Tak Lagi Terpencil, Tetapi Strategis
"Buktikan bahwa transmigrasi itu berkarya nyata, bukan sekadar memindahkan orang. Libatkan kampus untuk berkolaborasi dan hadirkan investor melalui skema Build, Operate, Transfer (BOT) agar lahan-lahan ini menjadi produktif," ujar Iftitah.
Guna mewujudkan ekosistem tersebut, Kementerian Transmigrasi terus memacu kolaborasi multisektor yang melibatkan pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan investor.
BACA JUGA: Menteri Transmigrasi: Penerima Beasiswa Patriot menjadi Anggota Komcad
Melalui riset dan hilirisasi, komoditas di wilayah transmigrasi diharapkan memiliki nilai tambah tinggi untuk mendongkrak pendapatan warga setempat.
Menteri Iftitah menganalogikan strategi baru ini dengan prinsip menciptakan daya tarik wilayah agar masyarakat berpindah secara sukarela karena melihat potensi masa depan yang cerah.
“Kita tidak lagi sekadar memindahkan orang, tetapi menciptakan gula agar semut datang. Artinya, kita membangun kawasan yang didukung infrastruktur dasar yang memadai, seperti jalan, listrik, air bersih, internet, dan keamanan," jelasnya.
Mengakhiri pidatonya, ia juga mengajak seluruh aparatur sipil negara (ASN) di kementeriannya untuk ikut bertransformasi secara personal.
Menurutnya, perubahan organisasi yang berdampak besar bagi publik hanya bisa terwujud jika setiap individu bersedia mengubah etos kerjanya menjadi lebih rajin dan luar biasa.(ray/jpnn)
Redaktur & Reporter : Budianto Hutahaean




