Pantau - Pemanfaatan riset dan inovasi di bidang kebudayaan didorong menjadi langkah strategis untuk menjaga ketahanan identitas lokal Kalimantan Timur di tengah modernisasi dan pesatnya pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN).
DPR Dorong Kebudayaan Jadi Fondasi PembangunanKetua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian menegaskan pembangunan daerah tidak boleh hanya berfokus pada kemajuan teknologi dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga harus menjadikan kebudayaan sebagai fondasi pembangunan berkelanjutan.
Ia mengungkapkan, "Investasi pada kebudayaan sering kali dianggap oleh pemerintah daerah maupun pusat sebagai sumber pengeluaran semata. Padahal, dukungan terhadap entitas budaya merupakan investasi masa depan yang berdampak kuat pada penguatan ekonomi dan kohesi sosial."
Hetifah mengatakan Komisi X DPR RI terus mendorong kolaborasi riset dan inovasi untuk melindungi sekitar 5.385 entitas kebudayaan di Kalimantan Timur yang mencakup cagar budaya dan warisan budaya tak benda.
Menurutnya, pelestarian budaya menghadapi tantangan berupa berkurangnya jumlah penutur bahasa daerah serta rendahnya minat generasi muda terhadap ilmu budaya.
Ia mendorong pemanfaatan teknologi digital dan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) untuk memperkuat pelestarian tradisi agar tidak terdegradasi.
Brida Kaltim Kembangkan Riset dan Pelestarian Bahasa DaerahKepala Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida) Kalimantan Timur Fitriansyah mengatakan peningkatan kapasitas sumber daya manusia di bidang sains juga harus mencakup aspek sosial, bahasa, seni, dan budaya.
Ia mengungkapkan, "Setiap kebijakan baru harus didahului oleh riset agar tidak sia-sia atau science-based policy. Melalui riset kebudayaan yang telah kami lakukan di sekitar wilayah IKN, kami berhasil menemukan benda purbakala yang dinamakan Tapak Ulu serta mengkaji ritus pengobatan Dayak Belian yang menunjukkan urgensi pelindungan terhadap 108 jenis tanaman obat yang terancam punah."
Brida Kalimantan Timur juga mengembangkan aplikasi permainan Edu Etam untuk membiasakan anak-anak menggunakan bahasa Kutai sebagai bagian dari upaya pelestarian bahasa daerah.
Selain itu, Brida mendorong perlindungan hukum terhadap urban heritage atau bangunan cagar budaya berusia lebih dari 50 tahun di Samarinda, Balikpapan, dan Bontang.




