REPUBLIKA.CO.ID, Syukur dan sabar merupakan dua akhlak utama yang selalu diajarkan kepada setiap Muslim. Namun, muncul pertanyaan yang telah lama menjadi bahan perenungan para ulama: manakah yang lebih utama di sisi Allah SWT, orang yang bersyukur atas nikmat atau orang yang bersabar ketika menghadapi ujian?
Imam Abu Hamid Muhammad ibn Muhammad al-Ghazali yang dikenal Imam Al-Ghazali dalam Minhajul Abidin mengulas perbedaan pandangan antara bersyukur dan bersabar yang lebih Utama. Imam Al-Ghazali menjelaskan hubungan mendalam antara syukur dan sabar yang pada hakikatnya saling melengkapi dalam perjalanan seorang hamba menuju Allah SWT.
Baca Juga
Pemukim Yahudi Menggila, Bakar Masjid di Tepi Barat
Benarkah Ikhlas Tertinggi Itu tak Mengharap Surga atau Takut kepada Neraka? Ini Penjelasan Ulama
Mengungkap Hikmah di Balik Enam Perkara yang Dirahasiakan Allah kepada Manusia
Dijelaskan bahwa ada yang berpendapat, orang yang bersyukur itu lebih utama. Ini berdasarkan dalil firman Allah Ta'ala berikut ini. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: .rec-desc {padding: 7px !important;} يَعْمَلُوْنَ لَهٗ مَا يَشَاۤءُ مِنْ مَّحَارِيْبَ وَتَمَاثِيْلَ وَجِفَانٍ كَالْجَوَابِ وَقُدُوْرٍ رّٰسِيٰتٍۗ اِعْمَلُوْٓا اٰلَ دَاوٗدَ شُكْرًا ۗوَقَلِيْلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُوْرُ . . . . . . Sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang banyak bersyukur. (QS Saba' Ayat 13) Allah SWT menempatkan orang yang bersyukur sebagai orang-orang yang khusus dari yang khusus. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman ketika memuji Nabi Nuh Alaihissalam. ذُرِّيَّةَ مَنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوْحٍۗ اِنَّهٗ كَانَ عَبْدًا شَكُوْرًا (Wahai) keturunan orang yang Kami bawa bersama Nuh, sesungguhnya dia (Nuh) adalah hamba (Allah) yang banyak bersyukur.” (QS Al-Isra' Ayat 3) Demikian juga dengan apa yang pernah dimohon oleh Nabi Ibrahim Alaihissalam, seperti diceritakan dalam firman Allah Ta'ala. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: شَاكِرًا لِّاَنْعُمِهِ ۖاجْتَبٰىهُ وَهَدٰىهُ اِلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍ (Ibrahim) bersyukur atas nikmat-nikmat-Nya (dan Allah) telah memilih serta menunjukannya ke jalan yang lurus. (QS An-Nahl Ayat 121) Karena syukur berada pada tataran nikmat dan keselamatan (afiyah), maka ada yang mengatakan, “Kalau aku diberi nikmat, kemudian aku bersyukur, maka hal itu lebih aku sukai daripada diuji kemudian bersabar.”