Jakarta, VIVA – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan peluang tercapainya kesepakatan dengan Iran masih terbuka. Meski demikian, dia menegaskan Washington siap kembali melakukan operasi militer apabila perundingan tidak membuahkan hasil.
"Mereka ingin bertemu dan kami sedang bertemu. Kita lihat saja nanti apa yang terjadi. Ada peluang kita bisa mencapai kesepakatan. Tanpa langkah yang kami ambil, mereka bahkan tidak akan mau berbicara dengan kami. Kami sedang berbicara dengan Iran saat ini. Pembicaraan kami berjalan lancar," kata Trump kepada wartawan, Selasa 28 Juli 2026.
Trump kembali menegaskan optimisme terhadap jalannya dialog dengan Teheran. Namun, dia mengingatkan bahwa Amerika Serikat tidak akan ragu mengambil langkah militer apabila proses negosiasi menemui jalan buntu.
"Jadi, kita lihat saja nanti apa yang akan terjadi. Kemungkinan besar akan ada perkembangan. Jika tidak, maka kami akan kembali melakukan apa yang kami lakukan dua hari lalu. Mereka tidak akan meminta pertemuan itu jika kinerja kami buruk. Satu-satunya alasan mereka ingin bertemu adalah karena kami telah memberikan tekanan yang sangat kuat kepada mereka," ujarnya tanpa menjelaskan lebih rinci.
Menanggapi pernyataan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy yang menyebut Rusia membagikan intelijen satelit kepada Iran, Trump mengatakan akan meminta penjelasan langsung kepada Presiden Rusia Vladimir Putin.
"Baiklah, kami akan segera mengetahuinya. Saya akan menanyakan hal itu kepada Putin. Kami akan mengetahuinya," ucap Trump.
Saat ditanya mengenai kesamaan pandangannya dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu terkait Iran, Trump menyebut hubungan keduanya sangat dekat meski masih terdapat beberapa perbedaan pandangan.
Trump dijadwalkan menerima Netanyahu di Gedung Putih pada Selasa. Seorang pejabat pemerintah AS telah mengonfirmasi agenda pertemuan tersebut kepada Anadolu.
Dalam pertemuan itu, kedua pemimpin akan membahas perkembangan konflik dengan Iran, kemajuan Kerangka Kerja Trilateral di Lebanon, serta upaya memperluas Perjanjian Abraham.
Selain itu, Trump juga akan menggelar pertemuan terpisah dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy di Gedung Putih untuk membahas proses perdamaian antara Rusia dan Ukraina yang masih berlangsung.





