Pemerintah Suriah berupaya menjalin kesepakatan keamanan dengan Israel. Hal itu disampaikan Presiden Ahmed al-Sharaa saat diwawancarai media asal Qatar, Al Jazeera, pada Minggu (27/7).
Al-Sharaa mengakui kesepakatan itu akan membuka jalan bagi perdamaian menyeluruh antara kedua negara. Namun, jika nantinya berdamai, Suriah tidak ingin mengorbankan hak mereka atas Dataran Tinggi Golan.
Wilayah itu direbut Israel dari Suriah pada 1967. Peristiwa tersebut terjadi saat Perang Enam Hari dan kemudian dicaplok secara resmi oleh Israel pada 1981.
Dalam wawancaranya, al-Sharaa mengatakan ingin melibatkan lebih banyak negara untuk menekan Israel agar mengadopsi kebijakan yang lebih seimbang terhadap Suriah.
"Kami menghindari konfrontasi," ujar al-Sharaa terkait Israel, seperti dikutip dari Reuters.
Adapun sesaat setelah kekuasaan Bashar al-Assad runtuh pada 2025 dan al-Sharaa menjadi presiden, Israel semakin agresif terhadap Suriah.
Pasukan Israel telah masuk lebih dalam ke wilayah Suriah. Sejumlah wilayah strategis Suriah juga berhasil dikuasai.
Bahkan, pasukan Israel bergerak ke zona demiliterisasi di wilayah Suriah, termasuk sisi Gunung Hermon yang menghadap ibu kota Damaskus.
Sejak saat itu, Israel juga semakin sering menggempur Suriah dan menahan sejumlah warga negara tersebut. Israel turut mengintervensi Suriah dengan dalih melindungi etnis minoritas Druze di negara itu.





