Mendidik Anak di Era Ketidakpastian

detik.com
1 jam lalu
Cover Berita
Jakarta -

Dunia yang diwarisi anak-anak Indonesia hari ini bukan lagi dunia yang menjanjikan kepastian ke depan. Kecerdasan buatan (AI), otomatisasi, media sosial, dan ekonomi digital mengubah cara manusia belajar, bekerja, bahkan membangun relasi dengan sesamanya. Profesi yang hari ini menjanjikan dapat hilang dalam beberapa tahun. Keterampilan yang dipelajari di bangku sekolah dapat cepat usang. Ijazah yang diperoleh hari ini belum tentu sesuai dengan kebutuhan melamar kerja di tahun-tahun mendatang.

Dalam istilah sosiolog Zygmunt Bauman (2000), kita sedang hidup dalam era liquid modernity, sebuah masyarakat yang berubah lebih cepat daripada kemampuan manusia membangun kebiasaan dan kepastian.

Data menunjukkan bahwa tantangan pendidikan Indonesia memang tidak lagi semata-mata persoalan akses sekolah, melainkan kualitas pembelajaran dan pembentukan manusia. Pendidikan bagi peserta didik tidak cukup mengejar nilai tinggi.

Hasil PISA 2022 menunjukkan kemampuan literasi membaca, matematika, dan sains siswa Indonesia masih berada jauh di bawah rata-rata OECD. Hanya sekitar 25 persen siswa Indonesia mencapai tingkat kompetensi minimum dalam membaca dan 18 persen dalam matematika.

Pada saat yang sama, sebagian besar siswa Indonesia mengaku memiliki rasa keterikatan (sense of belonging) terhadap sekolah yang cukup tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa tantangan kita bukan hanya membuat anak datang ke sekolah, melainkan memastikan sekolah benar-benar menjadi ruang pembentukan manusia.

Bukan Hanya Bertahan

Dalam situasi seperti ini, muncul kecenderungan untuk menjadikan adaptasi sebagai tujuan utama pendidikan. Anak-anak didorong agar cepat menguasai teknologi baru, mampu menggunakan AI, berpikir fleksibel, dan siap menghadapi perubahan. Semua itu memang penting. Namun, jika pendidikan berhenti pada kemampuan beradaptasi, kita baru menyelesaikan separuh persoalan.

Bauman mengingatkan bahwa modernitas cair tidak hanya menghasilkan inovasi, tetapi juga budaya keterbuangan (culture of disposability). Yang dibuang bukan hanya barang, melainkan juga pekerjaan, relasi, bahkan manusia yang dianggap tidak lagi relevan. Logika konsumsi perlahan merembes ke dalam kehidupan sosial: yang lama diganti, yang lambat ditinggalkan, yang tidak produktif disisihkan.

Pertanyaan pendidikan kemudian berubah. Bukan lagi semata-mata, "Bagaimana anak mampu bertahan dalam perubahan?", melainkan "Bagaimana anak tetap menjadi manusia yang bertanggung jawab ketika segala sesuatu terus berubah?"

Di sinilah pemikiran Bauman bertemu dengan filsafat pendidikan Indonesia. Pemikiran Bauman senada dengan pemikiran Ki Hadjar Dewantara, Driyarkara, dan Mochtar Lubis.

Ki Hadjar Dewantara sejak awal menegaskan bahwa pendidikan adalah usaha "menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak agar mereka sebagai manusia dan anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya."

Pendidikan bukan sekadar mempersiapkan tenaga kerja, melainkan membentuk manusia. Dalam perspektif Ki Hadjar, kemampuan beradaptasi memang penting, tetapi harus selalu diarahkan oleh tujuan yang lebih luhur, yaitu pembentukan karakter dan kemanusiaan.

Gagasan itu diperdalam oleh Driyarkara. Filsuf Indonesia tersebut memandang pendidikan sebagai proses "memanusiakan manusia muda." Pendidikan bukan proses mengisi kepala dengan informasi, melainkan membantu seseorang bertumbuh menjadi pribadi yang mampu bertanggung jawab atas dirinya dan sesamanya. Dalam pandangan Driyarkara, manusia tidak pernah menjadi manusia sendirian; ia menjadi manusia melalui relasi, tanggung jawab, dan kehidupan bersama.

Pandangan serupa juga tampak dalam pemikiran Mochtar Lubis. Dalam pidato terkenalnya, Manusia Indonesia, ia mengkritik kecenderungan masyarakat yang mengagungkan keberhasilan lahiriah tetapi mengabaikan integritas. Kritik itu tetap relevan pada era digital. Bangsa ini tidak kekurangan anak-anak yang cerdas, tetapi masih membutuhkan lebih banyak warga yang jujur, berani, dan bertanggung jawab.

Membentuk Manusia Bertanggung Jawab

Dengan demikian, tantangan pendidikan Indonesia sesungguhnya bukan memilih antara karakter atau kompetensi, melainkan menyatukan keduanya. Anak-anak perlu menguasai AI, tetapi juga belajar menggunakan AI secara etis. Mereka perlu berpikir kreatif, tetapi juga mampu menghargai martabat manusia sebagaimana tersirat dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas). Mereka harus siap berpindah profesi beberapa kali sepanjang hidupnya, tetapi tidak berpindah-pindah nilai setiap kali keadaan berubah.

Menariknya, data PISA juga menunjukkan bahwa keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak di Indonesia relatif tetap terjaga, bahkan meningkat dibandingkan tahun 2018. Sekitar 43 persen siswa berada di sekolah yang kepala sekolahnya melaporkan bahwa setidaknya separuh orang tua secara aktif berdiskusi dengan guru mengenai perkembangan belajar anak atas inisiatif mereka sendiri. Temuan ini menunjukkan bahwa pembentukan karakter tidak mungkin dibebankan hanya kepada sekolah; keluarga tetap merupakan lingkungan pendidikan yang menentukan.

Karena itu, agenda pendidikan Indonesia ke depan tidak cukup hanya memperkuat literasi, numerasi, atau kecakapan digital. Pendidikan juga harus memperkuat literasi moral: kemampuan mengambil keputusan yang bertanggung jawab di tengah ketidakpastian.

Di era AI, ketika jawaban dapat diperoleh dalam hitungan detik, yang semakin langka bukanlah informasi, melainkan kebijaksanaan untuk menggunakan informasi demi kebaikan bersama. Kemajuan AI bukan untuk memalsukan laporan kerja supaya atasan senang.

Bauman mengajarkan bahwa dunia akan semakin cair. Kita mungkin tidak dapat mengembalikan kepastian yang pernah dimiliki generasi sebelumnya. Namun, kita masih dapat memilih nilai-nilai yang akan menjadi jangkar ketika segala sesuatu berubah: kejujuran, kesetiaan, dan tanggung jawab.

Mungkin di situlah tugas pendidikan Indonesia pada abad ke-21: bukan menjanjikan masa depan yang pasti, melainkan membentuk anak-anak yang mampu menghadapi ketidakpastian tanpa kehilangan tanggung jawabnya sebagai manusia. Sebab, ketika dunia menjadi semakin cair, justru tanggung jawab terhadap sesama menjadi fondasi yang menjaga agar perubahan tidak mengikis kemanusiaan.

Pormadi Simbolon. Pemerhati isu sosial dan pendidikan, Pembimbing Masyarakat (Pembimas) Katolik Kanwil Kemenag Provinsi Banten.




(rdp/imk)

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kematian Misterius Sutrimo: Tewas di Klinik Kecantikan Jaksel, Tim Inavis Polda Metro Olah TKP
• 21 jam lalukompas.tv
thumb
Dari PRSU Hingga Kursi Kepemimpinan: Kisah "Cinta Tukang Parkir'
• 1 jam lalumediaapakabar.com
thumb
Tragedi di Apartemen Kalibata: Dokter Magang Diduga Melompat dari Lantai 18
• 3 jam lalueranasional.com
thumb
Kronologi dan Penyebab Bentrokan di Menteng Jakpus hingga Tewaskan Satu Orang
• 6 jam lalukompas.tv
thumb
Ini Tarif Listrik PLN Semua Golongan Periode 27-31 Juli 2026
• 12 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.