Dalam film maupun kehidupan nyata, emosi perempuan sering kali disambut dengan rasa curiga. Coba perhatikan: ketika laki-laki meluapkan amarah atau rasa sedihnya, dunia cenderung memberinya ruang pemakluman. Tindakan mereka dianggap sebagai bentuk perjuangan, krisis beban hidup, atau keberanian. Namun, ketika perempuan meluapkan emosi yang sama besarnya, dunia kerap dengan cepat memberi satu label lama yaitu histeria.
Fenomena inilah yang terekam sangat jelas dalam perjalanan karakter Wanda Maximoff (Scarlet Witch) di jagat Marvel (MCU). Karakter yang mulanya dihadirkan sebagai pahlawan super paling kuat, perlahan-lahan digeser menjadi sosok penjahat yang ditakuti semua orang. Lantas, mengapa kisah Wanda harus berakhir tragis sebagai seolah sesosok monster? Jawabannya adalah refleksi dari cara masyarakat kita memandang emosi dan gender.
Label "Perempuan Gila" yang Terus BerulangDalam sosiologi dan studi gender, ada fenomena lama di mana perempuan yang punya kekuatan besar atau emosi yang terlalu kuat sering kali langsung dicap sebagai sosok yang tidak stabil, gila, atau berbahaya. Fenomena ini berakar dari mitos madwoman in the attic, sebuah stereotip sejarah di mana perempuan yang emosional atau menolak tunduk akan diasingkan dan dianggap gangguan jiwa.
Ketika Wanda kehilangan Vision dan tenggelam dalam duka yang mendalam, dunia di sekitarnya tidak merespons dengan rasa empati. Saat emosinya yang meluap menciptakan kota Westview sebagai tempatnya bersembunyi dari rasa sakit, tindakan Wanda langsung dianggap sebagai ancaman besar. Alih-alih dipahami sebagai proses trauma orang yang sedang berduka, emosi Wanda langsung dinilai sebagai bom waktu yang harus segera dimatikan.
Adanya Standar Ganda pada PerempuanKetimpangan ini makin kelihatan jelas kalau kita bandingkan Wanda dengan karakter laki-laki di semesta yang sama contohnya,
Tony Stark: Saat rasa takut dan traumanya membuat dia tidak sengaja menciptakan Ultron (yang hampir menghancurkan dunia), Tony tetap dipandang sebagai genius yang berniat baik namun khilaf.
Thor: Saat Thor depresi dan mengurung diri karena gagal menyelamatkan dunia, rasa sakitnya disambut dengan simpati dan lelucon hangat.
Namun, perlakuan ini berbalik 180 derajat saat menimpa Wanda. Duka dan rasa sakit yang dirasakan Wanda malah dianggap sebagai tindakan egois yang jahat. Ada standar ganda yang nyata di sini ibaratnya, karakter laki-laki yang berduka diberi kesempatan untuk memperbaiki diri (redemption), sedangkan perempuan yang berduka langsung di cap sebagai monster.
Jebakan Fantasi Peran Rumah TanggaHal menarik lainnya dari WandaVision adalah bentuk dari emosi Wanda sendiri. Sebagai perempuan terkuat di alam semesta MCU, keinginan terbesar Wanda ternyata bukanlah kekuasaan atau dominasi dunia. Yang ia impikan hanyalah kehidupan rumah tangga yang damai: punya rumah di pinggir kota, suami, dan anak-anak seperti di komedi situasi (sitkom) klasik TV.
Ini memperlihatkan ironi yang jelas terpampang. Bahkan ketika seorang perempuan diberi kekuatan untuk mengubah realitas, tatanan sosial seolah mendikte bahwa kefasihan tertinggi perempuan tetaplah menjadi ibu dan istri di dalam rumah. Dan ketika impian sederhana itu hancur, ia dianggap kehilangan akal sehat dan tidak bisa lagi dianggap perempuan.
Sensasionalisasi Naluri Keibuan (Motherhood)Tragedi Wanda kian menajam ketika narasinya berlanjut ke isu keibuan. Keinginan mendalam Wanda untuk memeluk dan melindungi anak-anaknya tidak pernah dipandang sebagai bentuk kasih sayang yang manusiawi. Sebaliknya, media fiksi ini membingkainya sebagai obsesi yang gelap, buta, dan seolah olah mematikan.
Secara sosial, masyarakat sering memuja naluri keibuan (maternal instinct) selama naluri itu berada dalam batas-batas yang penurut. Namun, ketika kerinduan seorang ibu berubah menjadi amarah yang menuntut keadilan atau menolak takdir yang memisahkan mereka, naluri itu tiba-tiba dicap sebagai sebuah ancaman. Kerinduan Wanda untuk menjadi seorang ibu diubah dari simbol kasih sayang menjadi alasan utama untuk mencapnya sebagai villain.
Ketiadaan Support System dan Cacatnya OtoritasMengapa emosi Wanda akhirnya pecah dan meledak? Karena ia hidup dalam sistem yang rusak dalam merespons trauma perempuan. Lembaga otoritas seperti S.W.O.R.D tidak datang menawarkan terapi, ruang aman (safe space), atau pendekatan psikologis. Respons pertama mereka terhadap perempuan yang sedang mengalami krisis mental adalah militerisasi dan kekerasan.
Hal ini sangat relevan dengan realita sosial kita. Ketika perempuan mengalami depresi pascalahir (postpartum depression) atau trauma hebat, reaksi sekitar sering kali bukanlah merangkul, melainkan menghakimi, mengisolasi, dan memaksa mereka untuk segera sembuh demi kenyamanan orang lain. Ketiadaan sistem pendukung (support system) yang peka gender inilah yang akhirnya mendorong Wanda semakin dalam ke sudut kegelapan.
Beri Ruang Bagi Perempuan untuk Merasakan Rasa SakitTragedi Wanda Maximoff bukan cuma cerita fiksi tentang pahlawan super yang berubah jadi jahat. Ini adalah cermin dari cara dunia kita memperlakukan amarah, duka, dan kewarasan perempuan. Selama emosi perempuan terus dianggap sebagai ancaman ketimbang reaksi kemanusiaan yang wajar, selama itu pula masyarakat akan selalu takut pada perempuan yang berani mengekspresikan perasaannya secara utuh.
Sudah saatnya kita berhenti menuntut perempuan untuk selalu tenang, sempurna, dan mudah dikendalikan. Karena seperti kisah Wanda, ketika rasa sakit perempuan terus dibungkam, diabaikan, dan dihakimi, yang lahir bukanlah kedamaian melainkan ledakan besar yang siap meruntuhkan aturan-aturan yang tidak adil.





