jpnn.com, JAKARTA - Politikus PDI Perjuangan Mohamad Guntur Romli menilai berbahaya pernyataan Presiden RI Prabowo Subianto yang menyebut wartawan dan pengamat sebagai 'londo ireng'.
"Penggunaan istilah historis Londo Ireng oleh Presiden Prabowo terhadap wartawan dan pengamat merupakan taktik populisme klasik yang berbahaya bagi demokrasi," kata dia melalui layanan pesan, Jumat (24/7).
BACA JUGA: Prabowo Tuding Masih Ada Londo Ireng di Indonesia, Jadi Jurnalis, Pengamat, hingga LSM
Dia mengatakan pernyataan Prabowo secara simbolis mengarahkan anggapan bahwa penguasa sebagai patriot dan pihak yang kritis pengkhianat bangsa.
"Narasi ini sengaja membelah publik secara simplistis, penguasa sebagai patriot, sementara pilar kritis dicap sebagai pengkhianat penyokong asing," ujar Guntur Romli.
BACA JUGA: KAKI Minta Prabowo Lindungi Pelapor Kasus Dugaan Konsesi Tol Bermasalah
Dia mengatakan label Londo Ireng bukan sekadar retorika antikolonial semata, melainkan menggeser substansi kritik ke ranah emosional.
"Bentuk intimidasi simbolis untuk mendelegitimasi substansi kritik tanpa perlu membantah data," kata Guntur Romli.
BACA JUGA: Tegaskan tidak Antikritik, Prabowo: Kritik dengan Fitnah Itu Beda
Dia mengatakan elite politik diduga hendak melakukan penyimpangan terhadap akuntabilitas ketika menggeser substansi kritik ke ranah emosional dan nasionalisme sempit.
"Dalam demokrasi modern, ukuran patriotisme bukanlah kepatuhan buta kepada kekuasaan, melainkan keberanian pers dan intelektual untuk mengawasi serta meluruskan jalannya pemerintahan demi kepentingan publik," kata Guntur Romli.
Dia mengatakan langkah label ini pada akhirnya bisa meredam pengkritik setelah dicap sebagai Londo Ireng.
"Mereduksi fungsi watchdog sebagai bentuk pengkhianatan adalah langkah mundur yang mengancam kebebasan berpendapat," kata dia.
Sebelumnya, Presiden RI Prabowo Subianto menuding masih ada Londo Ireng di Indonesia yang sekarang memakai identitas sebagai jurnalis hingga LSM.
Londo Ireng sendiri adalah istilah dari bahasa Jawa (gabungan Londo yang berarti orang Belanda dan Ireng yang berarti hitam). Istilah ini diartikan sebagai orang Indonesia yang saat itu mengabdi terhadap Belanda atau bangsa lain.
Prabowo menyampaikan itu saat memberikan sambutan dalam Peringatan Hari Lahir ke-28 Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Jakarta Convention Center, pada Kamis (23/7) malam.
Mulanya, Prabowo menyebutkan bahwa ada media yang masih sering mencari-cari kesalahan pemerintah termasuk soal pembangunan sekolah.
“Ada juga media-media yang, walaupun sudah diperbaiki 67 ribu sekolah, dia cari sekolah yang belum diperbaiki, dia taruh di halaman pertama. Dia kira kami enggak ngerti,” ujar Prabowo.
Walau begitu, dia mengaku tak akan menyebutkan nama media yang dimaksud tersebut.
“Ini negara demokrasi, kami tidak antikritik, tetapi kita bukan anak kecil," ujarnya.
Dia menuding bahwa masih ada orang Indonesia yang senang mengabdi dan berbakti kepada bangsa lain.
“Itu yang dahulu disebut Londo Ireng, ya, yang ikut Belanda perang melawan kita. Londo-londo Ireng ini sampai sekarang masih ada. Hanya dia sekarang pakai baju lain. Wartawan, jurnalis, apa itu, pengamat, LSM,” tuturnya. (ast/jpnn)
Redaktur : M. Adil Syarif
Reporter : Aristo Setiawan




