27 Tahun Perlawanan Damai Terhadap Penganiayaan, Ribuan Pengikut Falun Gong Gelar Malam Renungan Lilin di Washington DC

erabaru.net
18 jam lalu
Cover Berita

Oleh Zhang Yi, Washington DC, Epochtimes.com

EtIndonesia.com  Pada malam 23 Juli 2026, hampir 2.000 praktisi Falun Gong dari wilayah timur Amerika Serikat berkumpul di depan Lincoln Memorial, Washington DC. Dengan lilin di tangan dan duduk bersila dalam keheningan, mereka mengenang para praktisi Falun Gong yang tewas akibat penganiayaan Partai Komunis Tiongkok (PKT) selama 27 tahun terakhir, sekaligus menyerukan agar penganiayaan terhadap Falun Gong segera dihentikan.

Di lapangan antara Lincoln Memorial dan Reflection Pool, lebih dari 5.000 lilin disusun membentuk empat aksara Tionghoa “Falun Dafa” yang bersinar terang di tengah malam. Cahaya lilin berpadu dengan siluet Monumen Washington di National Mall, menciptakan pemandangan yang khidmat dan mengharukan.

Suasana acara yang sakral menarik perhatian banyak wisatawan. Tak sedikit yang berhenti untuk mengambil foto maupun mendengarkan penjelasan para praktisi mengenai fakta-fakta di balik penganiayaan yang telah berlangsung selama puluhan tahun.

Pada malam 23 Juli 2026, hampir 2.000 praktisi Falun Gong dari wilayah timur Amerika Serikat berkumpul di depan Lincoln Memorial di ibu kota Washington DC untuk mengenang para praktisi Falun Gong yang meninggal dunia akibat penganiayaan Partai Komunis Tiongkok (PKT) selama 27 tahun terakhir. Dalam kesempatan itu, mereka juga menyerukan agar PKT segera menghentikan penganiayaan terhadap Falun Gong. (Dai Bing/The Epoch Times) Pada malam 23 Juli 2026, hampir 2.000 praktisi Falun Gong dari wilayah timur Amerika Serikat berkumpul di depan Lincoln Memorial di ibu kota Washington DC untuk mengenang para praktisi Falun Gong yang meninggal dunia akibat penganiayaan Partai Komunis Tiongkok (PKT) selama 27 tahun terakhir. Dalam kesempatan itu, mereka juga menyerukan agar PKT segera menghentikan penganiayaan terhadap Falun Gong. (Dai Bing/The Epoch Times) Pada malam 23 Juli 2026, hampir 2.000 praktisi Falun Gong dari wilayah timur Amerika Serikat berkumpul di depan Lincoln Memorial di ibu kota Washington DC untuk mengenang para praktisi Falun Gong yang meninggal dunia akibat penganiayaan Partai Komunis Tiongkok (PKT) selama 27 tahun terakhir. Dalam kesempatan itu, mereka juga menyerukan agar PKT segera menghentikan penganiayaan terhadap Falun Gong. (Dai Bing/The Epoch Times) Pada malam 23 Juli 2026, hampir 2.000 praktisi Falun Gong dari wilayah timur Amerika Serikat berkumpul di depan Lincoln Memorial di ibu kota Washington DC untuk mengenang para praktisi Falun Gong yang meninggal dunia akibat penganiayaan Partai Komunis Tiongkok (PKT) selama 27 tahun terakhir. Dalam kesempatan itu, mereka juga menyerukan agar PKT segera menghentikan penganiayaan terhadap Falun Gong. (Dai Bing/The Epoch Times) Pada malam 23 Juli 2026, hampir 2.000 praktisi Falun Gong dari wilayah timur Amerika Serikat berkumpul di depan Lincoln Memorial di ibu kota Washington DC untuk mengenang para praktisi Falun Gong yang meninggal dunia akibat penganiayaan Partai Komunis Tiongkok (PKT) selama 27 tahun terakhir. Dalam kesempatan itu, mereka juga menyerukan agar PKT segera menghentikan penganiayaan terhadap Falun Gong. (Dai Bing/The Epoch Times) Pada malam 23 Juli 2026, hampir 2.000 praktisi Falun Gong dari wilayah timur Amerika Serikat berkumpul di depan Lincoln Memorial di ibu kota Washington DC untuk mengenang para praktisi Falun Gong yang meninggal dunia akibat penganiayaan Partai Komunis Tiongkok (PKT) selama 27 tahun terakhir. Dalam kesempatan itu, mereka juga menyerukan agar PKT segera menghentikan penganiayaan terhadap Falun Gong. (Dai Bing/The Epoch Times) Pada malam 23 Juli 2026, hampir 2.000 praktisi Falun Gong dari wilayah timur Amerika Serikat berkumpul di depan Lincoln Memorial di ibu kota Washington DC untuk mengenang para praktisi Falun Gong yang meninggal dunia akibat penganiayaan Partai Komunis Tiongkok (PKT) selama 27 tahun terakhir. Dalam kesempatan itu, mereka juga menyerukan agar PKT segera menghentikan penganiayaan terhadap Falun Gong. (Dai Bing/The Epoch Times) Pada malam 23 Juli 2026, hampir 2.000 praktisi Falun Gong dari wilayah timur Amerika Serikat berkumpul di depan Lincoln Memorial di ibu kota Washington DC untuk mengenang para praktisi Falun Gong yang meninggal dunia akibat penganiayaan Partai Komunis Tiongkok (PKT) selama 27 tahun terakhir. Dalam kesempatan itu, mereka juga menyerukan agar PKT segera menghentikan penganiayaan terhadap Falun Gong. (Dai Bing/The Epoch Times) Pada malam 23 Juli 2026, hampir 2.000 praktisi Falun Gong dari wilayah timur Amerika Serikat berkumpul di depan Lincoln Memorial di ibu kota Washington DC untuk mengenang para praktisi Falun Gong yang meninggal dunia akibat penganiayaan Partai Komunis Tiongkok (PKT) selama 27 tahun terakhir. Dalam kesempatan itu, mereka juga menyerukan agar PKT segera menghentikan penganiayaan terhadap Falun Gong. (Dai Bing/The Epoch Times) Pada malam 23 Juli 2026, hampir 2.000 praktisi Falun Gong dari wilayah timur Amerika Serikat berkumpul di depan Lincoln Memorial di ibu kota Washington DC untuk mengenang para praktisi Falun Gong yang meninggal dunia akibat penganiayaan Partai Komunis Tiongkok (PKT) selama 27 tahun terakhir. Dalam kesempatan itu, mereka juga menyerukan agar PKT segera menghentikan penganiayaan terhadap Falun Gong. (Dai Bing/The Epoch Times) Pada malam 23 Juli 2026, hampir 2.000 praktisi Falun Gong dari wilayah timur Amerika Serikat berkumpul di depan Lincoln Memorial di ibu kota Washington DC untuk mengenang para praktisi Falun Gong yang meninggal dunia akibat penganiayaan Partai Komunis Tiongkok (PKT) selama 27 tahun terakhir. Dalam kesempatan itu, mereka juga menyerukan agar PKT segera menghentikan penganiayaan terhadap Falun Gong. (Dai Bing/The Epoch Times) Pada malam 23 Juli 2026, hampir 2.000 praktisi Falun Gong dari wilayah timur Amerika Serikat berkumpul di depan Lincoln Memorial di ibu kota Washington DC untuk mengenang para praktisi Falun Gong yang meninggal dunia akibat penganiayaan Partai Komunis Tiongkok (PKT) selama 27 tahun terakhir. Dalam kesempatan itu, mereka juga menyerukan agar PKT segera menghentikan penganiayaan terhadap Falun Gong. (Dai Bing/The Epoch Times) Banyak Praktisi di Kampung Halaman Tewas Akibat Penganiayaan

Salah satu peserta renungan lilin, Luo Sujuan dan suaminya Liu Dexi, berasal dari Kota Taizhou, Provinsi Zhejiang. Sebelum penganiayaan dimulai, pasangan itu merupakan pengusaha kulit yang sukses.

Selama penganiayaan berlangsung, Luo Sujuan dua kali ditahan dan dipaksa hidup berpindah-pindah untuk menghindari penangkapan. Sementara Liu Dexi dua kali dijatuhi hukuman kerja paksa dan kemudian dipenjara selama sepuluh tahun. Putri mereka tumbuh dalam bayang-bayang ketakutan.

Pada 23 Juli 2026, menjelang dimulainya malam renungan lilin, praktisi Falun Gong di Washington DC, Luo Sujuan dan suaminya, Liu Dexi, berfoto di depan Lincoln Memorial. (Zhang Yi/The Epoch Times)

Luo Sujuan juga merupakan salah satu dari lima perwakilan praktisi Falun Gong di Washington yang diterima Asisten Menteri Luar Negeri AS untuk Demokrasi, Hak Asasi Manusia, dan Perburuhan, Riley Barnes, pada 13 Juli 2026.

Kepada Epoch Times, Luo mengatakan bahwa melalui penerjemah ia menceritakan langsung kepada Barnes tentang penyiksaan brutal yang dialami dirinya dan keluarganya.

Pada 1 Maret 2004, polisi setempat mendobrak rumah mereka dan menangkap Liu Dexi secara paksa. Untuk menghindari penangkapan, Luo Sujuan nekat melompat dari lantai tiga hingga mengalami patah tulang leher, panggul yang hancur, serta paru-paru yang robek. Ia mengatakan kesehatannya kemudian pulih dengan cepat setelah kembali berlatih Falun Gong.

Falun Gong merupakan metode kultivasi tradisional yang berlandaskan prinsip Sejati, Baik, dan Sabar, disertai lima perangkat latihan yang dikenal luas memiliki manfaat bagi kesehatan.

Selama ditahan di Pusat Penahanan Distrik Jiaojiang, Liu Dexi dibelenggu selama sebulan dan ditempatkan dalam sel isolasi.

“Saya digantung dengan borgol di kedua tangan hingga tubuh melayang di udara. Rasa sakitnya membuat saya pingsan. Sampai sekarang bekas luka akibat borgol masih terlihat di tangan saya,” katanya.

Menurut Liu Dexi, banyak praktisi Falun Gong di kampung halamannya, Taizhou, meninggal akibat penganiayaan, di antaranya Yan Suyun, Shao Jingmei, dan Hong Misu.

Berdasarkan data tidak lengkap dari Minghui.org, sejak 20 Juli 1999 sedikitnya 5.359 praktisi Falun Gong telah dipastikan meninggal akibat penganiayaan. Karena ketatnya penyensoran informasi oleh PKT, angka tersebut diyakini hanya sebagian kecil dari jumlah korban yang sebenarnya.

“Selama 27 tahun, praktisi Falun Gong menempuh jalan panjang melawan penganiayaan secara damai. Kami berharap semakin banyak orang mengetahui bahwa Falun Dafa adalah baik dan bersama-sama menghentikan penganiayaan ini,” ujar Liu.

Dipenjara Delapan Tahun karena Menyebarkan Informasi Pada 23 Juli 2026, menjelang dimulainya malam renungan lilin, praktisi Falun Gong asal New York, Chen Jin, berfoto di depan Lincoln Memorial. (Zhang Yi/The Epoch Times)

Praktisi Falun Gong Chen Jin, yang kini tinggal di New York, mulai berlatih Falun Gong pada 1998 ketika masih bekerja di Komite Partai Kota Fuzhou sebagai petugas penerima tamu dan delegasi asing.

Ia mengaku sebelum berlatih Falun Gong kondisi kesehatannya sangat buruk.

“Dulu rambut saya hampir habis rontok. Setelah berlatih selama satu bulan, rambut saya tumbuh kembali. Tubuh terasa sangat ringan seolah ada yang mendorong ketika berjalan. Mengangkat tabung gas sampai lantai tujuh pun terasa mudah,” katanya.

Pada Juli 1999, pemimpin PKT saat itu, Jiang Zemin, memerintahkan dimulainya kampanye pemberantasan Falun Gong. Menurut berbagai sumber, keputusan tersebut dipicu oleh pesatnya perkembangan Falun Gong, yang jumlah praktisinya diperkirakan telah melampaui jumlah anggota PKT, serta karena prinsip Sejati, Baik, dan Sabar dianggap bertentangan dengan ideologi komunis.

Malam 19 Juli hingga dini hari 20 Juli 1999, para koordinator sukarelawan tempat latihan Falun Gong di seluruh Tiongkok ditangkap secara serentak. Bersamaan dengan itu, media propaganda PKT melancarkan kampanye fitnah besar-besaran terhadap Falun Gong.

Chen mengatakan bahwa sejak 2.000 ia membuat materi informasi untuk menjelaskan fakta mengenai Falun Gong kepada masyarakat. Akibatnya, ia ditangkap dan dijatuhi hukuman penjara selama delapan tahun.

Ia ditahan di Pusat Penahanan Pertama Fuzhou dan kemudian dipenjara di Penjara Minxi, Provinsi Fujian, di mana ia mengalami berbagai bentuk penyiksaan.

“Salah satunya adalah penyiksaan gantung. Kedua tangan diborgol ke jendela hingga kaki menggantung di udara. Seluruh berat badan bertumpu pada kedua tangan sampai berdarah. Saya tidak bisa tidur lebih dari seminggu. Tubuh terasa sangat tersiksa. Bahkan para narapidana lain tidak tega melihatnya dan meminta agar saya diturunkan karena tubuh saya sudah berubah bentuk,” katanya.

Pada 23 Juli 2026, menjelang dimulainya malam renungan lilin, praktisi muda Falun Gong di Washington DC, Bai Shuyuan, berfoto di depan Lincoln Memorial. (Zhang Yi/The Epoch Times) Praktisi Muda Kenang Ayahnya yang Disiksa

Praktisi muda Falun Gong di Washington, Bai Shuyuan, juga mengenang penganiayaan yang dialami keluarganya.

Ia masih mengingat jelas dini hari 17 Agustus 2002 di Tianjin ketika suara sirene polisi dan ketukan keras di pintu membangunkannya.

Tiga polisi masuk ke rumah mereka dan mengumumkan bahwa ayahnya, Bai Shuangcheng, ditangkap karena memiliki dan membagikan materi mengenai Falun Gong. Polisi kemudian menggeledah rumah dengan membuka lemari dan laci satu per satu.

Ayahnya dijatuhi hukuman penjara tiga tahun dan ditahan di Penjara Pertama Tianjin (Penjara Liyuantou). Di sana ia mengalami penyiksaan berat hingga berkali-kali pingsan.

Setelah dibebaskan, Bai Shuangcheng secara bertahap menceritakan kepada keluarganya tentang penyiksaan yang dialaminya dan para praktisi lain selama berada di penjara.

“Pada banyak malam setelah ayah dibebaskan, ketika orang tua saya mengira saya sudah tidur, ayah diam-diam menceritakan pengalaman penyiksaannya kepada ibu,” ujar Bai.

Ilustrasi metode penyiksaan menggunakan borgol yang dialami praktisi Falun Gong. (Minghui.org)

Ia menjelaskan salah satu alat penyiksaan yang disebut “pengzi”, yaitu alat berbahan baja yang mengunci kedua pergelangan tangan rapat tanpa memberi ruang sedikit pun untuk bergerak.

Bentuk penyiksaan lain yang umum digunakan adalah memaksa praktisi duduk di bangku kecil berukuran sekitar 5 centimeter tinggi dan lebar, serta 10 centimeter panjang selama seharian penuh. Akibatnya, otot bokong robek. Luka yang baru mulai mengering pada malam hari dipaksa kembali bergesekan keesokan harinya hingga berdarah.

“Dalam keheningan malam, ketika saya baru berusia 11 tahun, saya bersembunyi di balik selimut sambil diam-diam mendengar ayah menceritakan pengalaman penyiksaan di penjara. Air mata mengalir tanpa suara hingga membasahi bantal saya,” kenangnya.

Kini tinggal di luar negeri, Bai mengatakan perasaannya tetap berat saat mengikuti malam renungan lilin tersebut.

“Walaupun saya dan keluarga sudah berada di luar negeri, rekan-rekan praktisi di Tiongkok masih setiap saat menghadapi ancaman penganiayaan. Saya berharap penganiayaan ini segera berakhir.”


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kapolri Cup 2026, Titiek Soeharto Raih Medali hingga Piala Kejuaraan Menembak
• 12 jam laludetik.com
thumb
PGN Lampung Menyatakan C-Cyl Menjadi Solusi Energi Portabel bagi Pelaku UMKM di Bandarlampung
• 9 jam lalupantau.com
thumb
Kenapa Ada Lomba 17 Agustus Setiap Tahun? Ini Asal-usul dan Filosofinya
• 20 jam lalugrid.id
thumb
Family Office Indonesia: Membangun Kepercayaan, Bukan Cuma Tarik Modal
• 15 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Pemprov DKI Berkomitmen Buka Ruang Seluasnya untuk Penuhi Hak Anak
• 13 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.