Parfum Mahal Belum Tentu Terbaik, Perfumer Ungkap Cara Menilai Kualitas Wewangian

grid.id
5 jam lalu
Cover Berita

Grid.ID - Minat masyarakat terhadap parfum terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Di tengah menjamurnya merek parfum lokal, tren blind buy, hingga maraknya konten rekomendasi wewangian di media sosial, banyak konsumen justru masih melakukan satu kesalahan mendasar saat memilih parfum, yakni langsung menilai kualitasnya hanya dari aroma pertama yang tercium.

Founder sekaligus Perfumer Best Perfume Store, Josh Frost, mengatakan semprotan pertama hanya memperlihatkan sebagian kecil karakter sebuah parfum. Aroma yang muncul di awal belum tentu sama dengan aroma yang akan bertahan setelah digunakan selama beberapa jam.

“Komentar yang paling sering kami dengar adalah, ‘Saya suka aromanya saat mencobanya di toko, tetapi ternyata wanginya tidak bertahan seperti yang saya bayangkan.’ Padahal, semprotan pertama hanya menunjukkan sebagian kecil dari karakter sebuah parfum,” ujar Josh.

Ia menjelaskan, kesalahan terbesar yang masih sering dilakukan adalah menilai kualitas parfum terlalu cepat. Menurutnya, performa parfum justru baru dapat dinilai setelah digunakan dalam waktu yang cukup lama, terutama di negara beriklim tropis seperti Indonesia.

“Di iklim tropis seperti Indonesia, kualitas sebuah parfum justru mulai terlihat setelah delapan hingga sepuluh jam pemakaian. Pada fase itulah kita bisa melihat apakah formulasi, konsentrasi fragrance, dan kualitas bahan bakunya benar-benar mampu mempertahankan karakter aromanya. Sebagai perfumer, justru itulah bagian yang paling kami perhatikan,” jelasnya.

Josh mengatakan suhu yang hangat, kelembapan tinggi, hingga perpindahan dari luar ruangan ke ruangan berpendingin udara membuat aroma parfum terus berkembang di kulit. Karena itu, parfum yang terasa segar saat pertama kali disemprot belum tentu memiliki karakter yang sama beberapa jam kemudian.

Perubahan aroma tersebut terjadi pada fase yang dikenal sebagai dry-down. Pada tahap ini, lapisan aroma awal mulai menguap dan karakter utama parfum muncul lebih jelas sehingga menjadi penentu kualitas sebuah wewangian.

 

Menurut Josh, semakin banyak konsumen Indonesia yang kini mulai memahami pentingnya fase tersebut. Mereka tidak lagi hanya mempertimbangkan aroma awal, tetapi juga daya tahan, perkembangan aroma di kulit, serta kenyamanan parfum saat digunakan beraktivitas sepanjang hari.

Kesadaran itu juga membuat konsumen mulai memperhatikan kualitas formulasi dan konsentrasi fragrance sebelum membeli parfum. Faktor tersebut dinilai lebih berpengaruh terhadap pengalaman menggunakan parfum dibanding sekadar mengikuti tren atau memilih aroma yang sedang populer.

“Parfum terbaik bukan selalu yang paling mahal atau yang sedang populer. Parfum terbaik adalah parfum yang tetap terasa seperti diri Anda ketika hari hampir selesai. Ketika aromanya masih berkembang dengan baik setelah berbagai aktivitas, saat itulah sebuah parfum benar-benar menunjukkan kualitasnya,” tutup Josh. (*)

 

 

Artikel Asli


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Amankan Piala Presiden 2026, Polda Jabar Turunkan 1500 Personel Gabungan
• 21 jam lalubola.com
thumb
Foto: Bilal Indrajaya Tampil Memukau di BRI Jazz Gunung Bromo 2026
• 23 jam lalukumparan.com
thumb
Prabowo Gratiskan Bea Masuk untuk Industri MRO dan Petrokimia, Biaya Produksi Dipangkas
• 2 jam lalutvonenews.com
thumb
Polisi Selidiki Penemuan Mayat Satpam Terbogol di Waduk Jatiluhur
• 1 jam lalujpnn.com
thumb
OPM Penembak Warga Sipil Yahukimo Tewas dalam Kontak Senjata dengan TNI di Awingbon
• 22 jam lalujpnn.com
Berhasil disimpan.