BMKG mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak menguatnya El Nino yang memicu meluasnya musim kemarau di Indonesia.
IDXChannel - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak menguatnya El Nino yang memicu meluasnya musim kemarau di Indonesia. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko kekeringan, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), hingga angin kencang di sejumlah wilayah sampai awal Agustus 2026.
BMKG dalam laporan pemantauan Dasarian II Juli 2026 menyebutkan hasil pemantauan pada Dasarian II Juli 2026 menunjukkan bahwa musim kemarau terus meluas dan kondisi kering semakin mendominasi wilayah Indonesia.
Berdasarkan data tersebut, sebanyak 509 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 72,8 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau. Curah hujan kategori rendah tercatat mencakup 92,93 persen wilayah, sedangkan kategori menengah sebesar 6,63 persen dan kategori tinggi hanya 0,45 persen.
“Kondisi ini juga tercermin dari sifat hujan, di mana 89,97 persen wilayah didominasi kategori bawah normal. Hingga periode tersebut, sebanyak 509 Zona Musim atau sekitar 72,8 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau,” tulis BMKG dalam keterangannya, dikutip Selasa (28/7/2026).
BMKG juga mengungkapkan dampak musim kemarau mulai dirasakan di berbagai daerah. Dampak kondisi kering mulai terlihat dari adanya laporan kekeringan pada periode 24–27 Juli 2026 di Jawa Tengah serta kejadian kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Selatan.
Menurut BMKG, kondisi tersebut menunjukkan perlunya peningkatan kewaspadaan terhadap berkurangnya ketersediaan air, meluasnya titik panas, serta potensi kebakaran pada lahan yang mudah terbakar.
“Meski demikian, hujan lebat masih berpotensi terjadi secara lokal di sejumlah wilayah akibat pengaruh dinamika atmosfer. Di tengah dominasi musim kemarau, hujan lebat masih terjadi secara lokal di sejumlah wilayah,” tulis keterangan BMKG.
Pada periode 24–27 Juli 2026, hujan lebat hingga sangat lebat tercatat di Sumatera Utara dengan intensitas 128 mm per hari, Sumatera Barat 116 mm per hari, Kalimantan Utara 88 mm per hari, Papua 87 mm per hari, dan Aceh 65 mm per hari.
BMKG menjelaskan kondisi tersebut dipengaruhi aktivitas Gelombang Kelvin dan Gelombang Rossby Ekuatorial yang berdampak pada Sumatera bagian utara dan Sulawesi Tengah. Selain itu, Madden-Julian Oscillation (MJO) aktif di sebagian Sumatera bagian tengah hingga selatan. Sementara itu, Siklon Tropis Noul di Laut Filipina, sebelah utara Maluku Utara, turut meningkatkan suplai uap air dan pertumbuhan awan hujan, terutama di Kalimantan Utara.
BMKG juga mengingatkan adanya potensi angin kencang di sejumlah wilayah. Kondisi ini juga memicu peningkatan kecepatan angin permukaan hingga lebih dari 20 knot di sejumlah wilayah, sehingga potensi angin kencang, pohon tumbang, kerusakan bangunan ringan, dan gangguan aktivitas masyarakat juga perlu diwaspadai.
Menghadapi kondisi tersebut, BMKG mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah untuk meningkatkan langkah mitigasi. BMKG mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah untuk menghemat penggunaan air, tidak melakukan pembakaran lahan atau sampah secara sembarangan, serta segera melaporkan indikasi titik api, khususnya bagi wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan.
“Masyarakat di wilayah yang masih berpotensi mengalami hujan signifikan agar tetap waspada terhadap cuaca ekstrem, menghindari pohon, baliho, maupun bangunan rapuh saat terjadi angin kencang, serta terus memantau informasi cuaca dan peringatan dini resmi dari BMKG,” imbaunya. (Febrina Ratna Iskana)





