Masyarakat di Prancis kini melihat ancaman baru berupa awan kebakaran raksasa yang menciptakan anginnya sendiri, bahkan memicu sambaran petir yang dapat menyulut titik api baru. Fenomena itu dikenal sebagai pyrocumulonimbus (PyroCb), atau lebih populer disebut awan api, yang menyebabkan perilaku api menjadi jauh lebih sulit diprediksi dan dikendalikan.
Ketika petugas pemadam kebakaran berjibaku melawan kobaran api di hutan Perancis barat daya, mereka tidak hanya berhadapan dengan nyala api yang melalap vegetasi. Di atas kepala mereka muncul ancaman lain yang jauh lebih sulit dikendalikan, yaitu awan raksasa yang lahir dari kobaran api itu sendiri.
Peningkatan suhu permukaan tanah di pusat kobaran api begitu ekstrem sehingga panas yang hebat melonjak ke atas membentuk kolom, lalu bertemu dengan massa udara yang lebih dingin di bagian atas. Pertemuan ini menciptakan pyrocumulonimbus atau awan api meskipun sayangnya awan ini tidak mengandung kelembapan.
"Awan api ini menciptakan sistem cuacanya sendiri, yang menyebabkan apa pun yang berada di jalurnya terbakar secara spontan," kata juru bicara Federasi Pemadam Kebakaran Nasional Perancis (FNSPF) Eric Brocardi, seperti dilaporkan pada Senin (27/7/2026).
Formasi semacam itu, juga kerap disebut sebagai awan cumulonimbus flammagenitus, biasanya muncul saat letusan gunung berapi, atau, seperti dalam kasus ini, ketika kebakaran hutan memanaskan udara di dekat permukaan tanah, sehingga udara tersebut naik dengan cepat.
Udara yang naik itu kemudian mendingin dan membentuk awan, atau awan api: sebuah massa turbulen yang mampu menciptakan anginnya sendiri yang justru memperparah kebakaran. Jika ukurannya menjadi sangat besar, awan ini bahkan bisa memicu sambaran petir.
Selama ini, awan tersebut umumnya hanya terlihat di wilayah yang rawan kebakaran hutan raksasa seperti Australia dan Amerika Utara. National Aeronautics and Space Administration (NASA) Amerika Serikat menjulukinya sebagai "naga awan penyembur api."
Eric Brocardi, menjelaskan, peningkatan suhu permukaan tanah di pusat kobaran api begitu ekstrem sehingga panas yang hebat melonjak ke atas membentuk kolom, lalu bertemu dengan massa udara yang lebih dingin di bagian atas. Pertemuan ini menciptakan pyrocumulonimbus atau PyroCb.
Api menciptakan awan, awan menghasilkan angin dan petir, lalu angin dan petir memperbesar kebakaran.
"Petir terbentuk di dalam awan tersebut, menyambar bara api di permukaan tanah dan semakin mengobarkan api. Fenomena ini menghasilkan suara gemuruh yang rendah. Meskipun jenis kebakaran seperti ini sering terjadi di Kanada dan Australia, kejadian ini belum pernah terjadi sebelumnya di Perancis," kata dia.
Fenomena ini memang baru menjadi perhatian di Perancis. Namun negara-negara seperti Australia, yang telah lebih dahulu menghadapi ancaman tersebut. Kini, ketika gelombang panas semakin sering terjadi akibat perubahan iklim, para ilmuwan memperingatkan bahwa kebakaran ekstrem yang mampu membentuk awan api akan semakin sering muncul.
Peneliti kebakaran hutan Prancis, Jean-Baptiste Filippi, kepada AFP, menjelaskan bahwa meningkatnya kemunculan awan api merupakan salah satu konsekuensi perubahan iklim. Australia, sebelumnya paling sering mendokumentasikan munculnya pyrocumulonimbus saat kebakaran hutan melanda. Namun, dengan kejadian di Perancis kali ini, menunjukkan bahwa fenomena serupa melanda semakin luas.
The Bureau of Meteorology (BoM) Australia, dalam laman resminya menjelaskan bagaimana fenomen awan api ini terbentuk. Dalam kondisi normal, udara panas akan naik ke atmosfer. Namun ketika kebakaran berlangsung sangat luas dan melepaskan energi panas yang luar biasa besar, kolom udara panas tersebut membawa asap, jelaga, uap air, dan partikel hingga beberapa kilometer ke langit.
Awalnya terbentuk pyrocumulus, awan konvektif yang lahir akibat panas kebakaran. Jika energi panas terus meningkat dan atmosfer cukup labil, awan itu dapat berkembang menjadi pyrocumulonimbus, yakni awan badai yang memiliki karakteristik serupa dengan awan penyebab hujan lebat dan petir.
Masalahnya, awan ini justru memperparah kebakaran. Arus udara naik (updraft) dapat melampaui 150 kilometer per jam sehingga mengangkat bara api ke lokasi yang jauh dari pusat kebakaran. Bara tersebut kemudian jatuh dan memicu titik api baru beberapa kilometer dari lokasi semula.
Pada saat yang sama, arus udara turun (downdraft) menghasilkan embusan angin yang sangat kuat dan berubah-ubah. Angin inilah yang membuat api tiba-tiba berbelok arah, melompati sekat bakar, atau mengepung petugas pemadam tanpa peringatan.
Tidak berhenti di situ, gesekan partikel di dalam awan dapat menghasilkan muatan listrik yang memicu petir. Ironisnya, hujan yang terbentuk sering kali menguap sebelum mencapai permukaan tanah karena udara di bawahnya sangat panas. Yang tersisa justru petir yang dapat memantik kebakaran baru.
Dengan kata lain, api menciptakan awan, awan menghasilkan angin dan petir, lalu angin dan petir memperbesar kebakaran. Terbentuklah lingkaran umpan balik yang membuat kebakaran semakin sulit dikendalikan.
Menurut Filippi, gelombang panas yang lebih sering dan lebih lama membuat vegetasi kehilangan kelembapan. Begitu kebakaran terjadi, energi yang dilepaskan jauh lebih besar dibandingkan beberapa dekade lalu. Kondisi inilah yang kini mulai dialami Perancis, yang sebelumnya hampir tidak pernah mengenal fenomena PyroCb.
Artinya, perubahan iklim tidak hanya meningkatkan peluang terjadinya kebakaran hutan, tetapi juga mengubah perilaku kebakaran menjadi semakin ekstrem.
Dengan deretan kebakaran hutan hebat yang pernah melanda, Indonesia hampir pasti pernah mengalami peristiwa yang memenuhi karakteristik pyrocumulonimbus (pyroCb), meskipun fenomena ini belum terdokumentasi sebaik dan sesering di Australia.
Selain itu, Indonesia memiliki karakteristik kebakaran hutan dan lahan yang berbeda dengan Australia. Jika Australia didominasi kebakaran hutan eukaliptus yang menghasilkan pelepasan panas sangat besar dalam waktu singkat, sebagian besar kebakaran besar di Indonesia justru terjadi di lahan gambut.
Api gambut cenderung membara perlahan dan dapat bertahan selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan, menghasilkan asap dalam jumlah sangat besar. Namun, pelepasan energi panas per satuan luas umumnya lebih rendah dibandingkan kebakaran hutan eukaliptus di Australia. Karena itu, kebakaran di Indonesia lebih sering membentuk awan pyrocumulus, sedangkan pembentukan pyrocumulonimbus yang mampu memicu badai petir relatif lebih jarang.
Meski demikian, peluang terbentuknya pyroCb tetap ada ketika kebakaran gambut dan hutan berlangsung bersamaan dalam kondisi cuaca yang sangat ekstrem, terutama saat El Niño kuat. Kombinasi kekeringan berkepanjangan, luasnya area yang terbakar, dan besarnya energi panas yang dilepaskan dapat memicu konveksi sangat kuat hingga membentuk awan badai yang dipicu oleh api.
Musim kebakaran tahun 2015 menjadi contoh paling nyata. Peristiwa yang dipicu El Niño kuat itu merupakan salah satu bencana kebakaran terbesar dalam sejarah Indonesia. Laporan NASA pada tahun itu mencatat puluhan ribu titik api di Sumatera dan Kalimantan, dengan konsentrasi karbon monoksida tertinggi yang pernah direkam instrumen Measurements of Pollution in the Troposphere (MOPITT).
Pengamatan satelit juga menunjukkan kolom asap menjulang hingga lapisan troposfer atas, sementara sebagian polutan bahkan terangkat ke stratosfer. Penelitian lanjutan menemukan bahwa asap dari kebakaran tersebut bertahan lama di atmosfer tropis dan mencapai ketinggian yang jauh lebih besar dibandingkan kebakaran biasa.
Indikasi terjadinya konveksi yang dipicu kebakaran semakin menguat dari berbagai pengamatan satelit. Laporan Mijeong Park dari dari National Center for Atmospheric Research, AS dan tim di JGR Atmospheres tahun 2021 melaporkan bahwa kolom asap kebakaran Indonesia pada 2015 mencapai ketinggian sekitar 14–17 kilometer, mendekati bahkan pada beberapa kejadian menembus tropopause tropis.
Ketinggian seperti ini sulit dijelaskan hanya oleh proses konveksi atmosfer biasa, sehingga para peneliti menilai kebakaran tersebut telah menghasilkan fire-induced deep convection, yakni konveksi atmosfer yang dipicu oleh energi panas kebakaran. Walaupun tidak semua peristiwa secara eksplisit diklasifikasikan sebagai pyrocumulonimbus, karakteristiknya menunjukkan bahwa kebakaran ekstrem di Indonesia mampu menciptakan dinamika atmosfer yang sangat mirip dengan fenomena pyroCb yang selama ini lebih banyak dilaporkan di Australia.
Kita mesti mengantisipasi fenomena awan api yang bisa jadi tantangan ke depan, seiring dengan perubahan iklim, yang meningkatkan risiko kejadiannya, seperti yang kini dialami Perancis. Selama ini perhatian terhadap kebakaran hutan lebih banyak tertuju pada jumlah titik panas, luas area terbakar, atau kabut asap yang mengganggu kesehatan. Padahal kebakaran ekstrem juga dapat mengubah dinamika atmosfer sehingga perilaku api menjadi jauh lebih sulit diprediksi.
Pemantauan satelit semestinya tidak hanya digunakan untuk mendeteksi titik api, tetapi juga untuk mengamati pertumbuhan kolom konveksi dan awan pyrocumulus sebagai indikator meningkatnya intensitas kebakaran. Informasi ini penting untuk melindungi keselamatan petugas pemadam sekaligus memperkirakan perubahan perilaku api.
Namun pelajaran yang paling mendasar tetap sama, mencegah jauh lebih efektif daripada memadamkan.





