Menurut Almira, salah satu hal penting yang perlu diperhatikan calon pendaftar adalah membangun portofolio diri yang selaras dengan pengalaman, aktivitas yang sedang dilakukan, hingga rencana masa depan. Selain itu, persiapan kemampuan bahasa Inggris, khususnya IELTS, juga perlu dilakukan sejak jauh-jauh hari.
Sebelum menyimak tipsnya, calon pendaftar perlu mengenal terlebih dahulu program Beasiswa Erasmus Mundus. Simak selengkapnya. Apa Itu Beasiswa Erasmus Mundus? Mengutip laman erasmus-plus.ec.europa.eu, Erasmus Mundus Joint Master's (EMJM) merupakan program magister internasional bergengsi yang dirancang dan diselenggarakan bersama oleh sejumlah perguruan tinggi di Eropa.
Program ini melibatkan minimal tiga institusi dari tiga negara berbeda serta sejumlah mitra dari sektor akademik maupun non-akademik. Peserta akan menjalani masa studi selama satu hingga dua tahun akademik yang mencakup kegiatan perkuliahan, penelitian, hingga penyusunan dan pertahanan tesis.
Bagi mahasiswa dengan peringkat terbaik dari seluruh dunia, tersedia beasiswa penuh yang mencakup biaya partisipasi program, tunjangan hidup, biaya perjalanan, hingga biaya visa. Setelah mengetahui gambaran umum program tersebut, berikut tips langsung dari Almira Rahma yang berhasil meraih kesempatan menjadi awardee Erasmus Mundus 2026.
Almira Rahma merupakan salah satu penerima Beasiswa Erasmus Mundus Joint Master's (EMJM) tahun 2026 pada program Copernicus Master in Digital Earth. Melalui program tersebut, Almira akan menjalani studi di dua universitas Eropa, yaitu Paris Lodron University of Salzburg di Austria dan Palacký University Olomouc di Ceko.
Almira mengatakan setiap program beasiswa memiliki standar dan kriteria penilaian yang berbeda-beda. Karena itu, calon pendaftar perlu memahami karakteristik program yang dituju sebelum mulai mempersiapkan diri.
"Sebenarnya setiap program itu punya kriteria yang beda-beda, mereka mencarinya juga macam-macam gitu standar setiap pemberi beasiswa. Nah, kebetulan mungkin kalau saya sedikit kayak reflektif beberapa beasiswa dan juga apa yang pernah saya lakukan, menurut saya salah satu tipsnya itu adalah membangun portfolio diri," ujar Mira, sapaan karib Almira Rahma kepada Medcom.id di Jakarta, Sabtu, 25 Juli 2026.
Menurut Almira, portofolio tidak hanya berisi daftar pengalaman yang pernah dilakukan. Lebih dari itu, calon penerima beasiswa perlu menunjukkan hubungan antara pengalaman masa lalu, kegiatan yang sedang dijalani, hingga rencana yang ingin dicapai ke depan.
Ia menjelaskan portofolio yang baik adalah ketika setiap pengalaman memiliki keterkaitan dan mendukung tujuan yang ingin dicapai. Mira menuturkan calon pendaftar juga dapat melihat kembali bagian mana yang masih kurang dari perjalanan akademik maupun profesionalnya.
"Maksudnya dari pas experience terus apa yang sedang dikerjakan sekarang dan future experience-nya itu kalau bisa in-line gitu. Jadinya memang ada yang, misalnya kita ada gap yang bisa kita lihat, kemudian memang ada yang ingin kita isi, seperti itu," beber Mira. IELTS Penting tapi Jangan Dibuat Stres Selain membangun portofolio, Almira juga mengingatkan calon pendaftar untuk mempersiapkan kemampuan bahasa Inggris, terutama sertifikat IELTS. Menurutnya, IELTS menjadi salah satu persyaratan yang membutuhkan waktu cukup panjang sehingga sebaiknya dipersiapkan sebelum mulai mengurus dokumen lainnya.
"Persiapan IELTS itu juga salah satu PR-nya. Yang penting menurut saya kalau mau daftar beasiswa apapun, selama kita sudah ada IELTS, sebenarnya persyaratan yang lain itu lebih mudah untuk kita penuhi, karena memang IELTS itu yang paling makan Waktu," ungkap dia.
Meski begitu, Almira mengingatkan agar calon pendaftar tidak menjadikan IELTS sebagai sesuatu yang terlalu membebani. Sebab, kebutuhan skor IELTS dapat berbeda tergantung negara dan universitas tujuan.
"Terus juga mungkin targetnya juga, misalnya memang teman-teman targetnya ke negara tertentu, ya mungkin diselesaikan saja karena beda negara, terus kemudian juga beda universitas. Ada target-target IELTS yang harus dipenuhi, tapi jangan jadikan IELTS itu suatu momok yang membuat kita stress juga, karena sebenarnya IELTS itu juga kan salah satu bagian dari dokumen gitu, sama seperti kayak ijazah dan lain sebagainya," jelas Almira.
Ia menilai kemampuan bahasa Inggris juga akan terus berkembang selama mahasiswa menjalani kehidupan akademik di luar negeri. Menurutnya, kemampuan berbahasa Inggris tidak hanya bergantung pada hasil tes, tetapi juga akan semakin terlatih melalui pengalaman sehari-hari.
"Itu nanti kan juga akan tetap terlatih dengan sendirinya ketika kita di sana, dan juga don't be nervous banget gitulah sama IELTS. Karena itu, dulu saya stressfull banget sama IELTS, dan setelah dijalanin ya ternyata seperti itu, jangan terlalu take it serious gitu," pungkas dia.
Baca Juga :
Kuliah S2 Gratis, 90 Mahasiswa Indonesia Lolos Beasiswa Erasmus Mundus Joint Master'sJadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(CEU)





