FIB Unhas Bangun Fondasi Korean Studies, Prodi Bahasa dan Kebudayaan Korea Jadi Target

harianfajar
21 jam lalu
Cover Berita

HARIAN.FAJAR.CO.ID, MAKASSAR – Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Hasanuddin (Unhas) mematangkan pengembangan Korean Studies sebagai fondasi akademik menuju pembukaan Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Korea.

Langkah tersebut diawali melalui Workshop Penguatan Kemitraan FIB Unhas dan Institusi Korea yang berlangsung secara hibrida di Ruang Senat FIB Unhas, Selasa (28/7/2026). Kegiatan ini menghadirkan akademisi dari Indonesia dan Korea Selatan yang membahas diaspora Indonesia di Korea, perkembangan studi Hallyu, hingga peluang penguatan kerja sama akademik antarperguruan tinggi.

Empat materi utama yang disampaikan meliputi Diaspora Indonesia di Korea: Pekerja Migran dan Dinamika Kehidupan Sosial dan Religius oleh Ali Maksum (Universitas Muhammadiyah Yogyakarta), Diaspora Indonesia di Korea: Mahasiswa, Profesional, dan Komunitas Non-Pekerja Migran oleh Jin Oh Kim (Ph.D. Candidate, Jeonbuk National University), Studi Hallyu di Ruang Digital Indonesia: Media Sosial, Fandom, dan Praktik Komunikasi Budaya oleh Prof. Kyung Mook Lee (Jeonbuk National University), serta Studi Hallyu di Indonesia: Tren dan Perkembangan dalam Dunia Akademis oleh Prof. Hyung-Jun Kim (Kangwon National University).

Wakil Dekan I FIB Unhas, Dr. Ilham, mengatakan pihaknya saat ini tengah menjajaki kerja sama dengan berbagai institusi yang memiliki perhatian terhadap Korean Studies. Menurutnya, kajian mengenai Korea Selatan memiliki nilai strategis karena hubungan Indonesia dan Korea Selatan diperkirakan akan terus berkembang di berbagai bidang.

“Program rintisan Korean Studies saat ini sedang kami siapkan melalui penjajakan kerja sama dengan sejumlah institusi. Kajian Korea menjadi sangat penting karena hubungan Korea Selatan dan Indonesia akan terus berkembang di masa depan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, perhatian FIB Unhas terhadap kajian Korea telah dimulai jauh sebelum berbagai program internasional berkembang seperti saat ini. Sejak beberapa tahun lalu, FIB telah membuka mata kuliah yang berkaitan dengan Korea, bahkan pernah menerima mahasiswa asal Korea Selatan yang menempuh pendidikan doktor di Universitas Hasanuddin.

Menurutnya, pengembangan Korean Studies tidak hanya diarahkan pada pembukaan program studi, tetapi juga melalui pembentukan kelompok riset yang tematik dan kolaboratif sebagai fondasi akademik yang berkelanjutan.

Sementara itu, Dekan FIB Unhas, Prof. Andi Muhammad Akhmar, menilai pembukaan Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Korea merupakan langkah strategis karena didukung fondasi akademik dan jejaring kerja sama yang telah dibangun sejak lebih dari satu dekade lalu.

“Saya melihat ini sangat strategis. Dalam tiga tahun ke depan kami ingin melengkapi seluruh persiapan menuju Korean Studies yang lebih mapan, bahkan pembukaan Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Korea. Sebenarnya modal besar itu sudah kita bangun sejak 2012,” katanya.

Akhmar menjelaskan, kerja sama dengan berbagai mitra di Korea Selatan telah dimulai sejak 2012. Setahun kemudian, pada 2013, Universitas Hasanuddin mengirim dosen untuk mengajar Bahasa Indonesia di Korea Selatan. Pada tahun yang sama, Unhas juga mendirikan Korean Corner sebagai pusat informasi dan pembelajaran mengenai Korea.

Kolaborasi tersebut sempat terhenti akibat pandemi Covid-19 pada 2020. Namun, FIB Unhas kini berkomitmen menghidupkan kembali berbagai kemitraan akademik yang telah terjalin.

“Mimpi kami adalah menghadirkan Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Korea di Fakultas Ilmu Budaya. Minat masyarakat terhadap Korea sangat tinggi. Banyak orang belajar bahasa Korea melalui drama, film, maupun budaya populer. Produk-produk teknologi Korea juga sudah sangat akrab di Indonesia. Karena itu, ini menjadi momentum yang tepat untuk membuka jalan melalui program ini,” ujar Akhmar.

Selain pembukaan program studi, FIB Unhas juga akan memperkuat berbagai kajian tentang Korea melalui kolaborasi dengan peneliti, lembaga swadaya masyarakat (LSM), komunitas, serta berbagai institusi mitra. Sinergi tersebut diharapkan memperkaya riset, pendidikan, dan pengabdian kepada masyarakat di bidang Korean Studies.

Sesi Materi

Dalam workshop tersebut, Ali Maksum memaparkan dinamika kehidupan pekerja migran Indonesia di Korea Selatan. Menurutnya, para pekerja migran tidak hanya menghadapi tantangan pekerjaan, tetapi juga harus terus melakukan negosiasi identitas sebagai Muslim di tengah masyarakat Korea.

Ia menyebutkan, masih terdapat pandangan negatif terhadap Islam atau islamofobia di sebagian masyarakat. Meski demikian, para pekerja migran tetap dapat menjalankan ibadah dengan berbagai bentuk penyesuaian.

“Pertanyaan utamanya adalah bagaimana para pekerja migran mampu menyeimbangkan identitas mereka sebagai Muslim dengan hak dan kewajibannya sebagai pekerja. Dari interaksi dan komunikasi mereka dengan masyarakat Korea, baik di lingkungan kerja maupun di kehidupan sehari-hari, citra Indonesia juga ikut terbentuk,” ujar Ali.

Ia menambahkan, para pekerja migran terus bernegosiasi dengan perusahaan maupun otoritas setempat agar tetap memperoleh ruang menjalankan ibadah.

“Mereka bernegosiasi di tempat kerja dan dengan otoritas setempat untuk memperoleh ruang menjalankan ajaran agama serta ritual keagamaan. Yang terpenting, pelaksanaan ibadah tersebut tidak berdampak negatif terhadap kinerja maupun situasi pekerjaan mereka,” jelasnya.

Sementara itu, Jin Oh Kim memaparkan dinamika diaspora Indonesia non-pekerja migran di Korea Selatan. Berdasarkan data yang dipaparkannya, terdapat 7.248 warga Indonesia dari kelompok mahasiswa, profesional, dan keluarga, dengan sekitar 51,7 persen merupakan perempuan.

Kata dia, bahwa tantangan adaptasi yang paling sering dihadapi adalah kendala bahasa dan perbedaan budaya, termasuk kebiasaan minum bersama di lingkungan sosial maupun pekerjaan. Menurutnya, banyak diaspora yang berada dalam posisi identitas yang cair sehingga sulit dikategorikan hanya sebagai mahasiswa atau pekerja.

Dalam kesempatan yang sama, Prof. Kyung Mook Lee membahas perkembangan studi Hallyu di ruang digital Indonesia. Ia menjelaskan bahwa media sosial menjadi ruang penting untuk memahami dinamika opini publik terhadap budaya populer Korea melalui analisis percakapan digital.

Menurutnya, tagar (#) dapat dipandang sebagai “identitas digital” yang membantu memetakan berbagai bentuk dukungan maupun resistensi terhadap Hallyu. Ia juga menilai kajian Hallyu perlu bergeser dari sekadar melihat isu yang dibicarakan menuju analisis terhadap sasaran kebencian dan bentuk-bentuk resistensi yang muncul di ruang digital.

Sementara itu, Prof. Hyung-Jun Kim menjelaskan, fenomena anti-Hallyu di media sosial dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya persepsi bahwa sebagian fandom bersikap terlalu fanatik. Namun, menurutnya, karakter komunitas penggemar kini mulai berubah melalui praktik fan activism, yakni keterlibatan penggemar dalam berbagai kegiatan sosial dan kemanusiaan.

Pengelola Korean Corner Universitas Hasanuddin, Muhammad Syahrun Sjam, menambahkan bahwa interaksi masyarakat Indonesia dan Korea Selatan kini semakin intensif, termasuk melalui pernikahan lintas negara.

“Saya ingat sudah ada empat pernikahan antara warga Makassar dan pria asal Korea yang saya hadiri. Pekan lalu bahkan masih ada,” ujarnya.

Berdasarkan pengalamannya selama tujuh tahun tinggal di Korea Selatan, Syahrun menilai pemahaman masyarakat Korea terhadap umat Islam kini semakin baik. Para pekerja migran Indonesia juga umumnya mampu menyesuaikan diri agar tetap dapat menjalankan ibadah tanpa mengganggu pekerjaan.

“Misalnya, saat waktu salat mereka izin ke kamar mandi dan memanfaatkan waktu tersebut untuk beribadah. Kadang juga ada sudut-sudut tertentu yang dimanfaatkan oleh pekerja migran untuk salat,” tuturnya. (*/)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kronologi Wanita Melahirkan di Toilet Pasar Minggu, Bayi Dimasukkan ke Dalam Tas Ransel untuk Tutupi Persalinan
• 21 jam lalugrid.id
thumb
Apa Itu Fenomena Bediding? Ini Penjelasan BMKG soal Malam Lebih Dingin meski Siang Terik
• 4 jam lalukompas.com
thumb
UI Gandeng Yayasan Mochamad Thohir Perkuat Ekosistem Pembelajaran Modern
• 18 jam lalukompas.tv
thumb
Prabowo Lantik 1.204 Pamong Praja Muda IPDN 2026, Pimpin Pengucapan Ikrar
• 7 jam laludetik.com
thumb
Kebiasaan Masyarakat Norwegia yang Bikin Hidup Sehat dan Panjang Umur
• 5 jam lalubeautynesia.id
Berhasil disimpan.