BEKASI, KOMPAS.com – Jarum jam baru menunjukkan pukul 05.00 WIB ketika Yuni (46) memasuki dapur Rumah Makan Gratis Yayasan Damaris Pancasila Indonesia di Jalan Raya Pekayon, Kelurahan Jatirasa, Kecamatan Jatiasih, Kota Bekasi.
Bersama enam relawan lainnya, ia langsung membagi tugas. Ada yang mencuci beras, memotong sayuran, menyiapkan bumbu, hingga mengolah ayam yang akan menjadi lauk utama hari itu.
Semua pekerjaan harus rampung sebelum warga berdatangan menjelang waktu makan siang. Agar para penerima manfaat tidak bosan, menu yang disajikan juga berganti setiap hari.
Yuni mengatakan, seluruh menu telah disusun dalam daftar yang dibuat sebelumnya sehingga proses memasak menjadi lebih teratur.
Baca juga: Tangis Pemulung dan Anak Kelaparan, Saat Rumah Makan Gratis Bekasi Terus Berbagi Makanan
"Kalau saya sendiri mengaturnya, saya ada yang namanya daftar menu. Jadi misalkan untuk hari ini saya menunya apa, semuanya sudah saya catat dan saya tulis supaya lebih cepat," ujar Yuni saat ditemui Kompas.com, Senin (27/7/2026).
Dalam sehari, tim relawan menyiapkan sekitar 100 porsi makanan. Setiap paket terdiri atas nasi, lauk utama, sayuran, lauk pendamping, serta buah. Bahkan, jika bahan makanan masih tersedia, mereka kerap memasak lebih banyak agar bisa dibagikan kepada warga yang belum memperoleh kupon.
Di balik rutinitas itu, tersimpan kisah yang membuat Yuni bertahan menjadi relawan selama enam tahun.
Ia mengaku pernah menjadi penerima bantuan dari Yayasan Damaris Pancasila Indonesia saat pandemi Covid-19. Ketika itu, kondisi ekonomi keluarganya sedang sulit. Seorang teman kemudian mengajaknya bergabung sebagai relawan hingga akhirnya dipercaya menjadi juru masak.
Pengalaman sebagai penerima bantuan membuat Yuni memahami bagaimana rasanya berada dalam kesulitan. Karena itu, setiap kali memasak, ia selalu membayangkan makanan yang disiapkannya akan dinikmati oleh orang-orang yang sedang berjuang memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.
"Kami melihat banyak orang susah dan juga pernah mengalaminya. Jadi hati kami tergerak ketika melihat mereka menerima makanan," ujarnya.
Bagi Yuni, ada satu kebiasaan yang tidak pernah berubah sejak pertama kali menjadi relawan. Sebelum kompor dinyalakan dan makanan mulai dimasak, seluruh relawan terlebih dahulu berkumpul untuk berdoa.
Baca juga: Kisah Rumah Makan Gratis di Bekasi, Warga Rela Antre demi 100 Porsi Setiap Hari
Doa menjadi pembuka aktivitas mereka setiap hari. Sebab, makanan yang disiapkan bukan sekadar untuk mengenyangkan perut, tetapi juga menjadi wujud kepedulian terhadap sesama.
Selain memasak, para relawan juga mendokumentasikan seluruh kegiatan dalam bentuk foto dan video sebagai laporan kepada yayasan. Namun, beban pekerjaan itu tidak pernah membuat Yuni ingin berhenti.
Baginya, rasa lelah selalu terbayar ketika melihat puluhan warga datang dengan penuh harapan untuk menikmati makanan yang telah disiapkan sejak pagi.





