Pickleball mulai mencuri perhatian sebagai olahraga raket yang berkembang pesat di berbagai negara kawasan Asia Tenggara, termasuk Singapura dan Malaysia.
Dilansir dari berbagai sumber, pickleball diciptakan pada musim panas tahun 1965 di Pulau Bainbridge, Washington, Amerika Serikat oleh tiga orang ayah: Joel Pritchard, Bill Bell, dan Barney McCallum.
Mereka membuat permainan ini untuk menghibur anak-anak mereka menggunakan lapangan bulu tangkis, raket kayu buatan, dan bola plastik berlubang.
Saat ini, popularitasnya yang terus meningkat membuat olahraga perpaduan tenis, badminton, dan tenis meja itu diprakirakan memiliki peluang besar untuk berkembang di Indonesia, termasuk Surabaya.
Hendra Susanto sport enthusiast asal Kota Pahlawan menilai pickleball memiliki daya tarik karena mudah dipelajari oleh masyarakat dari berbagai kalangan. Menurutnya, siapa pun yang pernah memainkan olahraga raket tidak akan kesulitan beradaptasi dengan permainan tersebut.
“Pickleball merupakan kombinasi badminton, tenis, dan tenis meja. Menurut saya, olahraga ini lebih mudah dimainkan masyarakat karena banyak orang sudah terbiasa memegang raket,” ujar Hendra pada Minggu (26/7/2026).
Ia mengaku pertama kali mengenal pickleball saat berkunjung ke Malaysia. Meski sempat merasa asing dengan aturan permainannya, pengalaman itu justru membuatnya tertarik karena permainan berlangsung cepat, menyenangkan, dan mudah dinikmati.
“Saya sendiri pertama kali mencoba pickleball di Malaysia. Awalnya bingung, tetapi setelah dimainkan ternyata sangat menarik. Bahkan di Malaysia dan Singapura, popularitas pickleball menurut saya sudah berkembang pesat,” bilang owner Zuper itu.
Menurut Hendra, salah satu keunggulan pickleball dibanding olahraga raket lainnya adalah jangkauan pemain yang lebih luas. Olahraga ini dapat dimainkan oleh anak-anak hingga lanjut usia, baik untuk rekreasi maupun kompetisi.
“Saya melihat olahraga ini memiliki segmen yang lebih luas dibanding padel. Semua kalangan, baik bawah, menengah, maupun atas, bisa menikmatinya. Saya ingin olahraga ini bisa dijangkau lebih banyak orang sehingga semua memiliki kesempatan yang sama untuk hidup sehat dan bersenang-senang,” ujarnya selepas Zuper Runfest 5K.
Hendra Susanto sport enthusiast asal Surabaya sekaligus owner Zuper. Foto: Shava suarasurabaya.netMeski demikian, Hendra menilai perkembangan sebuah cabang olahraga tidak hanya bergantung pada tren, tetapi juga pembinaan yang berkelanjutan. Ia berharap pickleball di Indonesia mampu berkembang hingga melahirkan atlet-atlet yang mampu bersaing di level internasional.
“Jangan sampai negara lain yang wilayahnya lebih kecil justru lebih berprestasi, sementara Indonesia tidak mampu melahirkan atlet-atlet potensial. Saya berharap olahraga ini juga bisa berkembang di Indonesia,” tuturnya.
Ia juga optimistis ekosistem pickleball akan semakin kuat. Menurutnya, komunitas dan organisasi olahraga tersebut sudah mulai terbentuk dan akan terus berkembang seiring meningkatnya jumlah peminat.
“Setahu saya sudah ada komunitas maupun asosiasinya. Saya yakin seiring perkembangan olahraga ini, organisasi dan federasinya juga akan semakin kuat seperti cabang olahraga lainnya,” katanya.
Dari sisi biaya, Hendra menyebut pickleball relatif ramah di kantong. Peralatan dasar seperti raket sudah bisa diperoleh dengan harga sekitar Rp400 ribu hingga Rp500 ribu. Namun, ia menyarankan masyarakat tidak terburu-buru membeli perlengkapan.
“Yang terpenting bukan perlengkapannya, melainkan kemampuan bermain. Kami menyarankan masyarakat mencoba dulu menggunakan raket pinjaman. Setelah benar-benar menyukai olahraga ini, barulah membeli perlengkapannya sendiri sesuai kebutuhan. Yang terpenting adalah menumbuhkan rasa senang berolahraga terlebih dahulu,” ujarnya.
Sebagai upaya memperkenalkan olahraga ini kepada masyarakat Surabaya, Hendra mengungkapkan rencana ekspansi fasilitas olahraga melalui Zuper. Venue baru di Jalan Arief Rahman Hakim akan dilengkapi dua lapangan pickleball berstandar internasional. (saf/ham)




