JAKARTA, KOMPAS.com - Ide Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi untuk menggelar sayembara menangkap begal menuai penolakan dari Yusril Ihza Mahendra dan Nataliius Pigai karena berisiko menimbulkan tindakan main hakim sendiri.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menggelar sayembara bagi warga yang berhasil melumpuhkan pelaku begal maupun pelaku kejahatan jalanan lainnya, lalu menyerahkannya kepada polisi dalam keadaan hidup.
Warga yang berhasil melakukan hal tersebut dijanjikan hadiah mulai Rp 5 juta hingga Rp 50 juta.
Baca juga: Dedi Mulyadi Pakai Kocek Pribadi untuk Sayembara Begal, Sebut Hadiah Sudah Jadi Tradisi Bangsa
Kebijakan itu diumumkan Dedi sebagai upaya melibatkan masyarakat dalam menekan maraknya aksi kriminalitas di sejumlah wilayah Jawa Barat.
Sayembara tersebut tidak hanya berlaku untuk pelaku begal.
Hadiah juga disiapkan bagi warga yang berhasil melumpuhkan pelaku pencurian, pencopetan, penjambretan, hingga perampokan.
"Saya memberikan sayembara pada seluruh warga Jabar. Yang bisa melumpuhkan maling, copet, jambret, begal, rampok kami siapkan hadiah dari Rp 5 sampai Rp 50 juta yang mampu melumpuhkan berbagai aksi kejahatan dan menyerahkannya kepada kepolisian dalam keadaan hidup," ujar Dedi melalui akun Instagram pribadinya, Kamis (23/7/2026).
Baca juga: Pura-pura Jadi Begal demi Sayembara Rp50 Juta? Dedi Mulyadi: Bisa Dipidana
Menurut Dedi, upaya memberantas kejahatan jalanan tidak bisa hanya mengandalkan aparat penegak hukum.
Peran aktif masyarakat juga dibutuhkan untuk menciptakan lingkungan yang aman.
Melalui sayembara itu, Dedi mendorong warga membantu menghentikan aksi kejahatan di sekitar mereka.
Namun, pelaku yang berhasil dilumpuhkan harus diserahkan kepada kepolisian dalam keadaan hidup.
Yusril nasihati Dedi Mulyadi untuk urungkan sayembaraMenteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan (Menko Kumhamimipas) Yusril Ihza Mahendra mengingatkan Dedi Mulyadi agar tidak membuka sayembara penangkapan begal.
"Kalau saya boleh menyampaikan nasihat dengan segala hormat kepada Pak Gubernur Jawa Barat, sebaiknya jangan membuka sayembara seperti itu karena dikhawatirkan akan mendorong masyarakat melakukan tindakan main hakim sendiri," tutur Yusril, saat ditemui wartawan di kantornya di Jakarta Selatan, Jumat (24/7/2026).
Ia mengingatkan, iming-iming hadiah seperti yang disayembarakan Kang Dedi Mulyadi (KDM), sapaan populer Gubernur Jawa Barat tersebut, dapat mendorong sebagian orang bertindak di luar koridor hukum.
"Misalnya ada hadiah Rp 5 juta atau Rp 10 juta, orang bisa saja kemudian membawa senjata dan berjaga-jaga untuk menangkap begal. Yang dikhawatirkan, orang yang sebenarnya bukan begal justru dipukuli karena dikira begal," ujarnya.





