YOGYAKARTA, KOMPAS - Wilayah DI Yogyakarta bersiap memasuki puncak musim kemarau yang diprediksi terjadi pada Agustus nanti. Selain ancaman kekeringan ekstrem, suhu udara yang tinggi juga patut diwaspadai. Bahkan, suhu pada siang hari bisa mencapai rekor tertinggi untuk provinsi tersebut, yakni 37 derajat Celsius.
Kepala Stasiun Klimatologi Yogyakarta Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Reni Kraningtyas, Senin (27/7/2026), memaparkan, wilayah DIY telah memasuki musim kemarau sejak April-Mei 2026. Adapun puncak kemarau diprediksi terjadi pada Agustus dan berakhir pada dasarian (10 hari) pertama atau dasarian kedua November.
Namun, melihat perkembangan fenomena iklim El Nino sekarang ini yang diprediksi berkategori kuat sepanjang Agustus hingga Desember, Reni menyebut, kemarau akan berlangsung lebih kering dan lebih panjang. Potensi turunnya hujan pun sangat kecil.
"Jadi hawa panas yang dirasakan memang karena musim kemaraunya yang panjang sehingga radiasi matahari yang diterima cukup maksimal dan membuat suhu udara lebih terik daripada biasanya," ujarnya.
Reni menjelaskan, dampak El Nino kuat ini pernah terjadi di DIY pada tahun 2015, 2019, dan 2023. Saat itu, selain kemarau panjang yang menyebabkan kekeringan ekstrem, suhu udara yang tercatat di Stasiun Klimatologi DIY pun mencapai rekor tertinggi pada 37 derajat Celsius.
"Tahun ini kemungkinan besar bisa terjadi sampai 37 derajat Celsius juga," tuturnya.
Meski demikian, Reni mengatakan, kondisi ini tidak akan sampai menyebabkan gelombang panas (heat wave) seperti yang terjadi di sejumlah negara lain di iklim subtropis. Ini karena karakter geografis Indonesia sebagai negara kepulauan di garis ekuator.
"Lautan yang mengelilingi negara kita berperan sebagai penetral gelombang panas," ucapnya.
Di sisi lain, Reni menambahkan, kemarau panjang di DIY sudah menyebabkan sejumlah daerah mengalami kekeringan ekstrem atau tidak turun hujan selama lebih dari 60 hari. Daerah itu yakni Kecamatan Bantul, Jetis, Pajangan, dan Pundong di Kabupaten Bantul dan Kecamatan Rongkop di Kabupaten Gunungkidul.
Adapun mayoritas wilayah lainnya di DIY masuk kategori Hari Tanpa Hujan (HTH) sangat panjang, yakni 31-60 hari, atau siaga kekeringan. Selain Bantul dan Gunungkidul, wilayah kategori tersebut tersebar di sebagian Kabupaten Sleman, Kulon Progo, dan Kota Yogyakarta.
Wilayah yang dilanda kekeringan ekstrem ini pun berpotensi meluas mengingat kemarau baru akan memasuki puncaknya pada Agustus hingga November. Masyarakat diimbau untuk menghemat penggunaan air.
Apalagi, Reni menuturkan, meski kemarau diprediksi berakhir pada November, musim hujan diperkirakan baru terjadi pada Januari 2027 akibat pengaruh El Nino kuat. Ini mundur dari awal musim hujan normal di DIY yang biasanya terjadi pada Oktober-November.
Secara terpisah, Kepala Bidang Penanganan Darurat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY Tito Wicaksono memaparkan, sejumlah daerah sudah menetapkan status siaga darurat kekeringan, seperti Kabupaten Bantul dan Kabupaten Gunungkidul.
Bantul menetapkan status siaga darurat kekeringan pada 25 Juni 2026 hingga 25 September 2025. Adapun Gunungkidul menetapkan status siaga darurat kekeringan mulai 1 Juni 2026 hingga 31 Agustus 2026. BPBD setempat pun menyalurkan bantuan air bersih di sejumlah kecamatan terdampak.
Di Bantul, misalnya, total bantuan air yang disalurkan BPBD Bantul hingga 27 Juli 2026 sudah mencapai 312.000 liter atau sebanyak 62 tangki. Distribusinya di lima kecamatan yang menyasar penerima manfaat sebanyak total 650 keluarga yang terdiri dari 2.619 jiwa.
Jadi hawa panas yang dirasakan memang karena musim kemaraunya yang panjang sehingga radiasi matahari yang diterima cukup maksimal dan membuat suhu udara lebih terik daripada biasanya





