Krisis air bersih akibat kemarau panjang mulai berdampak serius bagi warga di kawasan pesisir, khususnya di Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Sudah lebih dari tiga bulan, warga terpaksa bertahan hidup dengan mengandalkan air keruh dan asin dari sumur tadah hujan yang kian mengering.
Di Desa Ampe Kale, warga tidak memiliki pilihan lain selain menggunakan air yang secara kualitas tidak layak untuk keperluan mandi dan mencuci. Sementara untuk kebutuhan konsumsi seperti minum dan memasak, warga harus mengeluarkan biaya ekstra.
Hasnah, salah satu warga setempat, mengaku harus membeli air bersih dari penjual keliling dengan harga Rp2.500 per jeriken. Dalam sebulan, ia bisa menghabiskan hingga Rp500.000 hanya untuk mencukupi kebutuhan air minum dan memasak.
"Air dari sumur hanya untuk mandi, cuci piring, dan baju. Kalau untuk minum dan masak, kami beli. Sebulan bisa habis sekitar Rp500.000," ujar Hasnah dikutip dari tayangan Selamat Pagi Indonesia, Metro TV, Minggu, 26 Juli 2026.
Perjuangan warga untuk mendapatkan air pun tidak mudah. Mereka harus berjalan kaki lebih dari satu kilometer sambil mendorong gerobak atau memikul ember. Aktivitas ini dilakukan hingga tiga kali sehari demi memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Dikutip dari tayangan Selamat Pagi Indonesia, berdasarkan data pemerintah setempat, terdapat enam kecamatan di Kabupaten Maros yang terdampak kekeringan, dengan kondisi terparah berada di wilayah pesisir Kecamatan Bontoa. Pemerintah daerah melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dilaporkan telah rutin menyalurkan bantuan air bersih ke titik-titik terdampak.
Baca Juga :
BNPB Siapkan Upaya Mitigasi Kekeringan di NTBKondisi serupa juga terjadi di Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat. Sedikitnya 400 hektare lahan persawahan kini dilanda kekeringan hebat. Para petani dihantui ancaman gagal panen (puso), padahal usia tanaman padi rata-rata telah memasuki dua bulan atau masa "bunting".
Jika kondisi ini terus berlanjut tanpa pasokan air yang cukup, kerugian petani diprediksi mencapai ratusan juta rupiah. Sebagai upaya mitigasi, para petani kini berusaha menyelamatkan tanaman mereka dengan memasang mesin pompa air untuk menyedot sisa-sisa air sungai ke sawah, serta membuat sumur bor secara mandiri.
Pemerintah diharapkan segera turun tangan memberikan solusi jangka panjang guna mengatasi krisis air dan kekeringan yang rutin terjadi setiap musim kemarau di kedua wilayah tersebut.




