PDIP: Jangan Coba-Coba Pecah Belah NU Demi Ambisi Kekuasaan

liputan6.com
10 jam lalu
Cover Berita

Liputan6.com, Jakarta - Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan (PDIP), Hasto Kristiyanto, mengajak seluruh pihak menjaga keutuhan Nahdlatul Ulama (NU) dari berbagai upaya kooptasi dan intervensi politik praktis menjelang pelaksanaan Muktamar NU.

Menurut Hasto, secara historis NU memiliki kontribusi besar terhadap perjalanan bangsa. Berbekal visi kebangsaan, kesadaran geopolitik, serta tradisi Islam rahmatan lil 'alamin, NU menjadi salah satu organisasi yang turut membentuk jati diri Indonesia.

Advertisement

BACA JUGA: Membaca Arah Dukungan Nahdliyin Jateng di Bursa Ketum PBNU

"NU terlalu besar untuk dilibatkan dalam tarik-menarik kepentingan politik praktis. Jangan pernah coba-coba memecah belah NU demi ambisi kekuasaan. NU itu milik Indonesia dan dunia yang ditakdirkan dengan jiwa keislaman serta konsepsi pemikiran yang luar biasa," kata Hasto dalam keterangannya, Jumat (24/7/2026).

Hasto juga mengaku mengagumi pemikiran visioner para pendiri NU yang menurutnya tercermin dalam filosofi logo organisasi tersebut.

“Logo NU sangat membumi, visioner dan futuristik. Apalagi dengan kontribusi patriotismenya melalui Resolusi Jihad di dalam perjuangan mengusir bala tentara Sekutu yang ditunggangi NICA untuk menjajah kembali Indonesia," ujarnya.

Ia menilai sinergi antara nilai kebangsaan dan agama harus diawali dengan pemahaman sejarah yang benar mengenai pendirian NU dan PNI. Menurut Hasto, pemahaman tersebut penting sebagai bekal menghadapi berbagai persoalan yang tengah dihadapi Indonesia, mulai dari tantangan fiskal, moneter, pertumbuhan sektor riil, hingga persoalan penegakan hukum.

“Kasus mantan Jampidsus Febri dan upaya penyelamatannya adalah contoh nyata kegelapan hukum. Dengan menggali pemikirannya, maka sinergi NU dan PDI Perjuangan akan memperkuat cahaya Sembilan Bintang yang terdapat dalam logo NU menjadi cahaya kemanusiaan, keadilan, dan keberanian di dalam menyuarakan kebenaran," kata Hasto.

Hasto menambahkan, filosofi logo NU beserta maknanya juga kerap diajarkan di Sekolah Partai PDI Perjuangan. Menurutnya, simbol peta Indonesia yang utuh di atas bola dunia mencerminkan tekad Islam sebagai rahmatan lil 'alamin.

Ia juga mengingatkan pentingnya meneladani konsistensi perjuangan Bung Karno dan Megawati Soekarnoputri yang menempatkan Pancasila sebagai landasan membangun tata dunia baru sekaligus menjadi inspirasi bagi pembelaan terhadap bangsa-bangsa tertindas.

"Kembali ke Khittah 1926 adalah benteng ideologis dan moral agar elit NU tidak ikut dalam tarik-menarik kepentingan politik praktis. Siapa pun yang mencoba mengooptasi atau memecah belah NU demi ambisi kuasa akan menerima karma politik dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Mari kita jadikan NU sebagai penjaga moral, pembawa kerukunan, kebenaran, keadilan, dan pencerah bagi bangsa di tengah berbagai kegelapan yang terjadi saat ini," tambah Hasto.

 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Viral Klub Lari di Bali Diduga Diskriminatif, Tolak WNI dan Hanya Terima Warga Asing
• 13 jam lalurctiplus.com
thumb
Warisan Teh Melati Berusia Seabad di Fuzhou Jadi Penggerak Wisata Budaya Lokal
• 15 jam lalupantau.com
thumb
Terungkap! Sopir dan Penumpang Alphard yang Ribut dengan Satpam Anggota Polda Jabar
• 16 jam laluokezone.com
thumb
Pemprov Papua Selatan Perkuat Disiplin ASN Lewat Aplikasi IDIS Versi 3
• 20 jam lalurepublika.co.id
thumb
Pemerintah Siapkan APBN untuk Bayar Angsuran Kopdes Merah Putih ke Himbara Mulai September
• 1 jam laluwartaekonomi.co.id
Berhasil disimpan.