Jakarta: Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Kemenko IPK) menilai integrasi strategis antara PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI dan PT Industri Kereta Api (Persero) (INKA) akan memperkuat ekosistem perkeretaapian nasional. Langkah tersebut diharapkan mampu menyelaraskan kebutuhan layanan kereta api dengan kapasitas industri manufaktur dalam negeri.
Sekretaris Deputi Bidang Koordinasi Konektivitas Kemenko IPK Rustam Efendi mengatakan integrasi KAI dan INKA merupakan bagian dari penguatan ekosistem perkeretaapian nasional.
"Sudah pasti (memperkuat ekosistem perkeretaapian). Integrasi KAI dan INKA itu bagian dari ekosistem yang sama," ujar Rustam dalam keterangannya, dikutip dari Antara, Sabtu, 25 Juli 2026.
Menurut Rustam, Kemenko IPK memiliki peran koordinasi dengan Kementerian Perhubungan, termasuk Direktorat Jenderal Perkeretaapian yang membina sektor perkeretaapian dan berkoordinasi dengan KAI maupun INKA. "Harapannya lebih baik untuk perkeretaapian kita," katanya, Sabtu, 25 Juli 2026.
Sebagai bagian dari proses tersebut, KAI dan INKA telah memulai integrasi strategis yang diarahkan untuk menyelaraskan proyeksi kebutuhan layanan kereta api dengan kemampuan industri manufaktur nasional.
Senior Vice President Business Performance & Asset Optimization Cluster Logistic Danantara Asset Management Desty Arlaini mengatakan integrasi harus diawali dengan penyamaan visi seluruh jajaran pimpinan dan insan kedua perusahaan.
Menurut Desty, kepemimpinan, kepercayaan, dan budaya kerja menjadi faktor penting dalam memastikan proses integrasi berjalan efektif. Seluruh keputusan diharapkan mampu memberikan nilai tambah bagi pengguna jasa kereta api, perusahaan, pemegang saham, dan negara.
Baca Juga :
Dukung Logistik Nasional, KAI Properti Renovasi Gudang Jakarta(Ilustrasi penumpang kereta api. Foto: Medcom.id/Daviq Umar)
Kebutuhan KRL hingga 2040 diproyeksikan 156 rangkaian
Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin mengatakan integrasi membuka peluang besar bagi pengembangan industri manufaktur kereta api nasional. Menurutnya, kebutuhan sarana kereta api jangka panjang memerlukan perencanaan yang semakin terintegrasi antara KAI sebagai operator dan INKA sebagai produsen.
Salah satu kebutuhan terbesar berasal dari pengadaan Kereta Rel Listrik (KRL). Berdasarkan perhitungan awal KAI, kebutuhan KRL hingga 2040 diproyeksikan mencapai sekitar 156 rangkaian.
Sementara Direktur Utama PT INKA (Persero) Bambang Jatmika mengatakan dimulainya proses integrasi menjadi tonggak penting dari rencana yang telah dibahas selama beberapa tahun.
Menurut Bambang, sinergi tersebut akan menggabungkan pengalaman KAI dalam memahami kebutuhan operasional dengan kompetensi INKA di bidang desain, rekayasa, dan manufaktur sarana perkeretaapian.
Koordinasi yang lebih erat juga diharapkan mampu menyelaraskan proyeksi kebutuhan, perencanaan produksi, jadwal pengujian, proses serah terima, pengembangan teknologi, hingga peningkatan kualitas produk.
Integrasi KAI dan INKA diharapkan memperkuat kapasitas industri nasional dalam memenuhi kebutuhan sarana perkeretaapian secara lebih terencana sekaligus mendukung pengembangan layanan kereta api di berbagai wilayah Indonesia.




