SEMARANG, KOMPAS — Gramedia Jalma Pandanaran di Kota Semarang, Jawa Tengah resmi dibuka pada Jumat (24/7/2026). Toko buku yang telah bertransformasi itu diharapkan tidak hanya menjadi tempat jual-beli buku, tetapi juga menjadi ruang bertemu, membaca, menulis, mengekspresikan diri dan berdialog satu sama lain.
Sebenarnya, Gramedia Jalma Pandanaran telah dibuka untuk umum sejak soft opening pada Jumat (5/6/2026). Namun, toko buku itu baru dibuka secara resmi pada Jumat petang. Dalam kegiatan itu, ditampilkan pertunjukan wayang, gelar wicara, hingga pertunjukan musik dari Efek Rumah Kaca.
Di sela-sela kegiatan itu, pengunjung juga bisa mengikuti aktivitas interaktif, seperti curhat lalu dibuatkan puisi bersama Piknik Puisi dan pembacaan weton bersama Klinik Klenik. Selain itu, pengunjung juga diajak menikmati instalasi lanskap suara melalui kegiatan Mendengar Semarang.
Publishing and Education Director Gramedia Adhyaksa Ekatama menyebut, Gramedia Jalma Pandanaran dibangun dari berbagai macam cerita, budaya, dan gagasan. Tempat itu diharapkan bisa menjadi ruang tempat bertemunya banyak gagasan yang bisa membawa Indonesia ke depan lebih jauh.
"Gramedia Jalma Pandanaran ini tidak hanya jadi sekadar toko untuk bertransaksi, jual beli buku, tapi juga tempat orang-orang bisa bertemu, bisa membaca, bisa menulis, bisa mengekspresikan diri, dan bisa berdialog satu sama lain. Sehingga, setelah pulang dari sini bisa membawa cara pandang atau perspektif yang lebih luas tentang melihat hidup, tentang memaknai hidup, dan memaknai dunia," kata Adhyaksa.
Gramedia Jalma Pandaran adalah Gramedia Jalma yang kedua di Indonesia. Yang pertama adalah Gramedia Jalma Melawai di Jakarta.
New Retail Concept Manager Gramedia Jalma Immaculata Adhista mengatakan, pihaknya banyak belajar dari konsep Gramedia Jalma Melawai untuk diterapkan di Gramedia Jalma Pandanaran.
"Yang menjadi pembeda adalah lebih kepada bagaimana kami memberikan pengalamannya. Pastinya, itu tidak lepas dari bagaimana kami mempelajari ekosistem dan ritme yang berjalan di sini, mulai dari apa yang kami bahasakan di media sosial, lalu bagaimana kami membangun art of hospitality ketika mengadakan kolaborasi dengan para pegiat-pegiat kreatif di sini," ucap Adhista.
Untuk menghadirkan pengalaman lain, Gramedia Jalma Pandanaran juga disebut Adhista bakal berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk mengadakan berbagai kegiatan.
Salah satu kegiatan yang terselenggara lewat kolaborasi, yaitu Mendengar Semarang yang bekerja sama dengan perusahaan perlengkapan audio. Di samping itu, Gramedia Jalma Padanaran juga disebut Adhista, mengadakan sesi journaling, berkolaborasi dengan perusahaan penyedia alat tulis.
Dari segi arsitektur dan tata ruang, Gramedia Jalma Pandanaran didesain sebagai ruang untuk merawat literasi. Rahmat Indrani, arsitek dari SPOA Architecture yang mendesain Gramedia Jalma menyebut, pihaknya ingin menghadirkan pengalaman ruang yang menarik namun tetap menjadikan buku sebagai orientasi utama.
Rahmat mengatakan, rak-rak yang ada bukan lagi sekadar tempat berjualan buku atau barang-barang lain, tetapi sebuah bidang yang membentuk pengalaman ruang. Hal ini agar hubungan manusia dengan buku menjadi lebih nyaman.
"Jadi enggak lagi seperti Gramedia yang dulu, yang penuh dengan rak karena dulu jualan adalah orientasi utamanya. Tapi ini justru bagaimana hubungan manusia dengan buku justru lebih penting. Kami membuat labirin-labirin agar tercipta sebuah pengalaman ruang yang berbeda sehingga pengunjung bisa mengalami browsing experience yang menarik," ujar Rahmat.
Di tengah era digitalisasi, kebanyakan orang disebut Rahmat lebih banyak membaca buku dari gawai. Di Gramedia Jalma Pandanaran, pengalaman fisik ingin dihadirkan kembali.
Hal itu dilakukan dengan membuat desain ruangan yang memungkinkan pengunjung untuk berjalan mengitari ruangan dengan buku-buku dan menembus ruang-ruang lainnya sebelum menemukan tangga maupun lift.
"Ketika masuk ke dalam, pengunjung bisa melihat bagaimana orientasi utama dari Gramedia ini adalah buku. Bukan lagi mal, bukan lagi menjual printer, bukan lagi menjual peralatan-peralatan pendukung lainnya tapi buku, yang di yang dinilai oleh founding founder, yaitu Pak Jacob Oetama dan Pak PK Ojong sebagai cara merawat bangsa dengan melalui literasi," kata Rahmat.
Gramedia Jalma Pandanaran juga dilengkapi area bermain anak. Hal itu sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan area bermain anak yang nyaman. Dengan begitu, para orangtua punya alternatif selain mengajak anaknya ke area bermain anak di mal.
Selain bisa menyenangkan anak-anaknya dengan aneka permainan, para orangtua juga bisa sekaligus memperkenalkan buku kepada mereka. Hal itu dinilai Rahmat penting untuk menghidupkan wawasan mereka.
Tak hanya area bermain anak, di Gramedia Jalma Pandanaran juga dihadirkan Smiljan, kafe yang menjual aneka minuman dan kudupan yang bisa dinikmati pengunjung di sela-sela kegiatannya di toko buku itu. Para pengunjung juga bisa membaca, berinteraksi, hingga bekerja dari kafe itu.
"Ini juga bisa menjadi ruang jeda. Orang bisa datang ke sini sendirian ataupun bersama kerabatnya. Ini ruang yang bebas, orang bisa kerja, orang bisa membaca, bisa berkomunitas, dan yang paling penting adalah orang bisa menemukan dirinya sendiri," ucap Rahmat.
Manajer Gramedia Jalma Pandanaran, Chris Wahyu mengatakan, sejak dibuka pada awal Juni, jumlah pengunjung di toko buku itu membludak.
Di hari-hari biasa, pengunjungnya lebih dari 3.000 orang per hari. Sementara itu, di akhir pekan, jumlah pengunjungnya bisa mencapai 7.000 orang per hari.
Antusiasme pengunjung diperkirakan Chris timbul karena Gramedia Jalma Pandanaran berbeda dengan toko buku yang ada di Semarang. Toko buku itu, disebut lebih mengedepankan pengalaman, tidak sekadar berorientasi pada transaksi.
"Orang bisa menikmati apa saja di sini. Nah, masalah keputusan dia mau bertransaksi atau apa itu keputusan berikutnya. Jadi, yang penting pengalamannya," ujarnya.
Hadirnya Gramedia Jalma Pandanaran disambut baik oleh Tries Supardi dari Semarang Creative Consortium. Menurut dia, toko buku itu bakal menjadi ruang yang penting bagi para pelaku seni dan industri kreatif di Semarang.
"Ini menjadi salah satu ruang alternatif untuk teman-teman bisa berekspresi, menyalurkan gagasan, mengaktualisasikan banyak hal. Ruang ini penting untuk membangun percakapan-percakapan, bertukar ide, gagasan, dan membangun satu ruang imajinasi konkret yang akhirnya bisa membangun ekosistem seni kreatif di Semarang," kata Tries.
Tries menyebut, Gramedia Jalma Pandanaran sejak awal berkomitmen untuk menaungi dan mendorong para pelaku seni kreatif di Semarang untuk bisa unjuk gigi. Kesempatan itu, disebutnya tak akan dilewatkan oleh para pelaku seni kreatif yang selama ini dinilai Tries tidak punya cukup banyak ruang.
"Tak bisa dielakkan di Semarang itu juga butuh ruang-ruang alternatif untuk memberikan kesempatan bagi para pelaku seni untuk berekspresi, misalnya melalui musik, film, pertunjukan, maupun bentuk-bentuk kesenian yang lain, hari-hari ini sebetulnya memang tidak punya cukup banyak ruang di Semarang," ucap dia.





