Jakarta: Nilai tukar mata uang rupiah kembali berada di bawah tekanan terhadap mayoritas mata uang utama dunia pada perdagangan pagi ini. Penguatan Dolar Amerika Serikat (USD) menjadi salah satu faktor yang menekan pergerakan mata uang Garuda.
Berdasarkan pantauan data pasar finansial pada pukul 09.09 WIB, kurs mata uang paman sam tercatat menguat 0,49 persen atau naik 88,3 poin ke level Rp18.088,3 per USD.
Baca juga: Rupiah Melemah Dekati Rp18.000 per Dolar AS, Pasar Cermati Transisi Kepemimpinan Bank IndonesiaTekanan terhadap mata uang rupiah juga datang dari sejumlah mata uang Asia. Yuan Tiongkok menguat 0,14 persen ke posisi Rp2.673,17, sementara Ringgit Malaysia naik 0,14 persen menjadi Rp4.425,83.
Mata uang regional lainnya turut bergerak menguat terhadap Rupiah. Yen Jepang naik 0,12 persen ke level Rp110,44, disusul Dolar Singapura yang menguat 0,10 persen menjadi Rp14.000,27. Sementara Baht Thailand terkerek tipis 0,05 persen ke posisi Rp537,27.
Dari kawasan Eropa, Euro terhadap Rupiah bergerak relatif stabil di level Rp20.554,0. Adapun tekanan terhadap Rupiah sedikit berkurang setelah Won Korea Selatan melemah 0,06 persen ke posisi Rp12,30.
Di pasar global, Indeks Dolar AS (DXY) justru tercatat mengalami pelemahan tipis sebesar 0,05 persen ke level 101,337. Meski demikian, harga emas dunia tidak mampu mempertahankan penguatannya. Harga emas (XAU/USD) terkoreksi 0,74 persen atau turun 30,22 poin ke level USD4.046,58 per troy ounce.
Pergerakan harga emas tersebut menunjukkan adanya aksi ambil untung (profit taking) oleh investor setelah kenaikan harga sebelumnya. Pelaku pasar juga terlihat melakukan penyesuaian portofolio di tengah dinamika pasar global.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda





