Jakarta (ANTARA) - Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Anwar Iskandar menegaskan pentingnya memperkokoh ukhuwah Islamiyah atau persaudaraan umat Islam sebagai fondasi utama untuk membangun kemajuan ekonomi, pendidikan, dan peradaban bangsa.
Dalam penutupan Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII yang diselenggarakan di Jakarta, Minggu malam, Kiai Anwar menekankan persatuan umat tidak dimaknai sebagai upaya untuk meleburkan identitas masing-masing organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam.
Ia menegaskan bahwa setiap ormas, baik itu Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Al-Washliyah, Persis, hingga Hidayatullah, tetap dengan identitas kelembagaannya masing-masing.
"Ketika kita bersatu, itu juga berarti kemudian merukun. Yang NU biarlah menjadi NU, yang Muhammadiyah biarlah menjadi Muhammadiyah, yang Al-Washliyah ya Al-Washliyah, Al-Wahdah biarlah menjadi mereka. Tidak usah yang NU harus jadi Muhammadiyah atau yang sebaliknya," katanya.
Anwar mengibaratkan keberagaman ormas Islam tersebut layaknya batang-batang lidi. Jika lidi tersebut berdiri sendiri-sendiri, maka tidak akan memunculkan kekuatan apa pun. Namun, ketika lidi-lidi tersebut dikumpulkan dan diikat menjadi sebuah sapu lidi, maka akan tercipta sebuah kekuatan besar yang membawa manfaat.
Dalam hal ini, ia menegaskan bahwa MUI memposisikan diri sebagai tali pengikat yang merekatkan berbagai ormas Islam di seluruh penjuru Nusantara agar menjadi satu kekuatan utuh dan tidak mudah dipecah belah.
"Setelah menjadi kekuatan, maka kita gunakan kekuatan ini untuk memberi manfaat. Suatu manfaat untuk kepentingan bangsa dan negara Republik Indonesia," ujarnya.
Kekuatan persatuan tersebut, ungkap Anwar, akan difokuskan pada dua hal utama. Pertama, untuk membersamai pemerintah dalam mewujudkan cita-cita Indonesia yang maju, mandiri, dan bersih dari praktik korupsi, sejalan dengan semangat implementasi Pasal 33 UUD 1945 yang berpihak pada rakyat.
Kedua, lanjut dia, kekuatan persatuan ini harus diarahkan untuk mengubah posisi umat Islam di Indonesia yang selama ini mayoritas masih menjadi "objek" agar segera bangkit menjadi "subjek" atau pelaku utama penggerak kemajuan.
Anwar menyoroti masih adanya paradoks di tengah masyarakat, di mana jumlah umat Islam sangat besar secara kuantitas, namun masih tertinggal secara realitas ekonomi.
Oleh karena itu, ia mengajak seluruh elemen untuk bergotong royong membangun kemandirian ekonomi, meningkatkan mutu pendidikan, dan melahirkan sumber daya manusia yang melek teknologi dan ilmu pengetahuan.
Baca juga: Tutup KUII VIII, Wantim MUI minta rekomendasi dikawal ketat
Baca juga: Ketua MPR soroti masalah mismanajemen dan krisis murid pesantren
Dalam penutupan Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII yang diselenggarakan di Jakarta, Minggu malam, Kiai Anwar menekankan persatuan umat tidak dimaknai sebagai upaya untuk meleburkan identitas masing-masing organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam.
Ia menegaskan bahwa setiap ormas, baik itu Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Al-Washliyah, Persis, hingga Hidayatullah, tetap dengan identitas kelembagaannya masing-masing.
"Ketika kita bersatu, itu juga berarti kemudian merukun. Yang NU biarlah menjadi NU, yang Muhammadiyah biarlah menjadi Muhammadiyah, yang Al-Washliyah ya Al-Washliyah, Al-Wahdah biarlah menjadi mereka. Tidak usah yang NU harus jadi Muhammadiyah atau yang sebaliknya," katanya.
Anwar mengibaratkan keberagaman ormas Islam tersebut layaknya batang-batang lidi. Jika lidi tersebut berdiri sendiri-sendiri, maka tidak akan memunculkan kekuatan apa pun. Namun, ketika lidi-lidi tersebut dikumpulkan dan diikat menjadi sebuah sapu lidi, maka akan tercipta sebuah kekuatan besar yang membawa manfaat.
Dalam hal ini, ia menegaskan bahwa MUI memposisikan diri sebagai tali pengikat yang merekatkan berbagai ormas Islam di seluruh penjuru Nusantara agar menjadi satu kekuatan utuh dan tidak mudah dipecah belah.
"Setelah menjadi kekuatan, maka kita gunakan kekuatan ini untuk memberi manfaat. Suatu manfaat untuk kepentingan bangsa dan negara Republik Indonesia," ujarnya.
Kekuatan persatuan tersebut, ungkap Anwar, akan difokuskan pada dua hal utama. Pertama, untuk membersamai pemerintah dalam mewujudkan cita-cita Indonesia yang maju, mandiri, dan bersih dari praktik korupsi, sejalan dengan semangat implementasi Pasal 33 UUD 1945 yang berpihak pada rakyat.
Kedua, lanjut dia, kekuatan persatuan ini harus diarahkan untuk mengubah posisi umat Islam di Indonesia yang selama ini mayoritas masih menjadi "objek" agar segera bangkit menjadi "subjek" atau pelaku utama penggerak kemajuan.
Anwar menyoroti masih adanya paradoks di tengah masyarakat, di mana jumlah umat Islam sangat besar secara kuantitas, namun masih tertinggal secara realitas ekonomi.
Oleh karena itu, ia mengajak seluruh elemen untuk bergotong royong membangun kemandirian ekonomi, meningkatkan mutu pendidikan, dan melahirkan sumber daya manusia yang melek teknologi dan ilmu pengetahuan.
Baca juga: Tutup KUII VIII, Wantim MUI minta rekomendasi dikawal ketat
Baca juga: Ketua MPR soroti masalah mismanajemen dan krisis murid pesantren





