EtIndonesia.com Setelah militer Amerika Serikat (AS) menghentikan serangan udara terhadap Iran selama 48 jam berturut-turut, Iran pada 26 Juli mengeluarkan peringatan terbaru. Teheran mengancam, jika AS kembali melancarkan serangan, perang akan semakin meluas, bahkan dapat menyebar ke seluruh kawasan Timur Tengah.
Di sisi lain, sejumlah media mengungkap bahwa militer AS tengah mempertimbangkan sebuah operasi militer berisiko sangat tinggi. Jika perundingan antara Washington dan Teheran gagal, AS disebut kemungkinan akan mengerahkan pasukan khusus untuk menyusup langsung ke fasilitas nuklir Iran guna merebut atau menghancurkan uranium berkadar pengayaan tinggi.
Setelah serangan udara AS dihentikan, situasi di Timur Tengah untuk sementara menunjukkan tanda-tanda mereda. Namun, sikap Iran tetap keras.
Militer Iran pada 26 Juli menyatakan bahwa selama 48 jam terakhir AS tidak melancarkan serangan udara ke wilayah Iran. Oleh karena itu, Iran juga menghentikan aksi pembalasannya pada periode yang sama. Meski demikian, Teheran menegaskan bahwa hal tersebut tidak berarti konflik telah berakhir.
Juru bicara militer Iran mengancam, apabila AS kembali melakukan serangan udara, Iran akan meningkatkan respons militernya dan memperluas medan perang hingga mencakup seluruh kawasan Timur Tengah.
Di tengah meningkatnya ketegangan ini, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu diperkirakan akan bertolak ke Washington dalam beberapa hari mendatang untuk bertemu Presiden AS Donald Trump.
Menurut laporan media Israel, Netanyahu akan menyampaikan informasi intelijen terbaru yang menuduh Iran tengah mempercepat pembangunan kembali kekuatan militernya serta program nuklirnya. Ia berharap dapat meyakinkan Washington agar mengambil langkah yang lebih tegas terhadap Teheran.
Duta Besar AS untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Mike Waltz, mengatakan: “Seperti yang telah disampaikan Presiden Trump, kami telah siap sepenuhnya dan terus mengerahkan lebih banyak aset militer ke kawasan operasi. Namun, beliau masih ingin memberikan ruang bagi perundingan agar proses diplomatik dapat terus berjalan.”
Sejumlah media Amerika melaporkan bahwa Pentagon sedang menyusun rencana operasi militer yang sangat berisiko. Jika jalur diplomasi menemui jalan buntu, AS bukan hanya akan meningkatkan serangan udara dalam skala yang lebih besar, tetapi juga berpotensi mengirim pasukan operasi khusus untuk memasuki fasilitas nuklir Iran secara langsung guna merebut atau menghancurkan uranium berkadar pengayaan tinggi.
Seorang sumber mengatakan kepada New York Post bahwa operasi tersebut akan melibatkan ribuan pasukan darat untuk menyerbu fasilitas nuklir Iran. Setelah lokasi berhasil dikuasai, satu tim kecil pasukan operasi khusus akan bertugas mengamankan dan mengeluarkan material nuklir dari lokasi.
Media independen The High Side melaporkan bahwa tim operasi khusus tersebut kemungkinan akan terdiri atas personel SEAL Team Six Silver Squadron serta prajurit dari Batalion Ranger ke-2 Angkatan Darat AS, yang dikenal sebagai unit-unit elite militer Amerika.
Para pakar dari lembaga kajian strategis menilai operasi tersebut berpotensi menjadi salah satu misi militer paling rumit dalam sejarah.
Saat ini Iran dilaporkan telah memasang ranjau dan berbagai jebakan di sekitar fasilitas nuklir di Isfahan dan Fordo. Selain itu, kawasan Pickaxe Mountain di dekat Natanz juga disebut menjadi sasaran operasi berikutnya.
Para analis menilai, apabila ingin berhasil, militer AS tidak hanya harus menguasai koridor udara dalam waktu lama, tetapi juga kemungkinan harus melakukan peledakan dari darat terhadap fasilitas bawah tanah yang tidak dapat dihancurkan hanya melalui serangan udara. Karena itu, operasi tersebut dinilai menghadapi tantangan taktis yang sangat besar.
Laporan disusun oleh Yixin, NTD Television.





