CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Militer Amerika Serikat (AS) melakukan inspeksi terhadap sebuah kapal tanker berbendera Komoro di Laut Arab sebagai bagian dari penegakan blokade maritim terhadap Iran.
Langkah tersebut diumumkan oleh Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) melalui pernyataan resminya pada Sabtu (26/7).
Dalam keterangannya, CENTCOM menyebut proses verifikasi terhadap kapal tanker M/T Charminar telah selesai dilakukan. Setelah pemeriksaan berakhir, kapal tersebut diizinkan melanjutkan pelayarannya.
"Hari ini, pasukan AS telah menyelesaikan proses verifikasi dengan naik ke atas kapal M/T Charminar berbendera Komoro di Laut Arab dan tanker tersebut kini telah melanjutkan perjalanannya," tulis CENTCOM.
Selain melakukan inspeksi terhadap kapal tanker tersebut, militer AS juga mengalihkan 12 kapal komersial yang diklaim berupaya melewati blokade maritim yang diberlakukan terhadap Iran. Menurut CENTCOM, langkah tersebut merupakan bagian dari operasi pengamanan jalur pelayaran di kawasan.
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat dalam beberapa pekan terakhir. Sebelumnya, pada Kamis (24/7), Presiden AS Donald Trump menyatakan pemerintahannya akan memanfaatkan aset-aset Iran yang dibekukan di bawah kendali AS sebagai kompensasi atas potensi kerugian terhadap kapal maupun muatan yang terdampak situasi keamanan di sekitar Selat Hormuz.
Padahal, kedua negara sebelumnya telah menandatangani nota kesepahaman pada 18 Juni yang bertujuan mengakhiri konflik yang berlangsung sejak akhir Februari.
Meski demikian, situasi kembali memanas setelah militer AS melancarkan serangkaian operasi militer ke wilayah Iran sejak 8 Juli. CENTCOM menyatakan operasi tersebut dilakukan sebagai respons atas tindakan Iran terhadap kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz.
Di sisi lain, Iran membalas dengan meluncurkan serangan ke sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Pemerintah Iran menilai langkah Washington telah melanggar kesepakatan gencatan senjata yang sebelumnya disepakati kedua belah pihak.
Presiden Donald Trump juga menyatakan bahwa gencatan senjata tersebut sudah tidak lagi berlaku. Kondisi itu membuat ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali menjadi perhatian dunia, terutama terkait keamanan jalur pelayaran internasional dan distribusi energi global.
Sumber: Sputnik/Antara




