Di bawah rindangnya rumpun bambu yang berada di pinggir desa, sejumlah warga beraktivitas di sekitar kobak atau kolam mata air berukuran 2 meter X 2 meter. Sebagian dari mereka adalah ibu-ibu yang sedang mencuci pakaian dan memandikan anaknya. Di sebelahnya beberapa pria sedang bergantian mengambil air dengan menggunakan timba tangan untuk dituang ke dalam ember bekas cat berukuran sekitar 20 liter dan galon air.
Sudah dua bulan terakhir ini kobak tersebut nyaris tak pernah sepi. Ketika sumur-sumur warga mengering, kobak menjadi salah satu sumber air yang tersisa.
“Saya sudah dua bulan ini selalu mengambil air di kobak untuk mandiin anak dan mencuci piring gelas di rumah,” ujar Wandi (31), warga Kampung Cijarua, RT 002 RW 01, Desa Cidokom.
Menurut Wandi, setiap hari ia selalu mengambil air di kobak dengan cara dipikul. Jarak dari rumah menuju kobak sekitar 200 meter. Biasanya ia empat kali bolak balik memikul air untuk dibawa pulang.
“Ini untuk mandi saja, kalu keperluan minum dan memasak, saya membeli air galon isi ulang. Paling sehari butuh satu galon,” pungkasnya sembari mulai memikul ember berisi air.
Anak-anak berjalan kaki menuju kobak untuk mandi.
KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO
Kolil ditemani anaknya mengisi air ke dalam galon untuk dibawa pulang.
KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO
wandi memikul air kobak untuk persediaan di rumah.
KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO
Di sebelah kiri Wandi, Nyai (38), sibuk mengucek pakaian anaknya dengan sabun. Ia menggunakan lantai semen kobak sebagai penahan agar kucekan semakin kuat.
“setiap hari saya selalu ke sini untuk mencuci pakaian, setelah itu baru mandi sekalian,” katanya.
Kobak di Desa Cidokom menjadi andalan masyarakat sekitar saat musim kemarau karena sumur-sumur di rumah warga mengering.
“Air di kobak kalau penuh, gak ada yang ambil, tapi kalau tinggal sedikit orang malah pada antre ambil,” celoteh seorang warga yang sedang menunggu giliran mengambil air.
Saat ini air di kobak sudah menipis, tinggal sedalam sekitar 15-20 centimeter. Air mengucur pelan dari sela-sela dinding-dinding batu kobak. Menurut Putra (38) seorang tokoh pemuda desa, kobak ini menjadi tujuan warga dua RW di sekitaran kobak untuk mencari air.
“Sekitar 2.000 jiwa bergantung pada kobak ini untuk pemenuhan airnya,” jelas Putra.
Meskipun krisis air sudah memasuki bulan kedua di Cidokom, tetapi bantuan air bersih dari pihak berwenang belum juga mereka terima. Padahal kedatangan bantuan air bersih sudah ditungu-tunggu warga karena bisa mengurangi pengeluaran mereka untuk membeli air galon isi ulang.





