China kembali menunjukkan posisinya sebagai pendukung utama Iran di tengah memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah. Menteri Luar Negeri China Wang Yi menegaskan Beijing akan tetap mendukung Teheran dalam menjaga kedaulatan, keamanan, dan martabat nasionalnya, sekaligus mendorong penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi.
Pernyataan itu disampaikan Wang Yi saat bertemu Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi di sela pertemuan para menteri luar negeri negara anggota Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO) di Cholpon-Ata, Kirgizstan, Jumat (24/7/2026).
"Sebagai mitra strategis komprehensif, China dengan tegas mendukung Iran dalam menjaga kedaulatan, keamanan, dan martabat nasionalnya," ujar Wang Yi sebagaimana dikutip dari laman Kementerian Luar Negeri China.
Dalam pertemuan tersebut, Wang Yi mengungkapkan keprihatinan China terhadap meningkatnya kembali ketegangan di kawasan Teluk Timur Tengah. Menurutnya, nota kesepahaman yang ditandatangani lebih dari sebulan lalu merupakan hasil penting dari proses mediasi dan perundingan berbagai pihak yang tidak boleh disia-siakan.
Ia menilai kesepahaman tersebut mencerminkan harapan masyarakat Iran maupun negara-negara di Timur Tengah untuk mengakhiri konflik dan menciptakan stabilitas kawasan.
Wang Yi menegaskan pintu diplomasi yang telah terbuka tidak seharusnya kembali ditutup. Selama peluang perdamaian masih ada, menurutnya, seluruh pihak harus tetap mengedepankan dialog dan melaksanakan kembali kesepahaman yang telah dicapai.
China, lanjut Wang Yi, akan tetap berpegang pada empat usulan Presiden Xi Jinping mengenai pemeliharaan perdamaian dan stabilitas di Timur Tengah. Beijing juga menyatakan siap mendukung upaya mediasi Pakistan dan berbagai pihak lainnya guna mempercepat dimulainya kembali dialog antara pihak-pihak yang bertikai.
Selain itu, China mendorong penyelesaian persoalan Selat Hormuz secara tepat, memperbaiki hubungan antarnegara di kawasan, serta ikut merumuskan sistem keamanan kolektif bagi negara-negara Teluk sebagai bagian dari upaya memulihkan stabilitas regional.
Sementara itu, Menlu Iran Abbas Araghchi menyampaikan perkembangan terbaru mengenai situasi di kawasan Teluk. Ia menuduh Amerika Serikat telah melanggar nota kesepahaman yang sebelumnya disepakati kedua pihak sehingga memicu meningkatnya kembali ketegangan.
Meski demikian, Araghchi menegaskan Iran tetap berkomitmen pada jalur perundingan dan tidak menginginkan konflik terus berlanjut. Teheran juga mendesak Washington memenuhi komitmennya, menahan diri, dan mencari solusi yang tepat melalui diplomasi.
Menurut Araghchi, komunikasi dan koordinasi antara Iran dan China perlu semakin diperkuat mengingat kedua negara merupakan mitra strategis komprehensif. Ia juga menyampaikan apresiasi atas sikap China yang dinilai konsisten mendorong perdamaian dan penghentian perang.
Iran berharap Beijing terus memainkan peran penting dalam membantu meredakan ketegangan dan menurunkan eskalasi di Timur Tengah.
Baca Juga: 30 Perusahaan China Jajaki Investasi di RI, Potensi Kerja Sama Tembus Rp35,7 Triliun
Sebelumnya, Amerika Serikat dan Iran telah menandatangani kesepakatan mengenai perdamaian dan penghentian konflik pada 18 Juni 2026. Namun situasi kembali memanas setelah sejak 8 Juli pasukan Amerika Serikat melancarkan beberapa gelombang serangan terhadap Iran.
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan serangan tersebut dilakukan sebagai respons atas tindakan Iran terhadap kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz, sehingga kembali meningkatkan ketidakpastian keamanan di salah satu jalur perdagangan energi paling strategis di dunia.





