Jakarta, tvOnenews.com - Kesadaran masyarakat terhadap vitiligo di Indonesia terus menunjukkan perkembangan dalam beberapa tahun terakhir. Meski bukan penyakit menular dan tidak mengancam jiwa, vitiligo masih kerap memunculkan stigma yang berdampak pada kesehatan mental serta rasa percaya diri para penyandangnya.
Vitiligo merupakan kelainan kulit yang menyebabkan hilangnya pigmen melanin sehingga muncul bercak-bercak putih pada berbagai bagian tubuh. Kondisi ini dapat dialami siapa saja dan hingga kini penyebab pastinya belum sepenuhnya dipahami, meskipun banyak penelitian mengaitkannya dengan faktor autoimun, genetik, maupun lingkungan.
Vitiligo terjadi ketika sel penghasil pigmen kulit (melanosit) mengalami kerusakan atau berhenti berfungsi sehingga kulit kehilangan warna alaminya. Akibatnya, muncul bercak-bercak putih dengan ukuran dan bentuk yang bervariasi di berbagai bagian tubuh, seperti wajah, tangan, lengan, kaki, hingga area sekitar mulut dan mata.
Pada sebagian orang, perubahan warna juga dapat terjadi pada rambut, alis, bulu mata, maupun janggut. Meski tidak menimbulkan rasa sakit dan bukan penyakit menular, vitiligo merupakan kondisi kronis yang dapat berkembang secara perlahan atau menyebar lebih luas seiring waktu.
Hingga kini belum ada obat yang dapat menyembuhkan vitiligo sepenuhnya. Namun, berbagai pilihan terapi dapat membantu memperlambat perkembangan penyakit atau mengembalikan sebagian warna kulit, seperti penggunaan obat oles, terapi cahaya (fototerapi), hingga tindakan medis tertentu sesuai kondisi pasien.
Selain penanganan medis, para ahli menekankan pentingnya dukungan psikologis karena perubahan penampilan akibat vitiligo sering kali berdampak pada kesehatan mental, memicu rasa minder, kecemasan, hingga menurunkan kepercayaan diri. Oleh karena itu, edukasi masyarakat dan penerimaan sosial menjadi bagian penting dalam meningkatkan kualitas hidup penyandang vitiligo.
Selain penanganan medis, dukungan psikososial dinilai menjadi aspek penting dalam membantu penyandang vitiligo menjalani kehidupan sehari-hari. Edukasi kepada masyarakat juga diperlukan agar stigma terhadap kondisi tersebut dapat berkurang.
President Direktur PT Regenesis Indonesia, Ir Emmy Noviawati, mengatakan komunitas penyandang vitiligo di Indonesia terus berkembang seiring meningkatnya kesadaran masyarakat mengenai kondisi tersebut.




