JAKARTA, KOMPAS.TV - Direktur Eksekutif Amnesty Internasional Indonesia Usman Hamid menilai kejahatan jalanan terjadi disebabkan karena banyak faktor yang kompleks.
Selain problem sosial seperti pengangguran atau ketimpangan, kata Usman, faktor lainnya yang membuat maraknya kejahatan jalanan karena minimnya sarana atau fasilitas umum.
Demikian Usman menyampaikan hal itu merespons adanya sayembara tangkap begal yang digelar oleh Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
“Saya kira sudah banyak diuji di berbagai negara, hasilnya justru kekerasan terus terjadi. Karena kekerasan, terutama kekerasan jalanan, atau kejahatan jalanan itu disebabkan oleh faktor-faktor yang kompleks,” katanya dalam dialog Sapa Indonesia Malam, Kompas TV, Selasa (28/7/2026).
Baca Juga: Soal Sayembara Tangkap Begal KDM, Eks Kapolda Jabar Ingatkan Potensi Pelaku Jadi Lebih Nekad
“Bisa bisa saja misalnya problem pengangguran atau problem sosial ekonomi lainnya, ketimpangan, atau memang problem lemahnya fasilitas umum, fasilitas transportasi.”
Ia kemudian membandingkan Provinsi Jawa Barat dengan Provinsi DKI Jakarta. Usman menjelaskan, dulu angkutan umum yang tidak difasilitasi dengan baik di DKI Jakarta menimbulkan risiko kejahatan seperti ditodong atau dijambret.
“Saya dulu kalau naik Kopaja atau naik metro mini yang tidak misalnya difasilitasi secara baik, itu bisa menimbulkan resiko untuk ditodong di jalan, atau dijambret di jalan,” ujarnya.
“Tapi dengan moda transportasi yang lebih baik, misalnya Transjakarta, maka seorang pelaku yang masuk ke wilayah katakanlah transportasi, itu tidak mudah lagi.”
Oleh sebab itu, ia berpendapat, membenahi sarana transportasi umum di Jawa Barat lebh diperlukan untuk mencegah kejahatan jalanan, ketimbang menggelar sayembara menangkap begal.
Penulis : Kurniawan Eka Mulyana Editor : Tito-Dirhantoro
Sumber : Kompas TV
- amnesty international indonesia
- usman hamid
- sayembara tangkap begal
- dedi mulyadi
- gubernur jawa barat





