REPUBLIKA.CO.ID, DAMASKUS— Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa dalam wawancara dengan Aljazeera pada program al-Muqabalah membahas berbagai isu penting, mulai dari kemungkinan pengaturan keamanan dengan Israel, situasi di Lebanon, hubungan dengan Rusia, hingga sejumlah persoalan regional dan domestik lainnya.
Dalam bagian pertama wawancara yang ditayangkan pada Ahad (26/7/2026) malam, Ahmed al-Sharaa menegaskan keterbukaan Suriah untuk menjalin hubungan dengan seluruh pihak, baik di tingkat regional maupun internasional.
Baca Juga
3 Analisis Ungkap Bagaimana Perang dengan Iran Ubah Perhitungan Kekuatan Amerika Serikat?
Rahasia di Balik Kesuksesan Rudal Murah Iran Terobos Pertahanan Udara Pangkalan Militer AS
Simak, Ini 7 Keutamaan Penduduk Yaman yang Diungkap Rasulullah SAW
Namun, ia menekankan bahwa negaranya tetap berpegang pada prinsip tidak terlibat dalam konflik-konflik kawasan dan berfokus pada upaya memulihkan peran serta posisi Suriah di tingkat regional.
Menurutnya, Suriah tidak ingin menjadi bagian dari blok politik mana pun atau menjadi arena perebutan pengaruh di antara kekuatan-kekuatan yang saling bersaing.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Prioritas utama pemerintah saat ini adalah membangun kembali negara dan mewujudkan stabilitas di dalam negeri.
Al-Sharaa juga menyatakan bahwa hubungan yang baik dengan Amerika Serikat dan negara-negara Eropa merupakan kondisi yang wajar bagi Suriah.
Ia menilai keterasingan Suriah dari lingkungan regional dan internasional pada masa lalu disebabkan oleh kebijakan rezim sebelumnya.
Sementara itu, menurutnya, pemerintahan baru telah berhasil membangun kembali kepercayaan melalui komunikasi yang jelas dan jujur dengan berbagai pihak.
Dalam wawancara tersebut, Presiden Suriah mengungkapkan bahwa negaranya sedang berupaya mencapai kesepakatan keamanan dengan Israel dengan melibatkan sejumlah negara sebagai pihak pendukung.