Iran dan AS Masih Bertukar Pesan, Tetapi Belum Pada Kondisi untuk Berunding

suarasurabaya.net
5 jam lalu
Cover Berita

Iran masih bertukar pesan dengan Amerika Serikat (AS), tetapi masih belum dalam kondisi untuk memulai perundingan kembali di tengah meningkatnya ketegangan militer kedua negara.

Melansir Anadolu, Esmaeil Baqaei Juru Bicara Kementerian Luar Negeri (Jubir Kemlu) Iran mengatakan, prioritas utama Teheran saat ini adalah mempertahankan kedaulatan negara, bukan membuka perundingan.

“Kami masih bertukar pesan, tetapi prioritas kami sekarang adalah mempertahankan kedaulatan, keutuhan wilayah, dan rakyat Iran,” kata Baqaei dalam wawancara dengan stasiun televisi Austria ORF, Minggu (26/7/2026).

Ia menuduh Washington berulang kali merusak upaya diplomasi melalui tindakan militernya. Menurut Baqaei, serangan AS telah menghancurkan kondisi yang diperlukan untuk berunding dan melanggar kesepahaman sebelumnya dengan Teheran.

Baqaei menyebut serangan terbaru AS sebagai kelanjutan dari “perang ilegal” terhadap Iran. Tindakan itu dinilai menunjukkan kegagalan Washington dalam memenuhi komitmennya.

Mengenai Selat Hormuz, Baqaei mengatakan Iran telah menjalankan tanggung jawabnya dalam menjamin keamanan pelayaran internasional. Namun, Teheran tidak akan membiarkan jalur strategis tersebut digunakan untuk mengancam keamanan nasional Iran.

Ia juga menyalahkan AS dan Israel atas meningkatnya ketegangan di kawasan. Operasi militer kedua negara dinilai telah memperburuk situasi keamanan regional.

Baqaei turut menyinggung kesepakatan nuklir 2015. Ia menilai negara-negara Eropa gagal memenuhi komitmennya setelah AS keluar dari kesepakatan tersebut. Menurutnya, negara-negara Eropa “memiliki utang besar kepada Iran” karena meninggalkan kewajiban mereka dalam perjanjian itu.

Ketegangan antara AS dan Iran diketahui meningkat dalam beberapa pekan terakhir. Washington melancarkan serangan terhadap Iran, sedangkan Teheran membalas dengan menyasar fasilitas dan peralatan militer AS di sejumlah negara kawasan, termasuk Bahrain, Yordania, dan Kuwait.

Pada 8 Juli, Donald Trump Presiden AS menyatakan nota kesepahaman (MoU) damai dengan Iran telah “berakhir”. Ia menuduh Teheran melanggar kesepakatan tersebut.

Pernyataan itu disampaikan setelah tiga kapal tanker diserang di Selat Hormuz dan kembali muncul perselisihan mengenai aturan pelayaran di jalur strategis tersebut.

Washington menuntut kapal-kapal dapat melintasi Selat Hormuz tanpa pembatasan. Sementara Teheran meminta kapal melewati jalur dekat garis pantainya dengan mengikuti mekanisme navigasi yang dikelola Iran.

Meski demikian, Trump dilaporkan telah memerintahkan militer AS untuk tidak melancarkan serangan baru terhadap Iran karena stok rudalnya menipis. Keputusan itu mengakhiri hampir dua pekan serangan yang berlangsung setiap hari. (bil/ham)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Gubernur dan Anggota Dewan di Jawa Kumpul Kebo, Ini Nama-Namanya
• 17 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Jay Idzes Kirim Dukungan untuk Timnas Indonesia di Piala AFF 2026: Hati Saya Bersama Garuda
• 8 jam lalukompas.tv
thumb
Golfphoria 2026 Bidik Rekor Dunia Lewat Turnamen Golf Virtual Bergaya Festival di Bali
• 16 jam lalupantau.com
thumb
Bareskrim Tangkap Kasat Narkoba Polres Tangsel, Tujuh Polisi Lainnya Turut Diamankan
• 4 jam lalutvonenews.com
thumb
Cara Mengenali Orang Cerdas dari Hal yang Tidak Akan Dikeluhkannya Menurut Psikolog
• 17 jam lalubeautynesia.id
Berhasil disimpan.