Kenapa Konflik di Iran memicu kenaikkan harga minyak dunia?

kumparan.com
10 jam lalu
Cover Berita

Setiap kali eskalasi militer meningkat di Timur Tengah, dampaknya langsung terasa di pasar global. Saat ketegangan antara Israel dan Iran memanas, harga minyak akan merangkak naik.

Namun, mengapa konflik di kawasan tersebut bisa membuat biaya operasional dan harga bahan bakar menjadi lebih mahal?

Iran Sebagai Anggota OPEC

Iran adalah salah satu produsen minyak mentah terbesar di dunia. Sebagai anggota utama OPEC, OPEC adalah organisasi Internasional yang bertujuan menegosiasikan masalah produksi, harga, dan hak yang berkaitan dengan minyak bumi. Iran memproduksi sekitar tiga juta barel minyak mentah setiap hari, yang memenuhi sekitar tiga persen dari total kebutuhan global.

Di pasar energi yang sangat sensitif, hilangnya suplai dalam jumlah besar adalah risiko yang dihindari oleh semua pihak. Jika fasilitas minyak Iran terancam akibat serangan militer, pasar global berpotensi kehilangan jutaan barel pasokan. Ancaman ini membuat para pialang dan industri langsung mengamankan stok mereka, yang otomatis mendorong harga jual komoditas ini naik.

Selat Hormuz yang jadi urat nadi

Kekhawatiran utama pasar global tidak hanya berhenti pada produksi minyak Iran, tetapi pada rute distribusinya. Fokus utamanya adalah Selat Hormuz, sebuah jalur perairan sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan laut lepas.

Jalur ini adalah urat nadi utama perdagangan energi dunia. Sekitar 20 persen dari total konsumsi minyak harian global melewati perairan ini. Jika konflik meluas dan mengganggu lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz, dunia akan menghadapi krisis pasokan secara langsung karena tidak ada rute alternatif yang mampu menampung volume sebesar itu. Kepanikan akan potensi terhentinya distribusi inilah yang menjadi alasan utama mengapa harga minyak melambung tinggi di pasar.

Harga Risiko yang Dibayar Masyarakat

Harga minyak acuan global, seperti Brent, tidak hanya ditentukan oleh minyak yang ada hari ini, tetapi juga oleh perkiraan pasokan di masa depan. Saat ketegangan meningkat, maka penjual menerapkan premi risiko geopolitik.

Artinya, pembeli bersedia membayar lebih mahal sekarang demi memastikan mereka tidak kehabisan minyak jika rantai pasokan benar benar terputus nanti. karena minyak adalah kebutuhan inelastis, yang dimana semua orang membutuhkan minyak bumi berapapun harganya demi ekonomi.

Kenaikan harga di bursa minyak mentah ini memicu efek berantai. Biaya penyulingan minyak mentah menjadi bahan bakar komersial akan meningkat.

Beban ini kemudian diteruskan kepada publik melalui kenaikan harga bensin dan solar. Pada akhirnya, tingginya harga bahan bakar akan menyeret biaya logistik transportasi darat maupun laut, yang berujung pada naiknya harga barang kebutuhan pokok harian.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Musisi Lintas Generasi dan Genre Meriahkan BRI Jazz Gunung Bromo 2026
• 7 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
5 Berita Populer: Ryan Gosling Gabung MCU; Catheez Debut Main Series
• 8 jam lalukumparan.com
thumb
Mapolsek Menteng Dijaga Usai Digeruduk, Sebagian Massa Masih Berkumpul
• 15 jam lalukompas.com
thumb
Tradisi Kampung Adat Kuta Menjadi Penyangga Keberlanjutan Lingkungan dan Kehidupan Warga di Ciamis
• 28 menit lalupantau.com
thumb
Baru 10 Hari Penayangan, ‘The Odyssey’ Raup Penjualan Tiket USD639 Juta
• 1 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.