jpnn.com, JAKARTA - Director of Paramadina Graduate School of Diplomacy (PGSD) Universitas Paramadina, Jakarta Ahmad Khoirul Umam, PhD merespons survei terbaru Granite State Poll, University of New Hampshire Survey Center menunjukkan bahwa kontestasi menuju Pilpres AS 2028 bukan lagi sekadar persaingan figur, melainkan pertarungan arah ideologi Partai Demokrat.
Menurut Khoirul Umam, kenaikan signifikan Alexandria Ocasio-Cortez (AOC) dari 14% menjadi 22% menandakan menguatnya pengaruh kubu progresif, sementara Pete Buttigieg tetap stabil di kisaran 19–21%, mencerminkan kuatnya basis moderat.
BACA JUGA: Kisah Ima, Anak Turiyo dan Alimah yang Diundang ke Konvensi Demokrat AS
Sebaliknya, merosotnya dukungan terhadap Kamala Harris dan Gavin Newsom menunjukkan bahwa kelompok establishment mulai kehilangan dominasi politik.
Khoirul Umam menyebut terdapat tiga poros kekuatan yang kini bersaing menentukan masa depan Partai Demokrat: Progressive Democrats (AOC–Bernie Sanders), Moderate Democrats (Pete Buttigieg–Josh Shapiro), dan Establishment Democrats (Kamala Harris–Gavin Newsom).
BACA JUGA: Gerindra: Prabowo Setuju Ketua MPR dari Demokrat, Asal ...
"Pertarungan ini akan menentukan wajah kebijakan Amerika Serikat setelah 2028," ujar Khoirul Umam dalam keterangan tertulis pada Minggu (26/7/2026).
Menurut Khoirul Umam, iImplikasinya melampaui politik domestik AS. Dalam isu Iran–Israel, menguatnya kubu progresif berpotensi mendorong pendekatan yang lebih kritis terhadap dukungan tanpa syarat kepada Israel, dengan penekanan lebih besar pada diplomasi, hak asasi manusia, dan hukum humaniter internasional.
BACA JUGA: Jokowi dan AHY Bertemu, Khoirul Umam: Sinyal Soliditas Infrastruktur Pemenangan Prabowo-Gibran
"Sebaliknya, kubu moderat cenderung mempertahankan komitmen terhadap aliansi strategis Amerika sambil mengelola eskalasi konflik melalui jalur diplomasi," ujarnya.
?Dalam kompetisi dengan Tiongkok, kata dia, siapa pun kandidat Demokrat hampir pasti tetap mempertahankan strategi strategic competition.
Namun, pendekatannya akan berbeda. Kelompok moderat lebih mengedepankan penguatan aliansi, keamanan, dan daya saing ekonomi, sedangkan kelompok progresif akan mengaitkan persaingan dengan isu perubahan iklim, hak asasi manusia, teknologi, dan keadilan ekonomi global.
?Bagi Indonesia, kata Khoirul Umam, dinamika ini penting untuk dicermati. Pergantian kepemimpinan di Washington berpotensi mengubah prioritas diplomasi Amerika di kawasan Indo-Pasifik.
"Indonesia perlu mempertahankan politik luar negeri bebas dan aktif, memperkuat hubungan dengan seluruh kekuatan besar, serta memanfaatkan setiap perubahan konfigurasi politik Amerika Serikat untuk memperluas kerja sama ekonomi, investasi, teknologi, dan keamanan tanpa terjebak dalam rivalitas geopolitik," ujar Khoirul Umam.(fri/jpnn)
Redaktur & Reporter : Friederich Batari


