Nilai tukar rupiah ditutup melemah 0,26% ke level 18.009 per dolar AS pada perdagangan hari ini. Rupiah tertekan, antara lain imbas pengumuman mundurnya Perry Warjiyo sebagai Gubernur Bank Indonesi.
Mengutip data Bloomberg, kurs rupiah dibuka melemah 9 poin ke level 17.972 per dolar AS dan terus melemah hingga ditutup di level 18.009 per dolar AS.
Pelemahan rupiah terjadi di tengah menguatnya mayoritas mata uang Asia. Hanya won Korea Selatan yang turut melemah terhadap dolar AS mencapai 0,68%. Sedangkan yen Jepang menguat 0,17%, yuan Cina 0,08%, ringgit Malaysia 0,13%, baht Thaoland 0,41%, dan peso Filipina 0,26%.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah, antara lain dipengaruhi oleh sentimen domestik yakni mundurnya Perry Warjiyo. Selain itu, rupiah turut tertekan oleh potensi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
“Potensi kenaikan tetap terbatas karena sentimen pasar masih terikat pada narasi The Fed yang cenderung hawkish,” ujarnya, Senin (27/7).
Menurut CME FedWatch Tool, pasar sekarang melihat peluang sebesar 78 persen akan ada kenaikan suku bunga pada bulan September 2026. Adapun pada pertemuan 28-29 Juli 2026, The Fed diperkirakan akan mempertahankan suku bunga tidak berubah.
Sentimen lain berasal dari gangguan rantai pasok akibat perang AS dengan Iran dan Houthi Yaman dengan Arab Saudi yang membuat jumlah kapal pengangkut komoditas yang melintasi Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb yang melambat.




