Ketika Pulau-pulau Kecil Memanas, Alarm Baru bagi Indonesia

kompas.id
6 jam lalu
Cover Berita

Selama ini ancaman terbesar bagi pulau-pulau kecil kerap digambarkan sebagai kenaikan muka laut yang perlahan menenggelamkan pantai. Namun, riset terbaru menunjukkan ancaman lain yang lebih sunyi, tetapi bisa sama mematikannya, yaitu udara yang semakin panas sekaligus semakin lembab. Bukan sekadar membuat tubuh berkeringat, kombinasi keduanya dapat mengubah banyak pulau tropis menjadi tempat yang semakin sulit dihuni.

Temuan riset yang dipublikasikan di Geophysical Research Letters pada 18 Juli 2026 ini menjadi peringatan penting bagi Indonesia. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dengan lebih dari 17.000 pulau dan ribuan pulau kecil yang dihuni masyarakat pesisir, Indonesia berada tepat di kawasan tropis yang menurut para ilmuwan akan mengalami peningkatan tekanan panas lembab paling besar pada akhir abad ini.

Penelitian menunjukkan bahwa pulau-pulau tropis di sekitar khatulistiwa akan mengalami lonjakan indeks panas (heat index) hingga tingkat yang berbahaya bagi kesehatan manusia. Indeks panas ini merupakan gabungan suhu udara dan kelembaban.

Baca JugaHari Panas dan Lembab di Indonesia Meningkat, Tak Lagi Sama dari Era 1970-an
Baca JugaSurat dari Belém

Di bawah skenario emisi gas rumah kaca yang tinggi, gelombang panas lembab yang dahulu hanya muncul sekali dalam satu dekade dapat berubah menjadi kejadian tahunan menjelang 2100. Bahkan, beberapa pulau diproyeksikan mengalami kondisi panas berbahaya selama 160 hingga 320 hari setiap tahun.

Tubuh manusia sebenarnya mampu mendinginkan diri melalui penguapan keringat. Namun, ketika udara sudah dipenuhi uap air, penguapan melambat. Keringat tetap membasahi kulit, tetapi tidak lagi efektif membuang panas dari tubuh. Akibatnya, suhu inti tubuh meningkat dan risiko kelelahan panas, dehidrasi, hingga serangan panas (heat stroke) melonjak.

”Banyak orang mengira panas hanya soal temperatur. Padahal kelembaban menentukan apakah tubuh masih mampu bertahan atau tidak,” demikian salah satu pesan utama penelitian, yang ditulis Lilian Bald, dari Université de Toulouse, Perancis.

Selama bertahun-tahun, pulau kecil justru sering tidak terlihat dalam model iklim global. Resolusi banyak model iklim terlalu kasar sehingga pulau-pulau kecil lebih sering diperlakukan sebagai bagian dari lautan daripada daratan. Akibatnya, risiko yang mereka hadapi cenderung diremehkan.

Untuk mengatasi kelemahan itu, Lilian Bald yang juga bekerja di Pusat Penelitian Meteorologi Nasional Perancis bersama timnya menggabungkan data dari 15 model iklim global dengan pengamatan stasiun cuaca di 17 pulau tropis yang tersebar di Samudra Atlantik, Samudra Hindia, dan Samudra Pasifik.

Mereka kemudian menghitung perubahan Heat Index, ukuran yang dikembangkan NOAA yang menggabungkan suhu dan kelembaban untuk menggambarkan seberapa panas kondisi tersebut dirasakan tubuh manusia.

Stres panas merupakan salah satu dampak perubahan iklim yang paling mematikan karena meningkatkan risiko penyakit jantung, gagal ginjal, stroke, dan kematian dini.

Hasilnya menunjukkan pola yang konsisten. Semakin dekat suatu pulau dengan garis khatulistiwa, semakin besar lonjakan tekanan panas yang diperkirakan akan terjadi.

Pada periode 2076-2100, beberapa pulau diproyeksikan mengalami Heat Index antara 46 dan 63 derajat celsius. Padahal NOAA mengategorikan nilai di atas sekitar 40 derajat celsius sebagai tingkat ”bahaya”, ketika paparan berkepanjangan dapat memicu penyakit akibat panas bahkan mengancam jiwa.

Indonesia berada di pusat ancaman

Walaupun penelitian ini tidak secara khusus meneliti Indonesia, pelajarannya sangat relevan. Indonesia membentang sepanjang garis khatulistiwa, memiliki ribuan pulau kecil, serta jutaan penduduk yang menggantungkan hidup pada aktivitas luar ruang seperti nelayan, petani, pekerja pelabuhan, pedagang, hingga sektor pariwisata.

Dalam kondisi panas lembab yang ekstrem, bekerja di luar ruangan bukan sekadar tidak nyaman, tetapi dapat menjadi aktivitas berisiko tinggi. Produktivitas menurun karena tubuh harus lebih sering beristirahat. Risiko penyakit akibat panas meningkat, terutama bagi lansia, anak-anak, pekerja lapangan, dan mereka yang memiliki penyakit kronis.

Ancaman itu juga datang berlapis. Pulau-pulau kecil Indonesia selama ini telah menghadapi abrasi, kenaikan muka laut, krisis air tawar, badai tropis yang semakin kuat, hingga kerusakan ekosistem pesisir. Kini muncul tekanan tambahan berupa panas lembab yang berlangsung hampir sepanjang tahun.

Baca JugaPulau Kecil, Isu Besar di Indonesia

Bagi pulau-pulau yang bergantung pada listrik diesel, akses pendingin ruangan pun tidak selalu tersedia. Ironisnya, penggunaan pendingin udara secara masif juga meningkatkan konsumsi energi dan, bila masih bergantung pada bahan bakar fosil, justru memperbesar emisi gas rumah kaca.

Ancaman panas lembab sebenarnya bukan sekadar isu meteorologi. Hal ini berpotensi menjadi masalah kesehatan masyarakat, ketahanan pangan, ekonomi lokal, hingga pendidikan.

Anak-anak akan lebih sulit belajar di ruang kelas tanpa ventilasi yang baik. Nelayan mungkin harus mengurangi waktu melaut pada jam-jam tertentu. Petani menghadapi tekanan fisik lebih berat ketika bekerja di sawah atau ladang. Sektor pariwisata yang menjadi tulang punggung banyak pulau juga dapat terdampak apabila kondisi luar ruang semakin tidak nyaman.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebelumnya telah memperingatkan bahwa stres panas merupakan salah satu dampak perubahan iklim yang paling mematikan karena meningkatkan risiko penyakit jantung, gagal ginjal, stroke, dan kematian dini. Risiko tersebut meningkat tajam ketika suhu tinggi disertai kelembaban tinggi.

Sebelumnya, penelitian Lucas Vargas Zeppetello dari Universitas Harvard dan tim di jurnal Communications Earth and Environment tahun 2022 telah mengungkap ancaman paparan panas berbahaya yang bakal dialami populasi yang tinggal di kawasan tropis. Dalam skenario yang paling mungkin, dunia akan gagal mencapai target tersebut, menurut dia, orang-orang di seluruh daerah tropis bakal terpapar suhu berbahaya hampir setiap hari dalam setahun pada akhir abad ini.

Baca JugaMengapa ”Heatstroke” di Indonesia Kian Berisiko?

”Ada kemungkinan bahwa jika kita tidak bertindak bersama, miliaran orang akan benar-benar terpapar suhu yang sangat berbahaya ini dengan cara yang belum pernah kita lihat sebelumnya,” kata Zeppetello.

Gelombang panas yang parah, yang semakin panas dan sering terjadi akibat perubahan iklim, saat ini sudah dirasakan di seluruh dunia, mengancam kesehatan manusia, satwa liar, dan hasil panen. Situasi ini bakal memburuk di tahun-tahun mendatang, terutama di daerah tropis.

Kabar baiknya, penelitian Bald tersebut menunjukkan bahwa masa depan belum sepenuhnya ditentukan. Dalam skenario emisi yang lebih rendah, peningkatan panas lembab tetap terjadi, tetapi jauh lebih kecil dibandingkan skenario emisi tinggi. Dengan kata lain, setiap pengurangan emisi gas rumah kaca hari ini akan mengurangi jumlah hari berbahaya di masa depan.

Namun, mitigasi saja tidak cukup. Pulau-pulau kecil membutuhkan sistem peringatan dini gelombang panas, desain bangunan yang lebih mampu mengalirkan udara, ruang teduh di kawasan publik, ketersediaan air bersih, serta layanan kesehatan yang siap menghadapi peningkatan kasus penyakit akibat panas.

Indonesia sebenarnya telah lama berbicara mengenai adaptasi perubahan iklim. Akan tetapi, fokus kebijakan lebih banyak diarahkan pada banjir, kekeringan, atau kenaikan muka laut. Ancaman panas lembab masih jarang masuk dalam perencanaan pembangunan daerah, padahal dampaknya bisa dirasakan hampir setiap hari.

Baca JugaSuhu Panas Berpotensi Menggerus Produktivitas dan Pendapatan UMKM-Pekerja Informal

Boleh jadi, masa depan pulau-pulau kecil tidak hanya ditentukan oleh seberapa cepat laut naik. Masa depan itu juga ditentukan oleh apakah manusia masih sanggup bekerja, belajar, dan menjalani kehidupan normal ketika udara terasa seperti tungku yang tak pernah benar-benar padam.

Di negara kepulauan seperti Indonesia, perubahan iklim tidak selalu datang dalam bentuk ombak besar yang menghantam pantai. Kadang perubahan iklim hadir sebagai udara yang perlahan menjadi terlalu panas untuk dihirup, terlalu lembab untuk ditoleransi tubuh, dan terlalu lama untuk diabaikan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Tragis! Pencuri Ayam di Tabanan Tewas Dikeroyok Massa, Polisi Buru Para Pelaku
• 18 jam lalurctiplus.com
thumb
Anggota POM TNI AD Gugur saat Tangkap Bandar Narkoba di Aceh
• 18 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Polisi Selidiki Kematian Pria Bernama Sutrimo di Kebayoran Baru
• 19 jam laluliputan6.com
thumb
Ekosistem Investasi Indonesia Timur Perlu Diperkuat, Ini Strateginya
• 18 jam lalurepublika.co.id
thumb
Heboh Satpam Tewas Diborgol di Waduk Jatiluhur, Pengamanan Objek Vital Diperketat!
• 14 jam laluokezone.com
Berhasil disimpan.