BEKASI, KOMPAS.com – Belum genap sehari setelah pengemudi mobil pikap Mitsubishi Triton, Alfaruq (22), tewas tertabrak KA Gajayana, aktivitas di pelintasan sebidang Bulak Kapal, Kelurahan Aren Jaya, Kecamatan Bekasi Timur, Kota Bekasi, Jawa Barat, kembali berjalan seperti biasa, Senin (27/7/2026) sore.
Deretan sepeda motor dan mobil kembali mengular di kedua sisi rel.
Klakson kendaraan saling bersahutan, sementara para pengendara langsung berebut melintas begitu kereta lewat.
Di tengah kepadatan itu, beberapa penjaga pelintasan swadaya mengenakan rompi biru tampak sibuk mengatur arus lalu lintas.
Baca juga: Kronologi KA Gajayana Tabrak Mitsubishi Triton di Bulak Kapal Bekasi hingga Sopir Tewas
Dengan peluit yang terus ditiup dan sebatang bambu yang digunakan layaknya tongkat pengatur lalu lintas, mereka bergantian menghentikan dan mengarahkan kendaraan agar tidak memasuki rel saat kereta melintas.
Sejumlah petugas Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bekasi juga terlihat berada di lokasi untuk membantu mengurai kepadatan kendaraan.
Palang pintu berbahan besi yang dicat merah putih dan dihiasi ornamen warna-warni tetap berada dalam posisi terbuka.
Saat kereta melintas, tidak ada penutupan palang secara manual.
Baca juga: Mobil Mitsubishi Triton Tertabrak KA Gajayana di Bulak Kapal Bekasi, Pengemudi Tewas di Tempat
Seluruh proses pengamanan hanya mengandalkan aba-aba dari para penjaga yang berdiri di tengah jalan.
Berdasarkan pantauan Kompas.com di lokasi, tidak semua pengendara mematuhi arahan tersebut.
Sebagian masih berusaha mencari celah untuk melintas lebih dulu meski petugas telah meminta mereka berhenti.
Bahkan, sebuah sepeda motor sempat bersenggolan dengan mobil ketika keduanya sama-sama berebut melintas usai kereta lewat.
Baca juga: Menunggu Bantuan Pemerintah Pusat untuk Pembangunan Flyover Bulak Kapal Bekasi
Penjaga pelintasan yang berusaha melerai turut terserempet hingga terjatuh.
Insiden ini sempat menyebabkan kemacetan mengular hingga Jalan Ir H Juanda dan Jalan Pahlawan menuju Kabupaten Bekasi.
Alfian (21), salah seorang penjaga pelintasan swadaya, masih mengingat jelas detik-detik kecelakaan yang merenggut nyawa Alfaruq pada Minggu (26/7/2026).