Meta Batalkan Komitmen Energi Bersih, Pilih Gas Alam demi Kejar Ledakan AI

katadata.co.id
4 jam lalu
Cover Berita

Meta Platforms memutuskan keluar dari komitmen global penggunaan energi terbarukan 100% (RE100). Langkah itu diambil di tengah lonjakan kebutuhan listrik untuk mendukung ekspansi kecerdasan buatan (AI).

Keputusan tersebut menandai perubahan strategi perusahaan induk Facebook, Instagram, WhatsApp, dan Threads itu dalam memenuhi kebutuhan energi pusat data (data center) mereka.

Selama ini, Meta dikenal sebagai salah satu perusahaan teknologi yang berkomitmen menggunakan listrik dari sumber energi terbarukan. Namun, meningkatnya kebutuhan komputasi AI membuat perusahaan menilai pasokan energi bersih belum mampu mengimbangi pertumbuhan konsumsi listrik yang dibutuhkan.

Sebagai konsekuensinya, Meta kini membuka peluang lebih besar untuk menggunakan pembangkit listrik berbahan bakar gas alam guna memasok listrik ke data center barunya. Langkah tersebut dinilai sebagai solusi yang lebih cepat dibandingkan dengan harus menunggu pembangunan pembangkit energi terbarukan maupun jaringan transmisi listrik baru.

Langkah Meta keluar dari RE100 terjadi di tengah masifnya pembangunan pusat data oleh perusahaan-perusahaan teknologi untuk mendukung pengembangan kecerdasan buatan (AI). Perusahaan itu bahkan telah menjalin kerja sama dengan sejumlah utilitas listrik untuk membangun dan mengoperasikan pembangkit berbahan bakar gas alam, termasuk 10 pembangkit yang akan memasok listrik bagi pusat data Hyperion di Louisiana, AS, saja.

Kepada AFP, juru bicara Meta menegaskan bahwa perusahaan tetap meningkatkan investasi di sektor energi terbarukan. Menurutnya, keputusan keluar dari RE100 tidak mengubah target Meta untuk tetap menyeimbangkan seluruh konsumsi listriknya dengan pasokan energi bersih.

Meta mengklaim telah mencapai target tersebut secara konsisten sejak 2020 melalui kerja sama dengan berbagai penyedia energi terbarukan, terutama lewat perjanjian pembelian listrik atau power purchase agreement (PPA) jangka panjang.

Namun, Climate Group, organisasi yang mengelola inisiatif RE100, menilai pendekatan Meta itu sudah tidak lagi memenuhi persyaratan keanggotaan. Kepada Recharge News, organisasi tersebut menyatakan bahwa setelah melalui serangkaian pembahasan dengan Meta, perusahaan akhirnya memilih mengundurkan diri dari RE100.

"Setelah beberapa percakapan mendalam antara Meta dan Climate Group, Meta telah menarik diri dari inisiatif RE100 karena tidak lagi dapat memenuhi kriteria teknis sebagai akibat investasi yang dilakukan pada pembangkit listrik berbahan bakar gas baru," ujar juru bicara Climate Group.

Kebutuhan listrik industri AI memang meningkat sangat pesat. Pelatihan dan pengoperasian model AI modern membutuhkan ribuan hingga jutaan chip berperforma tinggi yang harus beroperasi tanpa henti di pusat data berskala besar. Kondisi tersebut membuat konsumsi listrik perusahaan teknologi melonjak dalam beberapa tahun terakhir.

Di sisi lain, pembangunan pembangkit listrik tenaga surya maupun angin membutuhkan waktu bertahun-tahun, sementara permintaan listrik dari industri AI terus bertambah dalam waktu singkat. Akibatnya, perusahaan teknologi mulai mencari sumber energi yang dapat segera dioperasikan untuk menjaga keandalan pasokan listrik.

Gas alam menjadi salah satu pilihan karena dapat menghasilkan listrik secara stabil dan lebih cepat tersedia dibanding proyek energi terbarukan baru. Meski menghasilkan emisi karbon lebih rendah dibanding batu bara, gas alam tetap merupakan bahan bakar fosil sehingga tidak termasuk kategori energi terbarukan.

Selain itu, penggunaan gas alam juga menuai kritik karena proses pengeboran dan ekstraksinya dapat memicu kebocoran metana, salah satu gas rumah kaca yang memiliki dampak besar terhadap pemanasan global.

Tak hanya itu, pembakaran gas alam juga menghasilkan berbagai polutan udara, seperti nitrogen oksida, sulfur, merkuri, dan partikel halus. Di sisi lain, metode pengeboran hidrolik atau fracking yang digunakan untuk mengekstraksi gas alam juga dinilai berpotensi mencemari sumber air tanah.

Keputusan Meta dipandang sebagai sinyal bahwa industri teknologi mulai menghadapi dilema antara memenuhi target keberlanjutan dan memenuhi kebutuhan energi untuk mengembangkan AI. Sejumlah perusahaan teknologi lain juga dilaporkan mulai mempertimbangkan kombinasi energi terbarukan, gas alam, hingga tenaga nuklir untuk menopang ekspansi pusat data mereka.

Analis menilai perubahan strategi ini berpotensi meningkatkan prospek bisnis perusahaan penyedia gas alam, operator utilitas listrik, produsen turbin pembangkit, hingga pengembang data center yang menjadi tulang punggung perkembangan industri AI.

Meta bukan satu-satunya perusahaan teknologi yang mulai mengandalkan gas alam untuk memenuhi kebutuhan listrik pusat data AI. Bulan lalu, Microsoft menandatangani kesepakatan dengan Chevron untuk memasok listrik berbasis gas alam ke pusat data miliknya di Texas Barat. Sementara itu, menurut sejumlah laporan media, Google juga dilaporkan tengah menjajaki kemitraan serupa.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Bus Dinas Diduga Kabur Setelah Tabrak Ojol, Kemhan: Sudah Diselesaikan Secara Damai
• 21 jam laluokezone.com
thumb
Trump: Kami Sudah Siap Tempur Lawan Iran
• 1 jam lalurepublika.co.id
thumb
Dewa United perkenalkan Osmar Loss sebagai pelatih anyar
• 17 jam laluantaranews.com
thumb
Dari PRSU Hingga Kursi Kepemimpinan: Kisah "Cinta Tukang Parkir'
• 3 jam lalumediaapakabar.com
thumb
Timnas Indonesia Hajar Kamboja di Babak Pertama? Statistik Mengerikan John Herdman Ini Bisa Kembali Tercipta
• 6 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.