JAKARTA, DISWAY.ID - Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,1 mengguncang wilayah selatan Jepang pada Selasa, sehingga mendorong Badan Meteorologi Jepang (Japan Meteorological Agency/JMA) mengeluarkan peringatan dini tsunami untuk wilayah pesisir Laut Ariake dan Laut Yatsushiro.
Gempa tersebut terjadi di Pulau Kyushu, Prefektur Kumamoto, sesaat sebelum pukul 16.30 waktu setempat, menurut Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) dilansir dari ABC.
Berdasarkan data otoritas cuaca Jepang dan Amerika Serikat, pusat gempa berada pada kedalaman sekitar 10 kilometer di bawah Pulau Kyushu, pulau paling selatan dari empat pulau utama Jepang.
BACA JUGA:DMC Dompet Dhuafa Yogyakarta Latih 168 Warga SD Muhammadiyah Kalipakem I Hadapi Gempa Bumi
Getaran gempa berlangsung sekitar satu menit, menurut laporan NHK. Stasiun televisi tersebut juga menayangkan gambar yang memperlihatkan kepulan asap atau indikasi kebakaran di sekitar lokasi terdampak.
Bandara Kumamoto yang berada di Kota Mashiki menghentikan sementara seluruh penerbangan tidak lama setelah gempa terjadi, sebagaimana diumumkan melalui pemberitahuan di situs resminya.
Otoritas Regulasi Nuklir Jepang dalam pembaruan darurat menyatakan belum menemukan adanya keanehan di fasilitas nuklir yang berada di Ikata, Genkai, dan Kota Satsumasendai.
BACA JUGA:Pegadaian dan Universitas Andalas Perkuat Kesiapsiagaan Masyarakat Melalui Riset Mitigasi Gempa dan Tsunami
NHK melaporkan beberapa ribu rumah mengalami pemadaman listrik setelah gempa mengguncang.
Pemerintah juga mengimbau masyarakat agar menjauhi laut dan kawasan pesisir. Warga turut diperingatkan untuk mewaspadai potensi tanah longsor akibat gempa.
BACA JUGA:BAZNAS Salurkan 10 Ribu Liter Air Bersih dan Logistik untuk Masyarakat Terdampak Gempa Bumi di Sulteng
Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengatakan guncangan kuat dirasakan di Kota Uki dan Kota Hikawa. Ia memperingatkan adanya potensi tsunami setinggi sekitar 1 meter di wilayah pesisir Laut Ariake dan Laut Yatsushiro.
"Saya mengimbau warga di daerah yang mengalami guncangan kuat untuk tetap waspada terhadap kemungkinan terjadinya gempa susulan dengan kekuatan yang serupa," kata Takaichi dalam pernyataan yang diunggah dalam bahasa Jepang melalui media sosial.





