Teka-teki Sekuriti Ditemukan Tewas Terborgol di Waduk Jatiluhur

kumparan.com
7 jam lalu
Cover Berita

Seorang petugas sekuriti, Sumarna (42), ditemukan tewas mengapung di Waduk Jatiluhur, tepatnya di kawasan Tanggul Kayat, Kampung Kembang Kuning, Kecamatan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, Jumat (24/7).

Saat pertama kali ditemukan sekuriti itu masih berpakaian dinas lengkap dan tangannya dalam kondisi terborgol ke belakang. Mayat korban pertama kali ditemukan warga di sekitar.

Kasat Polairud Polres Purwakarta AKP Jamal Nasir membenarkan peristiwa itu. Ia mengatakan, pihaknya masih menyelidiki penyebab tewasnya korban.

"Begitu menerima laporan, personel kami langsung bergerak ke lokasi untuk mengamankan TKP, mengumpulkan barang bukti, dan meminta keterangan para saksi. Saat ini penyelidikan masih terus dilakukan untuk mengungkap fakta-fakta yang sebenarnya," kata Jamal kepada wartawan.

Berdasarkan keterangan saksi, korban terakhir kali terlihat pada Kamis (23/7) sekitar pukul 22.00 WIB. Saat itu, rekan kerjanya mendapati pos jaga dalam keadaan kosong, sementara sepeda motor korban masih terparkir di dekat lokasi.

Korban sempat dihubungi melalui telepon, namun tidak memberikan respons. Tak lama kemudian, handy talky (HT) miliknya ditemukan di atas sebuah perahu di sekitar waduk.

Kemudian pada Jumat siang, korban ditemukan tewas mengambang di perairan Waduk Jatiluhur, tidak jauh dari lokasi ditemukannya HT. Saat ditemukan, korban masih mengenakan seragam kerja.

Komunikasi Terakhir dengan Sang Istri

Istri korban, Siti Mariam (42), tak pernah menyangka, sosok suami yang biasa menemani hari-harinya kini telah tiada dengan kondisi tak wajar.

"Sedih. Kehilangan. Yang biasanya pulang pagi ini nggak ada," ucap Mariam saat ditemui di rumahnya di Desa Kembang Kuning, Kecamatan Jatiluhur, Sabtu (25/7).

Mariam menuturkan, terakhir kali ia berkomunikasi dengan suaminya sekitar pukul 22.00 WIB. Saat itu, mengirimkan chat WA terkait undangan rapat di desa.

Chat sang istri dibalas korban dengan mengirimkan foto. Pria yang sudah bekerja menjadi sekuriti selama 17 tahun itu juga menyampaikan pesan, "Ma, ini ada Danru (komandan regu) gak enak ditinggalin."

Malam itu Sumarna tidak pulang.

Mariam yang gelisah kemudian mencoba menelepon suaminya sekitar pukul 00.30 WIB. Namun, tidak diangkat. Chat WA yang dikirim juga hanya centang satu.

"Awalnya saya telepon tiga kali, tapi di-reject terus. Pas saya chat juga cuma centang satu. Dari situ hati saya makin nggak enak," katanya.

Karena diliputi rasa khawatir, Mariam mengajak anaknya untuk mendatangi pos tempat suaminya bertugas sekitar pukul 01.00 hingga 02.00 WIB. Namun saat tiba di lokasi, korban tidak berada di pos.

"Saya lihat ada dua orang yang masih muda di sana. Saya tanya lihat suami saya atau nggak, mereka bilang mungkin lagi keliling karena motornya juga nggak ada," tuturnya.

Meski telah kembali ke rumah, perasaan gelisah tak kunjung hilang. Sekitar pukul 04.30 WIB, Mariam kembali mendatangi lokasi seorang diri. Kali ini ia melihat sepeda motor milik suaminya sudah berada di dekat pos.

"Saya senang waktu lihat motornya ada. Saya kira suami saya ada di dalam pos, tapi pas saya cek ternyata nggak ada juga," ujarnya.

Di lokasi, ia bertemu dengan salah seorang petugas sekuriti yang bertugas satu shift dengan korban. Menurut informasi yang diterimanya saat itu, korban juga sedang dicari karena belum memberikan laporan sebagaimana mestinya.

Hingga akhirnya sekitar pukul 09.00 atau 10.00 WIB, seseorang datang ke rumah dan meminta dirinya segera bersiap karena suaminya telah ditemukan.

"Saya dijemput ke rumah dan dikasih tahu kalau suami saya sudah ketemu. Tapi ternyata pas saya tahu kondisinya sudah meninggal, saya langsung kalut dan nggak kuat," katanya.

Mariam baru dapat melihat suaminya kembali saat jenazah berada di RSUD Bayu Asih Purwakarta.

Sosok Suami Bertanggung Jawab

Kakak Ipar korban yang enggan disebut namanya, mengakui jika di mata keluarga, Sumarna dikenal sebagai sosok suami dan ayah yang bertanggung jawab.

Selama ini ia bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan tidak pernah menceritakan memiliki persoalan dengan siapa pun.

"Orangnya baik, bertanggung jawab sama keluarga. Nggak pernah cerita punya masalah atau musuh," ungkapnya.

Keluarga pun berharap polisi dapat mengungkap tuntas kasus kematian Sumarna dan menangkap pihak yang bertanggung jawab atas peristiwa tersebut.

Kesaksian Warga

Seorang warga setempat, Aji Mame (56 tahun) mengaku sempat melihat korban di malam sebelum dia ditemukan tewas atau Kamis (23/7). Pria yang biasa memulung di Waduk Jatiluhur itu, terlihat berada di pos sedang bicara dengan dua orang yang tak dikenali.

"Saya mau pulang itu jam setengah sepuluh malam. Di pos itu Beliau ada, lagi ngobrol sama anak-anak enggak tau siapa. Lama, dah, ada berdua," paparnya saat ditemui kumparan.

"Terus pas pagi, ada satpam dua tiga orang lagi nyari temannya ke bawah, tapi nggak nemu jadi ke atas lagi. Eh, kan tau-tau udah ramai penemuan," tambahnya.

Dengar Kabar soal Vandalisme

Aji juga mendengar kabar bahwa korban diduga sempat menegur pelaku vandalisme di Tanggul Kayat.

Pantauan kumparan pada Sabtu (25/7), Tanggul Kayat penuh coretan berwarna putih bertuliskan 'RPM', 'Fungli' serta 'BGR'.

"Sempet ngelarang (pelaku vandalisme) dengarnya mah," kata Aji.

Menurut Aji, Tangggul Kayat merupakan spot nongkrong favorit anak muda. Aktivitas mereka hingga larut malam.

"Tiap hari udah penuh orang dari jam 4 sore sampai tengah malam. Masih banyak orang yang pacaran yang main, geng motor," papar dia.

Polisi Bicara soal Dugaan Gangster

Di media sosial beredar kabar tewasnya korban berkaitan aksi vandalisme yang terjadi di Tanggul Kayat. Diduga pelakunya kelompok gangster.

Terkait hal itu, Kasat Reskrim Polres Purwakarta, AKP I Made Purwantara, belum bisa memastikannya.

"Kami belum bisa memastikan untuk itu (keterlibatan kelompok gangster), belum ada bukti pendukung keterkaitan gangster," ungkapnya.

Di media sosial beredar video coretan-coretan di Tanggul Kayat yang diduga direkam oleh komandan korban. Perekam video menyayangkan aksi vandalisme tersebut dan telah melaporkannya ke polisi. Diduga korban yang melaporkan vandalisme tersebut.

Untuk mengungkap penyebab kematian korban, polisi masih mengumpulkan sejumlah bukti. Di antaranya rekaman CCTV di sekitar lokasi kejadian.

"CCTV masih ditelusuri," jelasnya.

TKP Dipasang Garis Polisi

Garis polisi terpasang di lokasi tersebut sepanjang kurang lebih 3 meter.

Di lokasi itu, terdapat satu perahu milik warga yang diketahui telah lama bersandar dan sempat digunakan untuk menyusuri jenazah korban.

Tak jauh dari TKP, terdapat pula dermaga tempat bongkar muat hasil tangkapan ikan nelayan di sekitar Waduk Jatiluhur.

Warga hingga Rekan Kerja Diperiksa

Made menjelaskan, pihaknya telah melakukan olah TKP, visum hingga mengautopsi terhadap jenazah korban untuk mengetahui secara pasti penyebab kematiannya.

Selain itu, kepolisian juga sudah memeriksa 12 saksi meliputi rekan kerja korban dan warga setempat.

"Saksi yang sudah di periksa sebanyak 12 saksi, baik warga hingga rekan kerja, sementara kasusnya masih dalam penyelidikan dan penyidikan serta mengembangkan pelaku," ujar Made.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kasus Ijazah Makin Panjang, Citra Jokowi Justru Makin Diuntungkan
• 8 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Danantara Tunjuk Sucofindo Jadi Verifikator Tata Kelola Ekspor Batu Bara dkk
• 20 jam laluidxchannel.com
thumb
SMAN 8 Kota Ternate Juara LCC Empat Pilar MPR RI dan Siap Wakili Maluku Utara ke Final Nasional
• 5 jam lalupantau.com
thumb
Pemerintah Berlakukan Bea Masuk 0 Persen untuk Impor Suku Cadang Pesawat dan LPG Demi Dorong Daya Saing Industri
• 17 jam lalupantau.com
thumb
Gemilang, SMAN 8 Kota Ternate Sabet Juara 1 di LCC 4 Pilar MPR Maluku Utara
• 19 jam lalujpnn.com
Berhasil disimpan.