Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Djamari Chaniago mengingatkan ancaman terorisme kini semakin bergeser ke ruang digital. Internet disebut menjadi medium baru untuk menyebarkan propaganda, merekrut anggota, hingga pendanaan kelompok teror.
Hal itu disampaikan Djamari saat membuka Penguatan Kolaborasi Pelaksanaan RAN PE Fase II di Gedung Tribrata, Jakarta, Senin (27/7).
“Saat ini ancaman untuk transformasi secara global mengikuti perkembangan teknologi dan internet. Ruang digital yang sejatinya dapat dimanfaatkan secara positif telah disalahgunakan untuk tujuan terorisme, seperti penyebaran propaganda, rekrutmen dan pendanaan,” kata Djamari.
Menurut dia, penyalahgunaan ruang digital tidak hanya berkaitan dengan aksi terorisme, tetapi juga penyebaran hoaks, disinformasi, fitnah, dan ujaran kebencian yang dapat memengaruhi generasi muda.
"Kita perlu mewaspadai tentang masyarakat kita memanfaatkan ruang digital yang kita hadapi sekarang ini,” ujarnya.
Dalam konferensi pers usai acara, Djamari menilai pengawasan penggunaan internet harus menjadi tanggung jawab bersama.
“Oleh karena itu, kita harus bersama-sama, tadi saya mengingatkan kita bersama-sama turut mengawasi, mengendalikan, mencegah penggunaan ruang digital itu untuk digunakan kepentingan-kepentingan yang negatif,” ucapnya.
Adapun dala acara yang sama Kepala BNPT Komjen Pol (Purn) Eddy Hartono mengatakan perempuan, anak, dan remaja kini menjadi sasaran utama kelompok teror dalam proses perekrutan.
“Perempuan, anak, remaja menjadi sasaran efektif untuk tadi itu dilakukan rekrutmen,” kata Eddy.
Menurut dia, perubahan pola ancaman terorisme membuat kelompok ekstrem memanfaatkan internet sebagai media utama perekrutan.
“Dan oleh sebab itu tadi Pak Menko juga mengatakan bahwa media, internet, ini menjadi sarana yang efektif untuk melakukan rekrutmen, propaganda, dan pendanaan teror,” ujarnya.





