RAJA AMPAT -- Kementerian Kehutanan (Kemenhut) terus memperkuat upaya rehabilitasi ekosistem pesisir di Raja Ampat, Papua Barat Daya.
Melalui Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Remu Ransiki, sebanyak 900 bibit mangrove ditanam bersama masyarakat dan berbagai pemangku kepentingan sebagai bagian dari upaya menjaga kelestarian kawasan pesisir.
Program ini menjadi bagian dari komitmen pemerintah dalam mendukung pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan, sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto melalui Asta Cita yang menekankan pentingnya pelestarian lingkungan, perlindungan keanekaragaman hayati, dan pembangunan berkelanjutan.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni terus mendorong percepatan rehabilitasi hutan dan lahan, termasuk kawasan mangrove, melalui kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, perguruan tinggi, dunia usaha, dan berbagai mitra pembangunan.
Kepala BPDAS Remu Ransiki, Zayinul Farhi, mengatakan rehabilitasi mangrove memiliki manfaat besar, tidak hanya untuk meningkatkan tutupan vegetasi pesisir, tetapi juga memperkuat perlindungan garis pantai dari abrasi, menjaga habitat berbagai biota laut, hingga menyerap karbon untuk mendukung pengendalian perubahan iklim.
“Mangrove merupakan benteng alami kawasan pesisir. Keberadaannya berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem, melindungi garis pantai dari abrasi, menyerap karbon, sekaligus menjadi habitat berbagai jenis ikan, kepiting, dan satwa lainnya,” kata Zayinul Farhi, Sabtu (25/7/2026).
Menurutnya, rehabilitasi mangrove merupakan investasi jangka panjang bagi kelestarian lingkungan sekaligus kesejahteraan masyarakat yang menggantungkan hidup dari kawasan pesisir.
Kegiatan penanaman melibatkan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Universitas Gadjah Mada (UGM), masyarakat setempat, pemerintah daerah, serta berbagai pihak lainnya.
Kolaborasi ini diharapkan mampu memperkuat semangat gotong royong dalam menjaga Raja Ampat yang dikenal sebagai salah satu kawasan dengan keanekaragaman hayati laut terkaya di dunia.
Selain penanaman, peserta juga mendapatkan edukasi mengenai fungsi ekologis mangrove, teknik penanaman yang benar, serta pentingnya pemeliharaan agar bibit dapat tumbuh optimal.
Kementerian Kehutanan menegaskan bahwa rehabilitasi mangrove bukan hanya kegiatan penanaman pohon, tetapi juga bagian dari strategi nasional untuk mendukung penurunan emisi gas rumah kaca, menjaga keanekaragaman hayati, melindungi kawasan pesisir, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan.
Melalui sinergi berbagai pihak, Kemenhut berharap rehabilitasi mangrove di Raja Ampat dapat menjadi contoh kolaborasi dalam menjaga ekosistem pesisir Indonesia sekaligus memperkuat upaya pelestarian lingkungan bagi generasi mendatang. (*)





