JAKARTA, KOMPAS.com - Usia Rumah Susun (Rusun) Klender di Kelurahan Malaka Sari, Duren Sawit, Jakarta Timur, kini telah melampaui empat dekade.
Kawasan yang dibangun sebagai salah satu pelopor hunian vertikal di Jakarta itu masih menjadi rumah bagi sekitar 1.280 keluarga.
Namun, di balik aktivitas warganya yang tetap hidup, tersimpan persoalan yang jauh lebih kompleks dibanding sekadar bangunan tua.
Bagi Pengamat Tata Kota Universitas Indonesia (UI) M Aziz Muslim, Rusun Klender saat ini merupakan cerminan tantangan yang dihadapi hunian vertikal generasi pertama di Jakarta.
Baca juga: Rusun Klender di Ujung HGB 2030, Warga Cemas Menanti Kepastian Revitalisasi
Masalahnya tidak hanya menyangkut kondisi fisik bangunan yang menua, tetapi juga tata kelola, kepastian hukum, hingga pemanfaatan kawasan yang kini bernilai sangat strategis.
Menurut Aziz, ketika Rusun Klender dibangun pada era 1980-an, pemerintah memiliki tujuan yang sangat jelas, yakni memindahkan masyarakat dari kawasan permukiman padat menuju hunian vertikal yang lebih tertata.
Namun, konsep yang lahir lebih dari 40 tahun lalu itu kini menghadapi realitas Jakarta yang telah berubah sangat jauh.
"Tetapi situasi kota saat itu belum sekompleks sekarang. Ekosistem perkotaan juga belum berkembang seperti saat ini," kata Aziz saat dihubungi Kompas.com, Sabtu (25/7/2026).
Menurut dia, perubahan perkembangan kota membuat berbagai persoalan baru muncul, sementara bangunan dan sistem pengelolaan rusun masih bertumpu pada konsep lama.
Aziz menilai persoalan pertama yang harus menjadi perhatian pemerintah adalah aspek fisik bangunan.
Rusun Klender telah berusia lebih dari 40 tahun.
Baca juga: Rusun Klender, Hunian Vertikal Pertama Jakarta yang Kini Berpacu dengan Usia
Dalam perspektif teknik bangunan, usia tersebut telah melewati siklus pemeliharaan besar pertama sehingga memerlukan evaluasi menyeluruh.
Ia menjelaskan, bangunan bertingkat idealnya menjalani audit struktur secara berkala, terutama setelah memasuki usia sekitar 25 tahun.
"Artinya, sekarang harus diperhatikan potensi korosi tulangan bangunan, kebocoran, sampai kemungkinan munculnya beban liar akibat renovasi yang dilakukan penghuni selama puluhan tahun," ujar dia.
Selain struktur bangunan, berbagai utilitas yang ada di kawasan tersebut juga dinilai tidak lagi dirancang untuk menampung kebutuhan penghuni pada tahun 2026.
Menurut Aziz, persoalan tersebut tidak bisa hanya diselesaikan melalui perbaikan kecil karena usia bangunan telah memasuki fase yang membutuhkan evaluasi menyeluruh.
Gambaran itu terlihat saat Kompas.com menelusuri kawasan Rusun Klender.
Deretan blok empat lantai masih berdiri kokoh, tetapi jejak usia bangunan terlihat hampir di setiap sudut.
Baca juga: Warga Senen Jakpus Tolak Digusur, Lahan Kwini Akan Dibangun Rusun Prajurit TNI AD
Cat tembok sebagian besar telah memudar dan dipenuhi bercak hitam akibat rembesan air.
Di sejumlah titik, plester mengelupas hingga memperlihatkan beton.
Pada beberapa blok, lumut tumbuh mengikuti jalur pipa air di bagian luar bangunan.
Bekas rembesan membentuk garis panjang dari lantai atas hingga dasar bangunan.
Retakan juga tampak pada beberapa sisi dinding luar.
Tangga beton yang digunakan penghuni setiap hari masih berfungsi, tetapi beberapa bagian mengalami pengelupasan sehingga memperlihatkan besi tulangan.
Meski demikian, kehidupan di kawasan tersebut tetap berjalan normal.
Anak-anak masih bermain sepak bola di lapangan tengah rusun.
Warga berbincang di teras, sementara balkon dipenuhi tanaman dan jemuran pakaian.
Beberapa penghuni bahkan melakukan modifikasi sederhana dengan memasang pagar besi, kanopi, hingga atap tambahan untuk memperluas ruang.
Persoalan tidak berhenti pada bangunanBagi Aziz, persoalan Rusun Klender tidak berhenti pada kondisi fisik.
Menurut dia, persoalan tata kelola justru menjadi tantangan besar yang selama ini kurang mendapat perhatian.





