Masa kanak-kanak seharusnya menjadi waktu untuk bermain, belajar, dan tumbuh dengan bahagia namun, tidak semua anak dapat merasakan hal tersebut. Sebagian anak mungkin mengalami bullying atau perundungan, baik di sekolah maupun di lingkungan pertemanan.
Bullying tidak selalu berbentuk kekerasan fisik. Ejekan, hinaan, pengucilan, ancaman, hingga perundungan melalui media sosial juga dapat memberikan dampak yang besar bagi anak. Sayangnya, banyak anak memilih untuk menyimpan karena takut dimarahi, merasa malu, atau khawatir masalahnya akan menjadi lebih besar.
Karena itu, peran orang tua sangat penting. Anak perlu merasa bahwa rumah adalah tempat yang aman untuk bercerita.
Bangun komunikasi sejak diniAgar anak mau bercerita, orang tua perlu membiasakan komunikasi sejak anak masih kecil. Tidak harus selalu membicarakan hal besar. Pertanyaan sederhana seperti “Hari ini bagaimana di sekolah?” atau “Ada hal yang membuat kamu senang atau sedih hari ini?” dapat menjadi awal percakapan.
Kebiasaan berbicara setiap hari membuat anak merasa bahwa orang tua benar-benar peduli terhadap kehidupannya.
Dengarkan tanpa langsung menghakimiKetika anak mulai bercerita tentang masalahnya, orang tua sebaiknya mendengarkan terlebih dahulu. Hindari langsung menyalahkan anak atau mengatakan, “Kamu harusnya melawan” atau “Masa begitu saja kamu takut?”
Kalimat seperti itu dapat membuat anak merasa tidak dipahami dan akhirnya memilih untuk diam.
Sebaliknya, orang tua dapat mengatakan “Terima kasih sudah mau cerita kepada Ibu” atau “Ibu mengerti kalau kamu pasti merasa tidak nyaman”.
Ajarkan anak untuk mengenali bullyingAnak juga perlu diberi pemahaman bahwa bullying bukanlah hal yang wajar dan bukan salah mereka. Orang tua dapat menjelaskan bahwa mengejek terus-menerus, mengancam, memukul, mengucilkan, atau mempermalukan seseorang dengan sengaja merupakan tindakan yang tidak boleh dilakukan.
Dengan memahami bentuk-bentuk bullying, anak akan lebih mudah mengenali ketika dirinya atau orang lain mengalami perundungan.
Ajarkan anak untuk berani mencari bantuanAnak perlu tahu bahwa meminta bantuan bukan berarti lemah. Justru, berani bercerita kepada orang yang dipercaya merupakan tindakan yang tepat.
Orang tua dapat mengajarkan anak untuk bercerita kepada orang tua, guru, wali kelas, atau orang dewasa lain yang dapat membantu. Anak tidak harus menghadapi bullying sendirian.
Bangun rasa percaya diri anakAnak yang memiliki rasa percaya diri akan lebih mampu menghadapi berbagai situasi sosial. Orang tua dapat membantu dengan memberikan apresiasi terhadap usaha dan kelebihan anak.
Tidak perlu membandingkan anak dengan orang lain. Setiap anak memiliki keunikan dan kelebihannya masing-masing. Ketika anak merasa dihargai di rumah, ia akan lebih percaya pada dirinya sendiri.
Jadilah tempat yang aman bagi anakHal terpenting adalah membuat anak merasa bahwa orang tua akan tetap berada di sisinya ketika ia menghadapi masalah.
Anak mungkin tidak langsung bercerita dalam satu percakapan. Namun, dengan kesabaran, perhatian, dan sikap yang tidak menghakimi, anak akan perlahan merasa lebih nyaman untuk terbuka.
Mencegah bullying bukan hanya tentang mengajarkan anak untuk melawan ketika dirundung. Lebih dari itu, anak perlu dibekali dengan rasa percaya diri, kemampuan berkomunikasi, dan keyakinan bahwa mereka tidak sendirian.
Orang tua juga perlu menciptakan hubungan yang terbuka dan penuh kepercayaan. Sebab, terkadang anak tidak membutuhkan nasihat panjang. Mereka hanya membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan tanpa menghakimi.
Ketika anak tahu bahwa rumah adalah tempat yang aman untuk bercerita, mereka akan lebih berani untuk mengungkapkan apa yang sedang mereka rasakan.




