Dukungan Gus Gudfan Untuk Maju Sebagai Caketum PBNU Terus Bermunculan

jpnn.com
2 jam lalu
Cover Berita

jpnn.com, JAKARTA - Di tengah hingar-bingar bursa calon ketua umum pengurus besar nahdlatul ulama (PBNU), sebuah nama terus bergema dengan frekuensi yang berbeda, yakni Gus Gudfan Arif Ghofur.

Bukan karena orasi politiknya yang menggema di panggung-panggung besar. Bukan pula karena manuver-manuver taktis yang biasa mewarnai peta perebutan kekuasaan. Justru karena keheningannya. Karena caranya yang tidak berteriak, tidak mencari sorotan, tidak pula sibuk mengklaim dirinya sebagai "juru selamat umat."

BACA JUGA: Gus Yahya Terima Kunjungan Menkeu Purbaya, Bahas Penguatan Kolaborasi PBNU-Pemerintah

Dari keheningan itulah, gelombang dukungan dari lintas generasi dan lintas elemen NU terus bermunculan. Dari kiai sepuh yang hafal sanad keilmuan hingga santri milenial yang fasih berselancar di dunia digital.

Dari Pengurus Wilayah (PWNU), Pengurus Cabang (PCNU), hingga badan otonom seperti Fatayat, Ansor, IPNU, dan Pagar Nusa. Semua bergerak. Bukan atas instruksi. Bukan karena iming-iming jabatan. Tetapi karena naluri kebersamaan yang sudah lama tertidur itu kembali tersentak: bahwa NU butuh pemimpin yang merawat, bukan merusak; yang mengayomi, bukan mengklaim.

BACA JUGA: Gus Choi Sebut 3 Guru Besar Layak Pimpin PBNU, Penentu Tetap Muktamirin

Di era politik identitas yang cair dan ambisi kekuasaan yang sering kali membabi buta, Gus Gudfan hadir sebagai antitesis. Dia dikenal sebagai sosok yang tidak pernah mendekorasi dirinya dengan atribut keagungan palsu. Di pesantren, dia santri biasa. Di tengah para kiai, dia murid yang mendengar. Di hadapan rakyat kecil, dia bukan siapa-siapa.

Bandingkan dengan mereka yang haus kekuasaan, yang rela mengorbankan prinsip demi kursi, yang mengubah musyawarah menjadi ajang jual-beli suara, yang menjadikan NU sebagai kendaraan pribadi menuju singgasana.

BACA JUGA: Rembuk Warga NU Kritik Diplomasi Internasional PBNU, Singgung Humanitarian Islam

Di sana, Gus Gudfan adalah potret lain. Ia datang bukan untuk mengambil, tapi untuk memberi. Bukan untuk dihormati, tapi untuk mengabdi. Bukan untuk didengar, tapi untuk mendengar.

Fenomena yang mengkhawatirkan dalam beberapa tahun terakhir adalah menjamurnya figur-figur yang lebih mencintai panggung daripada organisasi. Mereka hadir di setiap acara, berfoto di setiap kesempatan, berpidato di setiap momen. Tapi ketika organisasi sedang sakit, ketika umat sedang resah, ketika pesantren kekurangan, mereka menghilang.

Dia mencintai NU bukan sebagai panggung pencitraan. Baginya, NU adalah kawah candradimuka tempat ia ditempa sejak muda. Dari bawah. Dari posisi-posisi yang tidak pernah diliput media: Bendahara PP Pagar Nusa, Bendahara RMI PWNU Jatim, hingga penasihat GP Ansor. Posisi-posisi yang tidak pernah memberi sorotan, tapi justru di sanalah pengabdian diukur.

"Gus Gudfan tidak pernah menolak tugas meskipun itu kecil. Beliau mengurus bendahara Pagar Nusa dengan penuh tanggung jawab. Uang masuk dan keluar jelas. Tidak pernah ada cerita dana menguap. Itu langka," ujar salah satu pengurus PBNU yang pernah bekerja langsung dengannya.

Bandingkan dengan mereka yang gila panggung. Yang hadir hanya saat ada kamera. Yang mengelilingi setiap acara besar dengan tim humas dan fotografer pribadi. Yang menjadikan NU sebagai latar belakang branding diri. Gus Gudfan adalah ruang sunyi di antara kebisingan itu. Ia bekerja, lalu pergi. Tanpa atribut, tanpa gebyar.

Salah satu penyakit politik yang paling berbahaya di tubuh organisasi keagamaan adalah klaim sepihak: mengaku mewakili umat, mengaku menjadi suara umat, bahkan mengaku memiliki mandat dari umat. Padahal umat bukanlah objek yang bisa diklaim. Umat adalah subjek yang harus dilayani.

Gus Gudfan tidak pernah mengklaim umat. Ia tidak pernah menyatakan diri sebagai "juru bicara nahdliyin" atau "pemimpin yang dinanti." Ia justru sibuk mengurus persoalan riil umat: ekonomi pesantren, kesejahteraan guru ngaji, pemberdayaan santri.

Di tengah tarik-menarik kepentingan di tubuh PBNU, Gus Gudfan memilih jalan sunyi: bekerja. Mengurus dana, mengawal program, memastikan bahwa setiap rupiah yang masuk digunakan untuk kepentingan umat, bukan kepentingan pribadi. Dan ketika umat mulai merasakan manfaatnya, dukungan mengalir dengan sendirinya.

Presium Nasional BEM PTNU Se Nusantara Achmad Baha'ur Rifqi mengatakan bahwa Gus Gudfan tidak pernah mencari validasi dari semua orang. Bahkan, dia menyebut Gus Gudfan lebih memilih diam ketika namanya mulai muncul.

“Beliau tidak pernah minta didorong, justru kami yang merasa harus mendorong,” kata dia.

“Kami melihat sendiri bagaimana beliau bekerja, bagaimana beliau merendah, bagaimana beliau mengayomi. Dan kami merasa, NU butuh pemimpin seperti itu. Bukan yang sibuk mencari validasi sana-sini,” sambung dia.

Umat bisa menilai. Mereka tidak butuh pemimpin yang sibuk membangun citra. Mereka butuh pemimpin yang sibuk membangun desa, pesantren, dan ekonomi umat. Mereka tidak butuh pemimpin yang haus pujian. Mereka butuh pemimpin yang tahan ujian. Mereka tidak butuh pemimpin yang mengklaim cinta. Mereka butuh pemimpin yang membuktikan cinta.

Dan Gus Gudfan, dengan segala kesederhanaannya, adalah jawaban atas kerinduan itu.

Fenomena yang paling menarik dari munculnya nama Gus Gudfan adalah dukungan yang datang dari berbagai elemen organisasi NU secara organik. Bukan dari atas, tapi dari bawah. Bukan karena arahan, tapi karena kesadaran kolektif.

Para pengurus wilayah (PWNU) dan pengurus cabang (PCNU) di berbagai daerah, tanpa komando terpusat, mulai menyuarakan nama yang sama. Mereka yang sehari-hari bergumul dengan persoalan riil nahdliyin di tingkat bawah merasa bahwa Gus Gudfan adalah figur yang memahami denyut nadi umat.

Tak ketinggalan, badan otonom seperti Fatayat, Ansor, IPNU, dan Pagar Nusa juga menunjukkan geliat dukungan yang signifikan. Ini bukan sekadar dukungan seremonial. Ini adalah pernyataan politik dari generasi muda dan perempuan NU yang selama ini seringkali terpinggirkan dalam perebutan kekuasaan di tingkat pusat. Mereka melihat Gus Gudfan bukan sebagai politikus, tapi sebagai abdi organisasi yang telah membuktikan diri.

Yang paling menarik, dukungan ini hadir tanpa ada tim sukses yang terstruktur dan masif. Ia mengalir seperti air—mencari celah, meresap, dan akhirnya menjadi arus yang sulit dibendung. Ini adalah fenomena langka dalam politik organisasi yang biasanya diwarnai oleh mobilisasi massa terencana.

Muktamar ke-35 PBNU akan menjadi tonggak sejarah. Di sanalah nasib organisasi terbesar di dunia ini akan ditentukan. Apakah NU akan terus terjebak dalam pusaran politik kekuasaan yang menguras energi, ataukah akan kembali ke khittahnya sebagai pengayom umat dan penjaga tradisi?

Gus Gudfan tidak pernah menyatakan diri secara terbuka. Ia bukan tipe yang berorasi di panggung. Ia bukan tipe yang membuat spanduk di mana-mana. Ia bukan tipe yang mengirim tim sukses ke mana-mana. Tapi justru karena itulah, dukungan dari berbagai PWNU, PCNU, dan banom mengalir. Karena umat tahu, pemimpin sejati tidak perlu meminta mereka akan datang dengan sendirinya. (cuy/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... KH Zulfa Mustofa Buka Suara Terkait Pencalonannya Sebagai Ketum PBNU


Redaktur & Reporter : Elfany Kurniawan


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Speed Boat Bawa 11 Turis Asing Hilang Kontak di Perairan Gorontalo
• 21 jam lalumetrotvnews.com
thumb
BYC Fest Kembali Dihelat, Saatnya Pengusaha Muda Berjejaring dan Berkolaborasi
• 23 jam lalurepublika.co.id
thumb
Imbas Pemotongan DBH, Anggaran untuk Renovasi Hanya Cukup untuk Tujuh Sekolah
• 5 jam laluidxchannel.com
thumb
Summarecon (SMRA) Bangun TOD di Stasiun Bekasi Ekstensi
• 1 jam laluidxchannel.com
thumb
Warga Bekasi Bakal Punya Stasiun Ekstensi, Apa Fungsinya?
• 23 jam lalucnbcindonesia.com
Berhasil disimpan.