Polemik Klub Lari di Bali Larang WNI Ikut Event

kumparan.com
7 jam lalu
Cover Berita

Komunitas lari di Canggu, Kabupaten Badung, Bali, disorot usai hanya memperbolehkan Warga Negara Asing (WNA) mengikuti kegiatan lari tersebut. Sementara itu, warga lokal yang ingin berpartisipasi ditolak atau tidak diperbolehkan.

Polemik ini ramai dibahas di media sosial dan viral karena dianggap tindakan komunitas itu rasis dan diskriminatif.

Seperti apa polemiknya? Berikut kumparan rangkum.

Polisi Selidiki

Menanggapi hal tersebut, Kabid Humas Polda Bali Kombes Pol Ariasandy mengatakan Polres Badung telah diterjunkan untuk melakukan penyelidikan terkait aktivitas komunitas tersebut.

"Iya, Polres Badung sementara turun untuk mengumpulkan barang bukti menindak persoalan itu juga," ujar Ariasandy kepada kumparan, Jumat (24/7).

Polisi akan meminta keterangan dari pemilik komunitas lari tersebut dan pihak-pihak yang berkaitan dengan aktivitas itu.

"Iya, semuanya yang berkaitan dengan yang tadi dikatakan ada diskriminasi dan segala macam itu. Apakah ada pelanggaran hukum apa tidak, kan gitu kita telusuri," jelas dia.

Namun, hingga saat ini, pihaknya belum menerima aduan atau laporan resmi dari masyarakat terkait aktivitas komunitas lari tersebut.

"Belum ada itu, sampai setahu saya, sampai sekarang belum ada," kata dia.

Acara Digelar Entourage Bali, 2 WNA Jadi Penyelenggara

Event tersebut ternyata digelar oleh Entourage Bali yang digawangi dua orang WNA asal Belanda.

Dalam keterangan Direktur Jenderal Imigrasi, Hendarsam Marantoko, termuat bahwa WNA itu teridentifikasi berinisial JAS (35), pemegang Izin Tinggal Terbatas (ITAS) untuk bekerja, dan berinisial HQV (37), pemegang ITAS Investor.

Dua WNA tersebut saat ini sudah tidak berada di Bali. Keduanya telah ke luar negeri pada Kamis (23/7) malam.

"Kedua WNA tersebut diketahui telah meninggalkan wilayah Indonesia pada Rabu, 23 Juli 2026 malam menggunakan maskapai KLM tujuan Singapura melalui Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai," kata Hendarsam.

Karena dua WNA tersebut sudah pergi ke luar negeri, maka penindakan yang dilakukan oleh Imigrasi yakni penangkalan untuk masuk ke Indonesia.

Di sisi lain, Kantor Imigrasi Ngurah Rai saat ini telah melakukan proses pemanggilan penjamin/sponsor dari kedua WNA tersebut, yaitu PT SIG.

2 WNA Penyelenggara Ditangkal Masuk RI

Imigrasi telah memasukkan dua WNA penyelenggara event lari di Bali yang larang WNI ikut berpartisipasi ke dalam daftar penangkalan.

"Saat ini, WNA terkait diketahui sudah berada di luar wilayah Indonesia dan Imigrasi telah menerapkan penangkalan kepada yang bersangkutan," kata Hendarsam dalam keterangannya.

Selain itu, Hendarsam juga sudah memerintahkan jajaran Imigraasi Bali untuk memeriksa event organizer-nya.

"Jika ada WNA, langsung tangkap,” tegas Hendarsam.

Imigrasi: WNA Tak Boleh Jadi Penyelenggara Acara di RI

Hendarsam menegaskan Warga Negara Asing (WNA) tidak diperbolehkan mengatur sebuah acara di Indonesia atau menjadi penyelenggara alias event organizer.

Hendarsam menyebut, orang asing hanya diizinkan untuk menjadi kru atau tim resmi (official) dalam suatu acara yang melibatkan performer atau artis internasional.

"Setiap perlindungan hukum dan pelayanan yang kami hadirkan bermuara pada prinsip Imigrasi untuk Rakyat, yang artinya kehadiran negara melalui fungsi keimigrasian harus senantiasa menjamin keadilan, ketertiban umum, serta kenyamanan masyarakat di dalam negeri dari segala bentuk perbuatan asing yang tidak patuh hukum," tuturnya.

Curhatan WN Inggris

Polemik klub lari WNA yang melarang warga lokal atau WNI mengikuti acaranya juga mendapat sorotan keras dari Josh Fothergill.

Josh merupakan Warga Negara Inggris sekaligus influencer yang memiliki nama panggung joshberlari.

Ia kerap membagikan aktivitas olahraganya termasuk olahraga lari yang digelutinya. Di akun instagram pribadinya joshberlari, ia menyayangkan diskriminasi yang dilakukan oleh komunitas lari tersebut.

"Ada klub lari di Bali yang melarang Indonesia untuk bergabung. Kita bikin video ini untuk speak up, karena sudah terlalu lama sebagai orang asing di Indonesia bikin club lari yang menguasai seluruh jalan bikin macet dan mendiskriminasi orang. Sudah waktunya kita membela orang orang Indonesia yang kita cintai," ucap Josh dalam video tersebut.

Kepada kumparan, Josh mengatakan video itu memang dibuat karena ia sudah lelah melihat turis asing datang ke Indonesia dan tidak menghormati warga lokal.

"Saya sudah lelah melihat sesama orang asing datang ke negeri ini dan tidak menghormati masyarakat lokal. Rasa frustrasi tersebut, ditambah dengan berbulan-bulan menyaksikan komunitas lari ini mengambil alih jalan umum dan menimbulkan kekacauan bagi warga sekitar," ujar Josh.

Ia menegaskan, tidak seharusnya komunitas lari tersebut melarang orang Indonesia mengikuti kegiatan mereka. Dan menurutnya sikap itu tidak bisa diterima.

"Tentu saja (diskriminatif), bagaimana bisa seseorang datang ke Indonesia dan merasa berhak membuat komunitas lari yang mendiskriminasi dan melarang orang Indonesia untuk bergabung? Itu sama sekali tidak bisa diterima," tegas dia.

Josh sendiri mengaku belum dan tidak mau untuk berbicara langsung dengan komunitas lari tersebut. Ia memilih untuk menjaga jarak dengan mereka.

Senator Bali Minta Polisi-Imigrasi Usut

Anggota DPD RI asal Bali, Ni Luh Djelantik, meminta kepolisian dan imigrasi menindaklanjuti dugaan kasus diskriminasi yang dilakukan oleh sebuah komunitas lari WNA bernama Entourage Bali yang menggelar event lari di Bali, namun melarang WNI untuk ikut.

"Kami meminta kepada pihak Imigrasi Bali dan juga Polda Bali agar dapat menindaklanjuti laporan kami terkait dengan dugaan diskriminasi oleh WNA-WNA dan juga kegiatan-kegiatan yang diduga tidak berizin," ujar Ni Luh melalui akun Instagram pribadinya. kumparan sudah meminta izin untuk mengutip pernyataan tersebut.

Ni Luh juga menegaskan tidak seharusnya komunitas lari tersebut menolak kepesertaan warga lokal atau WNI. Sebab, kegiatan itu digelar di Bali.

"Dan kepada para WNA ataupun foreigners yang tidak menerima keanggotaan warga negara Indonesia, kalian melakukannya di Bali, kalian melakukannya di Indonesia. Ini adalah tanah air kami. So, we're gonna keep an eye on you," tegas dia.

Selain itu, ia juga mengingatkan agar turis asing untuk tetap menghargai dan menghormati warga lokal atau Indonesia.

Klub Lari Minta Maaf

Komunitas Entourage akhirnya buka suara setelah menuai sorotan terkait dugaan diskriminasi terhadap warga Indonesia dalam sejumlah aktivitas lari yang mereka selenggarakan di Bali.

Melalui pernyataan resminya, Entourage menyampaikan permintaan maaf kepada siapa pun yang merasa tersinggung atau dirugikan.

"Kami ingin menyampaikan permintaan maaf yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang merasa tersinggung atau terluka. Kami tidak pernah bermaksud bersikap tidak hormat ataupun melakukan diskriminasi terhadap siapa pun," kata Komunitas Entourage dalam pernyataan resminya, Jumat (24/7).

Entourage menjelaskan bahwa komunitas tersebut awalnya dibentuk sebagai wadah bagi para digital nomad di Bali agar dapat saling terhubung dan mengikuti berbagai kegiatan bersama selama berada di Pulau Dewata.

Menurut mereka, status sebagai digital nomad tidak ditentukan oleh kewarganegaraan.

"Komunitas kami beranggotakan orang-orang dari berbagai negara, termasuk Indonesia," ucapnya.

Mereka mengakui bahwa beberapa kegiatan memang terbuka dan gratis untuk umum, sementara kegiatan lainnya memiliki persyaratan peserta yang disesuaikan dengan tujuan acara. Sebagai contoh, ada kegiatan yang diperuntukkan khusus bagi digital nomad, sementara kegiatan lain seperti jalan santai perempuan dan lokakarya hanya ditujukan bagi peserta perempuan.

Entourage juga menyebut bahwa seluruh kegiatan lari mereka selama ini terbuka untuk semua orang tanpa memerlukan pendaftaran. Hanya saja, acara *Silent Disco Run* yang digelar pekan lalu menerapkan sistem tiket karena keterbatasan jumlah. Mereka mengeklaim peserta asal Indonesia menjadi kelompok terbesar dalam kegiatan tersebut.

"Dalam acara tersebut, peserta asal Indonesia merupakan kelompok terbesar, dengan hampir 25 persen dari total tiket yang terjual," katanya.

Klaim Ada Kesalahan Sistem

Meski demikian, Entourage mengakui telah melakukan kesalahan dalam sistem persetujuan otomatis untuk grup WhatsApp dan sejumlah kegiatan non-lari.

"Saat berupaya menciptakan ruang bagi para digital nomad untuk saling bertemu, sistem tersebut justru menimbulkan bias sehingga sebagian, meski tidak semua, pengguna nomor telepon Indonesia (+62) ditolak secara keliru," jelasnya.

Entourage menegaskan tujuan mereka sejak awal adalah membangun komunitas yang inklusif dan memberikan kontribusi positif bagi Bali, termasuk melalui kerja sama rutin dengan pelaku usaha lokal dan kegiatan amal.

Sebagai bentuk tanggung jawab atas insiden tersebut, Entourage mengumumkan penghentian sementara seluruh kegiatan dan aktivitas komunitas.

"Kami memutuskan menghentikan sementara seluruh kegiatan dan aktivitas komunitas. Kami bertanggung jawab penuh atas apa yang telah terjadi dan berkomitmen melakukan perubahan nyata agar hal serupa tidak terulang di masa mendatang," ujarnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Dream Desire Fest 2026 Siap Guncang Pasuruan, Sal Priadi hingga Ndarboy Genk Bakal Tampil
• 5 jam laluberitajatim.com
thumb
Pembalap NTB Gibran menangi race pertama MRS 2026 di Mandalika
• 3 jam laluantaranews.com
thumb
KAI Logistik Kirim 1.425 Motor pada Libur Sekolah, Paling Banyak dari Yogyakarta
• 12 jam lalukumparan.com
thumb
Kebakaran Hebat Toserba Tokma di Karawang, Api Baru Padam Setelah 7 Jam Pemadaman | KOMPAS SIANG
• 4 jam lalukompas.tv
thumb
Hanya Fajar/Fikri Wakil Indonesia yang Tersisa di Semifinal China Open 2026
• 20 jam laluharianfajar
Berhasil disimpan.